Dark/Light Mode

Sektor Jasa Keuangan Agustus Tetap Stabil, Kredit Tumbuh 13,58 Persen

Senin, 7 September 2026 20:39 WIB
Foto: OJK
Foto: OJK

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan (SJK) tetap stabil pada Agustus 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, stabilitas tersebut didukung kondisi perekonomian domestik yang masih cukup kuat, meskipun pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

"Di tengah perkembangan perekonomian global dan domestik, sektor jasa keuangan tetap stabil," kata Friderica dalam pembacaan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK secara virtual, Senin (7/9/2026).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan (yoy), melambat dari 5,61 persen pada triwulan I-2026. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.

Sementara itu, inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen yoy, sedangkan aktivitas manufaktur berada di zona kontraksi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 49,8.

Dari sisi eksternal, ketahanan perekonomian Indonesia mengalami moderasi seiring berlanjutnya defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 dan meningkatnya defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2026 menjadi 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Friderica yang akrab disapa Kiki mengatakan, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi seiring berlanjutnya konflik di Iran dan belum dibukanya kembali Selat Hormuz.

Baca juga : Luncurkan Layanan BOSS, CIMB Niaga Incar Pertumbuhan Kredit UKM 7-8 Persen

"Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi," ujarnya.

Tekanan inflasi global juga diperberat fenomena El Nino yang berkepanjangan dan berdampak terhadap kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal panen dan kenaikan harga pangan global.

Di tengah kondisi tersebut, momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi, tercermin dari perlambatan pertumbuhan ekonomi mayoritas negara pada triwulan II-2026.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi berada di bawah ekspektasi, disertai moderasi pasar tenaga kerja dan inflasi yang masih tinggi meskipun menunjukkan tren penurunan. Sementara di China, pertumbuhan PDB triwulan II-2026 melambat menjadi 4,3 persen yoy.

Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan yang antara lain didorong meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan teknologi hyperscaler di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif.

"Aliran keluar dana nonresiden di pasar keuangan global juga masih terjadi, khususnya pada beberapa negara emerging markets," kata Kiki.

Pasar Modal

Baca juga : BNI Catat Fundamental Kokoh di Bawah Danantara Ditopang Kredit dan Kualitas Aset

Di tengah dinamika global tersebut, pasar saham domestik menunjukkan penguatan sepanjang Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.525,48 atau meningkat 4,64 persen secara bulanan (mtm), meskipun masih terkoreksi 24,53 persen secara year-to-date (ytd).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, ketahanan dan likuiditas pasar modal domestik secara umum masih terjaga.

Aliran modal investor asing ke pasar saham domestik juga berlanjut pada Agustus 2026 dengan posisi beli bersih (net buy) sebesar Rp1,19 triliun.

Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread pasar saham domestik menyempit menjadi 1,17 persen dari 1,33 persen pada Juli 2026. Penyempitan tersebut sejalan dengan pemulihan pergerakan pasar saham pada periode laporan.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar saham meningkat menjadi Rp15,86 triliun selama Agustus 2026.

Kredit Perbankan

Intermediasi perbankan juga terus menunjukkan penguatan dengan laju pertumbuhan yang semakin solid. Pertumbuhan kredit pada Juli 2026 tercatat 13,58 persen yoy dengan total penyaluran mencapai Rp9.135 triliun.

Baca juga : OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil Di Tengah Konflik Timur Tengah

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami akselerasi dengan pertumbuhan 11,21 persen yoy menjadi Rp10.336 triliun.

Pertumbuhan DPK terutama berasal dari deposito yang meningkat 13,13 persen yoy, diikuti giro 11,81 persen yoy dan tabungan 8,37 persen yoy.

Likuiditas perbankan juga dinilai berada pada level memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 102,45 persen dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 23,10 persen.

Kedua rasio tersebut masih berada di atas ambang batas masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) perbankan berada pada level 187,5 persen.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

mpo slot slot gacor harum100 slot gacor slot gacor