Dark/Light Mode

90 Persen Terdampak Pandemi

Erick Dorong BUMN Review Strategi 2021

Jumat, 18 Desember 2020 06:30 WIB
Menteri BUMN, Erick Thohir. (Foto: Youtube)
Menteri BUMN, Erick Thohir. (Foto: Youtube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong perusahaan pelat merah melakukan review strategi, agar bisa survive menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Salah satunya, mempertimbangkan transformasi bisnis ke arah digital.

Menteri BUMN Erick Thohir menyebut 90 persen BUMN strategis terdampak pandemi. Misalnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero). Dia meminta, perusahaan pelat merah me-review kembali strategi mulai kuartal II-2021.

“Sampai 2021 kami (masih) bisa survive,” ujar Erick di acara Indonesia Digital Conference 2020 secara virtual, di Jakarta, Rabu (16/12).

Erick mematok target pada kuartal II-2022, BUMN harus selesai melakukan restrukturisasi dengan memperbaiki portofolio. Serta, mempersiapkan landasan untuk inovasi model bisnis baru. Karena itu, dia menyerukan, semua direksi BUMN mempelajari inovasi model bisnis baru.

“Kami harapkan pada tahun 2024 transformasi sudah terjadi. Dan kami akan membuat ekosistem yang baik buat semua pihak,” imbuhnya.

Erick mengatakan, meskipun digitalisasi diperlukan, tetapi, dia menekankan, bukan hanya itu saja faktor sebuah perusahaan bisa bertahan. Peningkatan pelayanan tak kalah penting. Ia mencontohkan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, yang kini sudah mulai meningkatkan sistem pelayanannya.

Berita Terkait : PBNU Minta Negara Hadir

“PLN harus ada perubahan dalam pelayanan. Tadinya, mungkin karena memonopoli listrik, (konsumen) datang ke kantor PLN, baru bisa dilayani. Sekarang harus dibalik (menjadi jemput bola),” ungkapnya.

Ia menilai, penerapan smart grid, smart meter, dan transformasi bisnis menjadi kunci utama PLN untuk terus memperbaiki layanan pada sistem kelistrikan nasional.

“Mohon maaf, listrik yang tadi dicolong sekarang dengan ada smart grid, smart meter semua terukur. Jadi digitalisasi memang sangat penting,” ungkapnya.

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengamini pandangan Menteri Erick. Menurutnya, tantangan terbesar dalam transformasi, tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Setiap orang perlu bekerja efektif. Perlu sinergi, kolaborasi, dan bagaimana mengelola lebih dari 100 ribu pegawai. Makanya, kami membangun platform digital,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Darmawan, perseroan melakukan percepatan digitalisasi proses bisnis. Program transformasi itu sudah dimulai sejak 21 April 2020.

Berita Terkait : California Terapkan Lockdown Ketat

Sebab, pandemi Covid-19 telah menggeser pola kebiasaan konsumen dan bisnis. Selain itu, transformasi juga dilatarbelakangi adanya perubahan kondisi kelistrikan di Indonesia, dari sebelumnya defisit menjadi surplus.

“Perubahan ini juga membuat pergeseran strategi, dari yang sebelumnya supply driven menjadi demand driven,” katanya.

Ia membeberkan, PLN memiliki 20 terobosan dalam program transformasi. 13 di antaranya merupakan pembangunan berbasis digital.

Ia menambahkan, digitalisasi juga dilakukan dalam upaya mewujudkan keadilan energi. Khususnya, untuk melistriki daerah terpencil dan meningkatkan rasio elektrifikasi.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda berpendapat, digitalisasi sudah menjadi keharusan dalam menjaga keberlangsungan perusahaan ke depannya.

Namun, dia melihat, masih sedikit perusahaan pelat merah yang mengimplementasikan digital pada model bisnisnya.

Baca Juga : Liga Inggris : Telat Panas, MU Sikat Sheffield 3-2

Menurutnya, BUMN memiliki kemampuan pendanaan untuk melakukan digitalisasi bisnis.

“Tantangan beratnya justru menyiapkan SDM. Dan ini butuh waktu,” ungkapnya.

Ia meyakini, digitalisasi akan memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan. Kinerja makin transparan dan efisien. [IMA]