Dark/Light Mode

Penyebab Pertumbuhan Kredit Cuma Single Digit

Likuditas Bank Melimpah, Tapi Pengusaha Wait & See

Sabtu, 21 Februari 2026 06:35 WIB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi (kanan) saat menerima cendera mata dari Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi usai menghadiri acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026). (Foto: Dok. BRI)
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi (kanan) saat menerima cendera mata dari Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi usai menghadiri acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026). (Foto: Dok. BRI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri perbankan nasional masih memiliki likuiditas dan permodalan yang kuat untuk mendukung ekspansi dunia usaha. Pertumbuhan kredit 2025 hanya single digit terjadi karena melemahnya permintaan kredit.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) tahun 2025, dari sisi likuiditas, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) menguat hingga 11,4 persen year on year (yoy), dengan rasio Loanto-Deposit Ratio (LDR) yang terjaga di kisaran 84 persen yoy. 

Kemudian, permodalan industri juga tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 26 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan minimum regulator. 

Berkaca pada data tersebut, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Hery Gunardi menegaskan, secara fundamental, industri perbankan memiliki ruang yang memadai untuk menopang pertumbuhan kredit secara prudent dan berkelanjutan. 

Baca juga : Ribuan Warga Palestina Daftar Jadi Polisi Di Gaza

“Namun, pertumbuhan kredit secara tahunan hingga Desember 2025 masih berada pada level single digit,” kata Hery dalam Economic Outlook 2026 di Jakarta, yang dikutip Jumat (20/2/2026). 

Masih mengutip data BI, salah satu faktor terjadinya perlambatan kredit saat ini adalah dipengaruhi faktor permintaan (demand). 

Hal ini diamini Hery. Menurutnya, akselerasi penyaluran kredit saat ini menghadapi tantangan. Terutama dari sisi demand, seiring sikap wait and see dunia usaha, serta daya beli yang belum sepenuhnya pulih di seluruh segmen. 

BI mencatat, permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen. Terutama pada kredit konsumsi yang turun dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen. Serta segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang semula 78,4 persen menjadi 58,8 persen. Sedangkan, undisbursed loan pun meningkat secara rata-rata menjadi 10,22 persen. 

Baca juga : DKI Gelar Mudik Gratis, Lusa Buka Pendaftaran

“Artinya, fasilitas kredit yang telah disetujui oleh bank serta likuiditas yang tersedia sebenarnya masih memadai, namun realisasi penarikannya yang tertahan,” jelas mantan bos BSI ini. 

Kondisi tersebut mencerminkan sikap kehati-hatian dari dunia usaha maupun rumah tangga, sebagai nasabah individu. Artinya, tantangannya bukan pada supply dana, melainkan pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan. 

“Yang dibutuhkan bukan sekedar likuiditas tambahan, tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan,” jelas Hery. 

Sementara, rasio kredit bermasalah alias Non Performing Loan (NPL) pada UMKM mulai meningkat sejak Desember 2024, dan bertahan di level yang lebih tinggi. 

Baca juga : Davina Karamoy, Sapa Ardhito Pake Lirik Lagu Romantis

Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih. Kombinasi pertumbuhan yang melemah dan risiko kredit yang naik, menuntut pendekatan yang lebih selektif berbasis mitigasi risiko. 

Hery menyoroti, pelemahan pertumbuhan kredit tidak terlepas dari perlambatan tiga sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), yakni manufaktur, perdagangan, dan pertanian. 

Ketiga sektor ini tidak hanya memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, tetapi juga menjadi penyerap tenaga kerja dalam skala luas. 

“Sehingga setiap perlambatan langsung berdampak pada aktivitas usaha dan kebutuhan pembiayaan,” katanya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.