Dark/Light Mode

Rokok Terbukti Berbahaya

Pemerintah Diminta Perhatikan Kajian Ilmiah Produk Tembakau Alternatif

Senin, 13 April 2020 16:13 WIB
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR, Ariyo Bimmo. (Ist)
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR, Ariyo Bimmo. (Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR, Ariyo Bimmo memastikan bahwa berbagai kajian ilmiah sudah menunjukkan produk tembakau alternatif memiliki risiko lebih rendah dibandingkan dengan rokok biasa.

Bahkan dalam beberapa penelitian disimpulkan bahwa kandungan rokok itu berbahaya. "Prevalensi merokok di Indonesia masih tinggi meski berbagai upaya pengendalian tembakau sudah dilakukan oleh pemerintah," kata Ariyo Bimmo kepada wartawan.

Banyak pihak meminta pemerintah agar tidak mengabaikan hasil kajian ilmiah atas produk tembakau alternatif. Dia berharap, pemerintah bisa mengurangi prevalensi merokok di Indonesia.

Caranya dengan menjadikan produk tembakau alternatif sebagai pilihan untuk mengalihkan perokok. Pasalnya, banyak perokok yang tidak bisa berhenti dari kebiasaan merokok sehingga mereka perlu diberikan opsi untuk beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko.

Padahal kata dia, sejumlah kajian baik di dalam dan luar negeri membuktikan efektivitas produk tersebut dalam mengurangi jumlah perokok.

Baca juga : MPR Minta Pemerintah Segera Salurkan Bantuan ke Rakyat

“Oleh karena itu, kami memohon pemerintah terbuka dengan hasil kajian ilmiah produk tembakau alternatif. Adanya landasan kajian ilmiah bisa jadi masukan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang mempertimbangkan produk tembakau alternatif sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan rokok di Indonesia yang sudah akut ini,” kata Bimmo.

Hasil kajian ilmiah dari UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency, menyimpulkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan menghasilkan uap yang mengandung zat kimia berbahaya lebih rendah sebesar 50-90 persen jika dibandingkan dengan asap rokok.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan Institut Federal Jerman untuk Penilaian Risiko (German Federal Institute for Risk Assessment) pada 2018 lalu.

Hasil riset itu menyatakan produk tembakau yang dipanaskan memiliki tingkat toksisitas (tingkat merusak suatu sel) yang lebih rendah hingga 80 sampai 90 persen daripada rokok.

Menurut Bimmo, pemerintah juga dapat mendorong kajian ilmiah lokal dengan menggandeng para ilmuwan dan akademisi di bidang yang terkait. Dengan begitu, hasilnya akan lebih komprehensif sehingga memperkuat kajian-kajian sebelumnya.

Baca juga : Tok...Tok...Pemerintah Resmi Buka Pendaftaran Kartu Prakerja

“Hasil kajian ilmiah tersebut nantinya juga dapat menjadi landasan dalam pembuatan regulasi yang khusus mengatur tentang produk tembakau alternatif. Dengan adanya regulasi khusus, kami optimis akan mendorong perokok dewasa untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko ini,” ujar dia.

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekaligus akademisi dari National University of Singapore, Tikki Pangestu, sebelumnya mengatakan penggunaan bukti ilmiah dalam penyusunan kebijakan kesehatan belum menjadi pertimbangan utama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Kajian ilmiah seringkali dikalahkan oleh opini dan nilai-nilai subjektif lainnya. “Bahkan ideologi mengalahkan fakta, kebenaran, dan bukti ilmiah,” kata dia belum lama ini.

Tikki menambahkan kondisi tersebut terjadi karena tiga alasan. Pertama kurangnya bukti ilmiah yang mendalam dan relevan. Jika ada, jumlahnya terbatas, kurang komprehensif, dan tidak sesuai dengan kebutuhan pembuat kebijakan.

Kedua, keterbatasan literasi ilmiah di kalangan para pembuat kebijakan. Terakhir, bukti ilmiah harus bersaing dengan nilai-nilai lainnya seperti tekanan politik dan keterbatasan sumber daya.

Baca juga : Perbankan Cs Proses Restrukturisasi Kredit Terdampak Corona

“Kendati penting membedakan pendapat dan fakta, namun yang lebih penting adalah memastikan fakta dipakai untuk membentuk kebijakan yang memperbaiki, bukan hanya kualitas kesehatan, tetapi juga kesetaraan kesehatan, terutama di negara berkembang.

Pada akhirnya, semua ini bermuara pada seberapa besar kita menilai pentingnya sebuah penelitian ilmiah,” pungkas Tikki. [JAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.