Dark/Light Mode

Buka-bukaan Atau Harmoni?

Selasa, 21 Juli 2026 06:12 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Mana yang sebaiknya dipilih: menjaga harmoni antar-lembaga atau membiarkan mereka saling membuka dugaan penyimpangan? Pertanyaannya sederhana. Jawabannya tidak.

Ada yang berpendapat, antar-lembaga sebaiknya saling membuka dugaan penyimpangan. Semakin terbuka, semakin kecil ruang bagi korupsi untuk bersembunyi. Mahfud MD termasuk yang mendukung pandangan ini.

Sebaliknya, ada yang menginginkan semua diselesaikan secara tertutup. Mereka khawatir kegaduhan akan mengganggu stabilitas dan menggerus kepercayaan publik.

Kedua pandangan itu dapat dipahami. Stabilitas memang penting. Tidak ada pemerintahan yang ingin lembaga-lembaganya sibuk saling serang. Energi bisa habis untuk menjawab tuduhan, sementara pekerjaan utama dan lebih penting terabaikan.

Baca juga : Mencari “Orang-orang Nekat”

Namun, stabilitas tidak boleh dibangun dengan menutup kebenaran. Ketenangan semacam itu hanya bersifat sementara. Semu. Ketika masyarakat merasa ada sesuatu yang disembunyikan, kepercayaan publik akan luntur. Harga yang sangat mahal.

Sebaliknya, membiarkan semua pihak saling mengincar dan melempar tuduhan tanpa pembuktian, juga bukan solusi. Tuduhan mudah dibuat. Yang sulit adalah pembuktiannya.

Karena itu, pilihan yang sesungguhnya bukan antara harmoni atau buka­-bukaan. Yang harus diutamakan adalah supremasi hukum.

Kalau ada dugaan korupsi, periksa. Jika ada penyalahgunaan wewenang, usut. Jangan melihat siapa pelakunya atau dari lembaga mana dia berasal. Yang harus dilihat adalah fakta dan bukti. Hukum akan kehilangan martabatnya ketika berhenti pada identitas pelaku, bukan pada perbuatannya.

Baca juga : Empat Penanda “Bersih-bersih”

Kekuatan sebuah lembaga tidak dibangun oleh citra yang selalu tampak bersih. Karena, tidak ada institusi yang sepenuhnya bebas dari penyimpangan.

Integritas dan kekuatan justru dibangun dari keberanian membersihkan diri dan kesediaan tunduk pada hukum. Harus dipastikan bahwa aturan berlaku bagi semua. Tidak pandang bulu.

Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu berhati­hati. Tidak setiap dokumen yang bocor adalah kebenaran. Dan, tidak setiap tuduhan merupakan fakta. Dalam negara hukum, putusan lahir dari pembuktian, bukan dari persepsi atau viralitas.

Sesungguhnya, rakyat tidak menunggu siapa yang menang dalam perselisihan antar­lembaga. Rakyat tidak terlalu peduli siapa pemenangnya. Ini bukan Piala Dunia yang kemarin dijuarai Spanyol. Rakyat hanya ingin hukum dan keadilan bekerja sebagaimana mestinya. Di lembaga mana pun. Kapan pun. Sesederhana itu.

Baca juga : Terpesona “Rompi”

Kita yakin, negara menjadi kuat bukan karena semua pintu ditutup rapat. Bukan pula karena semua orang bebas menuduh tanpa batas. Negara menjadi kuat ketika pintu menuju kebenaran dan keadilan tetap terbuka, tetapi yang diizinkan masuk hanyalah fakta. Bukan yang lain.

Dari situlah lahir harmoni yang sejati: harmoni yang dibangun di atas keberanian menegakkan kebenaran tanpa tebang­pilih. Bukan karena saling menutupi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.