Dark/Light Mode

Jurus Survive Di Tengah Pandemi Corona

Menristek Tawarkan Ekonomi Minim Kontak

Kamis, 24 September 2020 05:32 WIB
Menristek, Bambang Brodjonegoro
Menristek, Bambang Brodjonegoro

RM.id  Rakyat Merdeka - Biar ekonomi Indonesia nggak semakin nyungsep garagara pandemi Corona, Menteri Bambang Brodjonegoro menawarkan terobosan dari sisi teknologi. Yaitu: Less Contact Economy (LES) atau ekonomi minim kontak. 

Tujuannya, agar perekonomian terus berjalan, sementara masyarakatmya tetap sehat, karena kontak fisik dikurangi.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menilai, Indonesia saat ini tengah mengalami disrupsi di sektor perekonomian akibat pandemi Corona. 

Dia mengajak, semua lapisan masyarakat menyiapkan strategi untuk menangkal pelemahan ekonomi agar Indonesia bisa bertahan di dalam masa pandemi. 

Baca Juga : Anwar Hilang Sabarnya

“Kita perlu sama-sama harus menyiapkan pondasi yang kuat untuk perekonomian pasca pandemi. Kami menawarkan dari segi teknologi, dengan pendekatan Less Contact Economy (LEC) atau ekonomi minim kontak,” kata Bambang di Jakarta, kemarin. 

Dia menerangkan, ekonomi minim kontak merupakan kondisi gabungan antara masyarakat yang ingin kegiatan ekonomi berjalan tetapi protokol kesehatan bisa ditegakan. 

Dengan strategi ini, lanjut Bambang, ekonomi tetap produktif dan masyarakat tetap sehat. Karena kegiatan ekonominya tetap antar manusia, tapi tidak lagi secara fisik atau tatap muka. Melainkan dilakukan melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. 

“Kita tidak bisa melakukan kegiatan ekonomi seperti biasa di masa kenormalan baru ini. Selama obat belum ditemukan, kita bisa manfaatkan teknologi agar ekonomi bisa tetap jalan,” sambungnya. 

Baca Juga : Abis Lahiran, Ann Kathrin Pamer Tubuh Langsing

Bambang mengatakan, saat ini kegiatan jual beli terkoreksi. Hal itu menyebabkan daya beli masyarakat dan pelaku usaha, menurun. 

“Harapan untuk back to the past memakan waktu lama karena dampak pandemi masih tinggi, mau tidak mau kita harus disiplin ikut protokol kesehatan. Jadi istilah back to the past kita ganti dengan back to the future,” ujar Bambang. 

Ia menyebut, saat ini pihaknya juga sedang mengembangkan pembuatan paspor kesehatan (health passport) untuk mendukung pelacakan Virus Corona di Indonesia. Health Passport akan berisi rekam jejak kesehatan dan data penduduk Indonesia yang sudah menjalani tes Covid-19. 

“Pendekatannya juga berbasis teknologi berupa Big Data dan AI (Artificial intelligence). Dengan teknologi ini, nanti orang kalau bergerak tak perlu bawa dokumen sudah negatif rapid,” ujarnya. 

Baca Juga : Bisakah Kita Seperti Korsel?

Bambang menyebut, program ini akan diintegrasikan langsung dengan aplikasi bersatu lawan Covid-19 yang dibentuk oleh Satgas Covid-19. Health Pass ini nantinya bisa digunakan sebagai pengganti Surat Izin KeluarMasuk (SIKM). 

Seperti diketahui, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut Indonesia dipastikan resesi pada tahun ini, tepatnya mulai akhir September 2020. Sebab, diperkirakan ekonomi kuartal III-2020 akan berada di kisaran -1,0 persen hingga -2,9 persen. 

Sebelumnya pada kuartal II2020, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan ekonomi Indonesia terkontraksi hingga -5,32 persen. [NOV]