Dark/Light Mode

Penyaluran CSR Tepat Guna, Sebuah Pengalaman di PT PII

Senin, 15 Juni 2020 10:18 WIB
Indra Pradana Singawinata (Foto: Istimewa)
Indra Pradana Singawinata (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Oleh: Indra Pradana Singawinata

Saya masih teringat saat diberikan sebuah buku tulisan dari seorang sahabat yang bisa dijuluki salah satu Tokoh Corporate Social Responsibility (CSR) Nasional, La Tofi, yang berjudul “Kill CSR: Lakukan 7 Terobosan (2014)”. La Tofi menawarkan terobosan untuk membangun dan memperkuat program CSR yang lebih sustain dan berdampak jangka panjang mengikuti life cycle perusahaan.

Saya mengenal beliau cukup lama saat bekerja selama 8 tahun pada Yayasan Pendidikan Nasional (2007-2015). Yayasan itu fokus dalam misi membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional di Indonesia. Khususnya anak-anak yang berpotensi tinggi namun tidak mampu secara ekonomi. Di Yayasan Pendidikan ini, saya menimba berbagai ilmu dan diberikan kesempatan untuk mengimplementasikan secara langsung misi serta strategi utama yayasan yang pada akhirnya diwujudkan dalam sebuah sistem pendidikan yang holistik mulai dari level TK sampai universitas dalam satu ekosistem pendidikan yang berkesinambungan (2013).

Pertengahan 2015 hingga sekarang saya bergabung di tempat yang baru yaitu, di sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang penjaminan investasi di bidang infrastruktur berskema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha. BUMN yang memiliki peranan cukup unik dan sangat penting karena perannya sebagai penjamin keamanan dan kenyamanan pihak swasta/badan usaha yang menginvestasikan modal serta dananya di dalam sebuah proyek infrastruktur yang sifatnya jangka panjang.

PT PII pun memiliki program CSR. Ditujukan kepada masyarakat terdampak proyek serta bagi kelangsungan kegiatan perusahaan sendiri. Program-program CSR jangka menengah-panjang (6 bulan-2 tahun) yang telah serta masih kami laksanakan itu sementara ini terdiri dari 2 pilar besar; Pendidikan dan Pemberdayaan UKM. Program ini adalah program yang khusus dirancang untuk selalu berjalan seiring dengan lamanya kegiatan sebuah proyek infratruktur; sehingga masyarakat terdampak proyek dapat ikut merasakan manfaat dari kehadiran proyek tersebut. Namun disebabkan situasi wabah Covid-19, akhirnya beberapa program jangka menengah- panjang tersebut ada yang diubah menjadi program Ad-Hoc bidang Penanggulangan Bencana dan Kesehatan guna membantu penanggulangan wabah ini.

Baca Juga : Utang Luar Negeri Naik, Tapi Masih Aman Terkendali

Untuk program pendidikan, kami tidak terlalu banyak memberikan bantuan fisik, tapi kami fokus pada software dari dunia pendidikan itu sendiri, yaitu pelatihan bagi kepala sekolah, guru, murid serta orang tua murid. Demikian juga dengan Pemberdayaan UKM; bersama-sama dengan pemilik proyek dan stakeholders setempat (pemda, masyarakat, LSM, tokoh, dan lain-lain) program dirancang berdasarkan kesepakatan bersama. Sehingga self of belonging dari grass roots tercipta dengan kuat karena memang aspirasi datang dari bawah.

Sampai saat ini, program pendidikan telah berhasil mendidik dan meningkatkan kualitas guru-guru di daerah terdampak proyek sebanyak kurang lebih 100 guru SD-SMA di 5 daerah (Manado, Bekasi, DKI Jakarta, Natuna, dan Sorong). Guru-guru tersebut dididik dan dilatih untuk mendapatkan sertifikasi keahlian (serifikasi guru) di bidang mereka masing-masing yang dapat berguna bagi karier mereka dan pastinya bagi murid-murid, mereka berkesempatan memperoleh pengajaran dengan menggunakan metodologi, pedagogi dan sistem sekolah yang lebih baik. Dan hasilnya alhamdulillah, tahun 2020 ini semua sekolah yang mengikuti program CSR pelatihan guru ini memperoleh tingkat kelulusan murid 100 persen dengan nilai cukup tinggi di daerahnya. 

Program Pemberdayaan UKM dilakukan di 2 daerah dengan memberikan manfaat kepada sekitar 150 anggota UKM binaan. Untuk Manado, Sulut; dibentuk kelompok usaha bengkel motor kecil yang dimiliki oleh para pemuda yang desanya terkena dampak proyek jalan tol, sedangkan di Mandalika, Lombok dibentuk 4 kelompok usaha pembuatan produk snacks asli desa setempat dengan mempergunakan bahan baku asli dari desa tersebut. Dan saat ini baik kelompok usaha bengkel motor kecil di Manado dan UKM produk snack di Mandalika masih berjalan dengan baik dan secara konkrit memberikan manfaat nyata bagi mereka.

Transformasi yang kami lakukan dalam upaya meningkatkan kualitas serta efektivitas program CSR tidak terlepas dari dukungan penuh bahkan turun tangan secara langsung dari para top management dalam perusahaan sendiri yang memiliki visi misi yang sama dalam melihat CSR perusahaan. CSR merupakan satu kesatuan yang melekat dalam setiap kegiatan perusahaan dalam menjamin proyek-proyek infrastruktur di daerah. Secara ringkas kesuksesan program CSR perusahaan yang ditandai dengan diperolehnya Top CSR Award 2019 dapat diraih oleh terobosan-terobosan berikut (La Tofi, 2014):

Dimulai dari Top Level
CSR Plan tahunan dibuat dan disepakati dengan melibatkan seluruh elemen perusahaan mulai dari level CEO sampai dengan staf lintas divisi; mulai dari divisi CSR sendiri hingga divisi yang terkait langsung dengan proyek-proyek yang dijamin oleh perusahaan. Dengan adanya approval dari top management terhadap CSR Plan membuat program-program CSR menjadi lebih lancar secara administrasi, lebih efektif secara results dan lebih terukur karena BoD pun turut serta mengawal dan menjaga program-program CSR perusahaan.

Baca Juga : Pagi Ini, Rupiah Paling Kekar Di Antara Mata Uang Asia

CSR dan Produktivitas
Program-program CSR yang dibuat selalu harus mengacu kepada KPI tahunan dari perusahaan. Sehingga program-program CSR yang disusun tersebut selalu berdasarkan kepada fokus proyek mana yang sedang disasar atau telah dijamin oleh perusahaan pada tahun berjalan. Hal inilah yang menciptakan juga kerjasama/hubungan antar divisi perusahaan yang lebih efektif dan komunikatif karena setiap divisi pada akhirnya memiliki peran penting dalam setiap program CSR yang diimplementasikan. Bersama-sama dengan divisi operasional, calon lokasi program CSR serta bentuk program CSR itu sendiri dibuat dan disepakati berdasarkan masukan dari divisi operasional yang memang lebih berinteraksi banyak dengan kegiatan proyek.

Membangun Kemitraan 
Stakeholders setempat yang menjadi lokasi program CSR dilaksanakan adalah tuan rumah. Mereka adalah masyarakat terdampak dari proyek infrastruktur yang tengah dibangun atau mungkin sudah beroperasi, sehingga kemitraan/kerjasama dengan seluruh unsur di level grass roots sampai dengan Pemda setempat adalah sebuah keharusan. Program CSR selalu dimulai dengan konsultasi publik yang dihadiri oleh; Pemda (tingkat Walkot/Bupati hingga Lurah), LSM, aparat keamanan, tokoh-tokoh masyarakat dan masyarakat terdampak langsung proyek guna menyepakati program CSR seperti apa yang diinginkan masyarakat. Kesepakatan dengan calon mitra di bakal lokasi program CSR adalah hal sangat penting yang harus dilaksanakan.

Membangun Standar
Sampai saat ini perusahaan masih terus melakukan inovasi dan improvisasi untuk membangun sebuah standar CSR perusahaan yang mengacu pada standard bidang tertentu (standar nasional pada bidang tertentu yang dikeluarkan institusi resmi di Indonesia). Divisi CSR bekerja sama dengan divisi Internal Audit terus menyempurnakan sistem serta prosedur CSR perusahaan guna menciptakan tertib administrasi dan transparansi yang lebih baik serta tidak lupa pendokumentasian yang lebih detail dalam setiap kegiatan CSR.

Paling tidak sampai saat ini, standar-standar untuk pilar pendidikan dan pemberdayaan UKM telah tersusun; dan di antaranya adalah menjadikan standard kelulusan dan peningkatan income dari anggota UKM sebagai salah satu KPI program CSR. Standar program CSR yang telah terbangun ini pun selalu dikomunikasikan dengan pihak penerima manfaat agar mereka pun secara gradual dapat mengikuti dan memenuhi standard yang telah perusahaan tetapkan. Secara tidak langsung ikut mendidik penerima manfaat untuk bekerja dalam sebuah standard dan aturan-aturan.

Komunikasi
Program-program CSR selalu dikomunikasian melalui jaringan media massa baik mainstream atau medsos sebagai upaya untuk membangun sebuah resonansi positif terhadap program CSR yang telah atau sedang dijalankan, yang ujungnya adalah juga menciptakan sebuah sosialisasi terhadap proyek infrastruktur pemerintah yang tengah dibangun kepada publik baik di pusat maupun di daerah. Di sini peranan top management sebagai narsum bagi sahabat-sahabat media massa dalam memberikan penjelasan mengenai program CSR perusahaan adalah sangat penting. 

Baca Juga : Terima Kasih Pondok Pesantren (2)

CSR dengan berbagai definisinya pada intinya adalah bentuk nyata dari sebuah niat baik perusahaan untuk dapat ikut berkontribusi secara langsung terhadap pembangunan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari proyek pembangunan yang telah atau sedang dibangun. Meminjam statement sahabat saya La Tofi: “Perusahaan memiliki visi/misi, dan masyarakat memiliki harapan”; sehingga bagaimana mensinergikan keduanya menjadi sebuah kekuatan pembangunan berkesinambungan adalah menjadi tujuan utama pula dari direncanakan dan dilaksanakanya sebuah program CSR oleh perusahaan.

Penulis: Senior Vice President Divisi CEO Office PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia