Dewan Pers

Dark/Light Mode

Petani Diminta Bisa Beradaptasi Dengan Perubahan Iklim

Sabtu, 18 September 2021 07:03 WIB
Pelatihan petani soal iklim. (Foto: ist)
Pelatihan petani soal iklim. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perubahan Iklim dan pergantian cuaca ekstrem yang saat ini sedang terjadi berakibat pada meningkatnya jumlah kelaparan dan membuat warga kesulitan mengakses sumber makanan yang memadai.

Data terbaru dari PBB menyebutkan bahwa angka kelaparan meningkat sebanyak 11 persen setelah tidak naik selama 15 tahun. World Food Programme (WFP) memperingatkan perubahan iklim yang terjadi di bumi akan berdampak buruk pada sektor pertanian. 

Pengaruh perubahan iklim terhadap sektor pertanian bersifat multidimensional, mulai dari sumber daya, infrastruktur pertanian, dan sistem produksi pertanian, hingga aspek ketahanan dan kemandirian pangan, serta kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya.

Menanggapi konsekuensi perubahan iklim yang akan terus berlangsung di masa depan, perlu disajikan jasa-jasa layanan iklim pada petani agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengantisipasi kondisi iklim yang semakin sulit diduga. 

Berita Terkait : Pembahasan RPP Otsus Papua Harus Perhatian Aspirasi Daerah

Dengan melakukan antisipasi atas kondisi itu, mereka diharapkan dapat mengambil keputusan tentang strategi budidaya tanaman yang dapat mempertangguh hasil panen dan mengurangi risiko gagal panen di masa yang akan datang. 

Praktik-praktik itu dapat dilaksanakan melalui pengalaman yang diperoleh dalam kondisi iklim yang sama di masa lalu, dikombinasikan dengan kemampuan untuk menginterpretasi situasi agroekosistem di lahannya pada masa kini, disertai dengan jasa skenario iklim musiman yang akan datang. 

Membekali petani dengan keterampilan itu akan meningkatkan pengetahuan lokal dan mengembangkan kapasitasnya sebagai pengambil keputusan yang tepat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan petani sebagai peneliti di lahannya sendiri memungkinkan mereka untuk memodifikasi strategi budidaya tanaman yang konvensional agar lebih tanggap pada risiko perubahan iklim.

Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi berinisiatif mengadakan Webinar Adaptasi Petani Menghadapi Perubahan Iklim sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran para petani mengenai kondisi iklim bumi saat ini yang berakibat pada hasil sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Berita Terkait : Pojok Baca Digital Hadir Di Perbatasan Indonesia

Selain itu, webinar ini juga merupakan salah satu bentuk upaya perayaan Hari Tani Nasional yang kami lakukan yang akan jatuh pada 24 September 2021 mendatang. Kegiatan Philanthropy Sharing Session kali ini bertujuan untuk dapat mendorong petani agar mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sehingga dapat mendorong ketahanan pangan bangsa. 

Kegiatan ini merupakan kegiatan gabungan dari Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi dengan Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi dalam mencegah kelaparan akibat krisis lingkungan bekerjasama dengan Belantara Foundation, Warung Ilmiah Lapangan, Universitas Indonesia, Wahana Visi Indonesia, Dompet Dhuafa, Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang

“Dari sisi keterlibatan lembaga filantropi dalam perubahan iklim, hal ini sudah menjadi sasaran program sebagai kontribusi bersama pencapaian SDGs. Namun nyatanya, menyiapkan diri dalam pencegahan krisis pangan lebih diutamakan, sambil mencari langkah strategis lainnya menghindari ancaman bencana iklim lainnya”, tutur Rizal Algamar, Ketua Badan Pengurus Filantropi Indonesia. 

Di sisi lain, telah banyak lembaga filantropi yang menggagas regulasi dan policy, akses teknologi dan berbagai mekanisme pendanaan sebagai komitmen menghadapi ancaman perubahan iklim ini.

Berita Terkait : Di Kalsel, Sinar Mas Selaraskan Vaksinasi Dan Peremajaan Sawit

“Perubahan iklim, termasuk di dalamnya perubahan cuaca yang ekstrim akan sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Krisis pangan yang diakibatkan gagal panen berkepanjangan bisa terjadi karena cuaca yang tidak dapat lagi diprediksi,” ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna.
 Selanjutnya