Dark/Light Mode

BPJS Kesehatan Ubah Layanan Jantung Berbasis Outcome

Kamis, 17 September 2026 20:00 WIB
Media gathering BPJS Kesehatan membahas transformasi layanan jantung berbasis outcome dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di Cimahi, Rabu (16/9/2026).
Media gathering BPJS Kesehatan membahas transformasi layanan jantung berbasis outcome dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di Cimahi, Rabu (16/9/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mendorong transformasi layanan penyakit jantung dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan Value-Based Health Care.

Pendekatan ini menempatkan hasil kesehatan (health outcomes) dan total biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai dasar untuk menciptakan manfaat kesehatan yang optimal bagi peserta.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan transformasi layanan diperlukan untuk menjawab tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan, sekaligus memastikan pembiayaan JKN memberikan hasil kesehatan yang lebih baik bagi peserta.

"Tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Dari data BPJS Kesehatan, total biaya pelayanan kesehatan Program JKN pada 2025 mencapai Rp191,3 triliun, dengan sekitar 87,1 persen realisasi pembiayaan berasal dari pelayanan di rumah sakit," kata Pujo dalam media gathering BPJS Kesehatan di Cimahi, Rabu (16/9).

Menurutnya, penyakit jantung menjadi salah satu perhatian dalam Program JKN karena tingginya utilisasi layanan dan biaya yang dibutuhkan.

Sepanjang 2025, penyakit jantung yang dijamin Program JKN tercatat lebih dari 29,7 juta kasus dengan pembiayaan sekitar Rp17,35 triliun.

"Tingginya kebutuhan pelayanan jantung dalam ekosistem JKN perlu diantisipasi sejak dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan mengendalikan faktor risiko. Banyak kasus penyakit jantung yang merupakan dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu, untuk itu perlu penguatan pelayanan di tingkat FKTP," jelasnya.

Penguatan FKTP dilakukan sebagai fondasi pengendalian kasus jantung melalui upaya promotif dan preventif.

Langkah tersebut antara lain mencakup pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemantauan HbA1C secara rutin, kepatuhan pengobatan, serta pemantauan peserta dengan risiko tinggi.

Baca juga : Akses JKN Makin Luas, BPJS Kesehatan Tingkatan Mutu Layanan Faskes

Sementara di rumah sakit, BPJS Kesehatan mendorong pelayanan yang berorientasi pada mutu dan outcome.

Sejumlah pendekatan yang dikembangkan antara lain pengambilan keputusan terpadu melalui Heart Team, tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), dan staged revascularization.

BPJS Kesehatan juga mendorong perubahan indikator monitoring mutu penjaminan pelayanan intervensi jantung dari indikator proses menuju indikator outcome.

Indikator yang dipantau mencakup waktu tanggap kritis, keselamatan pascatindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, kepatuhan protokol, serta efisiensi sistem rujukan.

"Kita ingin mengubah paradigma dari paying for services menjadi purchasing better outcomes, dari treating events menjadi preventing events, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome," kata Pujo.

Mewakili Panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi, Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Lingkungan Hidup Tri Adrijanto Santoso mengatakan kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi.

Kemudahan akses, kecepatan layanan, dan kualitas pelayanan juga menjadi bagian penting dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.

"Kodam III Siliwangi mendukung program pemerintah dalam upaya promotif dan preventif, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat menjadi kontribusi positif dalam peningkatan kualitas kesehatan," ujar Tri.

Kepala Rumah Sakit Tingkat II Dustira Muchlas Fahmi mengatakan pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien, termasuk pelayanan penyakit jantung beserta layanan pendukungnya.

Baca juga : BPJS Kesehatan Tegaskan, Tidak Ada Program Subsidi Berhadiah Rp2 Juta

"Pemanfaatan layanan jantung oleh peserta JKN di RS Dustira bisa dikatakan tinggi. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah melayani 975 pasien cathlab yang semuanya merupakan peserta JKN," ungkap Muchlas.

Menurutnya, pelayanan kesehatan merupakan proses berkelanjutan sehingga peningkatan kualitas perlu dilakukan secara konsisten.

Pelayanan tidak hanya dituntut cepat dan tepat, tetapi juga aman, bermutu, serta berorientasi pada kebutuhan pasien.

Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar mengatakan penyakit jantung merupakan salah satu penyakit dengan biaya tinggi yang dijamin Program JKN.

Untuk menekan angka penyakit tersebut, diperlukan penguatan upaya promotif dan preventif, termasuk penerapan pola hidup sehat.

"Penyakit jantung perlu menjadi perhatian pemerintah karena salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penyakit tersebut berkaitan dengan gaya hidup. Untuk menekan tingginya angka penyakit tersebut, diperlukan upaya promotif dan preventif, termasuk menerapkan pola hidup sehat," ucap Timbul.

Timbul juga menilai, Program JKN perlu terus meningkatkan efisiensi melalui penerapan pendekatan Value-Based Health Care yang berbasis outcome.

Menurutnya, kesehatan merupakan modal utama dalam membangun bangsa.

Dalam rangkaian media gathering BPJS Kesehatan tersebut, BPJS Kesehatan juga memberikan penghargaan kepada 15 jurnalis pemenang Lomba Karya Jurnalistik Tahun 2026.

Baca juga : Tenang, Layanan BPJS Normal & Tetap Gratis

Pujo mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada jurnalis media massa yang telah membuka wawasan masyarakat mengenai pentingnya perlindungan jaminan kesehatan, inovasi BPJS Kesehatan, serta keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung keberlangsungan Program JKN.

"Media massa merupakan komponen penting yang menghubungkan BPJS Kesehatan, pemerintah, masyarakat, dan stakeholders lainnya. Media membantu membuka ruang-ruang perbaikan bagi penyelenggaraan Program JKN ke depan, kami terbuka terhadap kritik dan masukan yang konstruktif," ujar Pujo.

Lomba Karya Jurnalistik Tahun 2026 mendapat respons dari jurnalis media massa lokal dan nasional dengan total 236 karya yang diterima.

Karya peserta dinilai oleh dewan juri yang berasal dari kalangan profesional, termasuk Ketua Forum Pemimpin Redaksi Indonesia, jurnalis senior, dan pemimpin redaksi media massa nasional.

Untuk menjaga netralitas, nama jurnalis dan media massa pada seluruh karya yang masuk dihilangkan dalam proses penilaian sehingga karya dinilai secara anonim.

"Selamat kepada seluruh penerima penghargaan Lomba Karya Jurnalistik Tahun 2026. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam perjalanan Program JKN. Kami mohon dukungannya untuk Program JKN untuk menyuarakan informasi yang benar dan hal-hal yang baik, sebagai upaya menjaga kepercayaan publik," kata Pujo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.