Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mandiri Institute : Indeks Belanja Masyarakat Mulai Membaik
Selasa, 16 Maret 2021 19:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Hasil kajian khusus Mandiri Institute menyebutkan, nilai belanja masyarakat saat ini berada 4,6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan periode Januari 2020 (base). Sementara frekuensi belanja 16,7 persen lebih tinggi, di mana kenaikan ini juga terkonfirmasi melalui data mobilitas yang direkam melalui data Google.
Menurut Kepala Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono, pihaknya melakukan kajian khusus mengenai tren belanja masyarakat dengan memanfaatkan high-frequency transaction data.
Pihaknya mengembangkan Mandiri Spending Index yang memperhitungkan komposisi belanja berdasarkan sub-kategori belanja. Seperti supermarket, restoran, household, fashion dan lain sebagainya. Komposisi ini digunakan sebagai pembobot untuk menyusun indeks belanja yang dapat membantu pemerintah dan sektor usaha, untuk mengamati pergerakan belanja masyarakat Indonesia sejak awal 2020 hingga saat ini.
Baca juga : Menkeu : Indonesia Berpeluang Jadi Pemain Utama Industri Baterai Mobil Listrik
"Indeks belanja mengalami perbaikan di hampir seluruh wilayah, kecuali daerah pariwisata seperti Bali dan DI Yogyakarta," jelas Teguh, dalam keterangan resminya, Selasa (16/3).
Catatan terakhir menunjukkan, Mandiri Spending Index di Bali masih berada di posisi 39,4 dari posisi sebelum pandemi. Hal ini membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk menghindari adanya ketimpangan dalam pemulihan ekonomi.
Ia mengatakan, ada beberapa faktor yang masih dapat menahan tren perbaikan belanja masyarakat, antara lain pembatasan mobilitas/aktivitas masyarakat yang berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan belanja. Selain itu, masih relatif tingginya penularan Covid-19 juga dapat menahan keinginan masyarakat untuk berbelanja, meskipun tampaknya ada penurunan tingkat penularan Covid-19 belakangan ini.
Baca juga : Menteri ESDM: Penting, Pelibatan Masyarakat Dalam Transisi Energi
"Ketidakstabilan pemulihan belanja masyarakat juga didorong oleh perilaku kelompok menengah atas yang masih menahan belanja, terutama untuk kategori belanja tertentu," kata Teguh.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh masih rendahnya keyakinan kelompok masyarakat ini dalam melakukan mobilitas, termasuk berbelanja, secara aman. Selain itu ketidakpastian ekonomi membuat pola belanja kelompok ini belum kembali ke era prapandemi.
Untuk itu, sambungnya, pengendalian Covid-19 dan distribusi vaksin yang cepat akan menjadi kunci untuk mengembalikan keyakinan masyarakat, terutama kelompok menengah atas. "Hal ini akan menjadi pendorong besar pertumbuhan konsumsi di Indonesia," imbuhnya.
Baca juga : Perlunya Edukasi Terus Menerus Kepada Masyarakat Yang Nolak Divaksin
Di samping itu, juga perlu memastikan mobilitas masyarakat dapat kembali meningkat dengan aman sangat penting untuk menahan pelemahan belanja di wilayah-wilayah yang sangat bergantung pada tingkat kunjungan masyarakat (sektor pariwisata), misalnya Bali dan DI Yogyakarta. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya