Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tembus Rp 5.609 T, BI: Utang Luar Negeri Masih Terkendali

Jumat, 17 Mei 2019 11:26 WIB
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Net)
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Utang Luar Negeri Indonesia pada akhir triwulan I-2019 mencapai 387,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.609 triliun. Kendati begitu, utang luar negeri masih aman dan terkendali.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan, utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar 197,1 miliar dolar AS. Utang luar negeri naik 7,9 persen year on year (YOY) ini karena dipengaruhi transaksi penarikan neto utang luar negeri dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS. “

“Peningkatan pertumbuhan utang luar negeri terutama bersumber dari sektor swasta, di tengah relatif stabilnya pertumbuhan utang luar negeri pemerintah,” ujarnya di Jakarta, Jumat (17/5).

Berita Terkait : Temui Bos Inpex, Jonan Perkuat Blok Masela

Menurut dia, pertumbahan utang luar negeri pemerintah relatif stabil pada triwulan I-2019. Hingga akhir triwulan I, utang luar negeri pemerintah tercatat 187,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,6 persen.

Jumlah ini relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,3 persen. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penurunan outstanding SBN dalam valuta asing sejalan dengan pelunasan global bonds yang jatuh tempo pada bulan Maret 2019.

“Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing yang tinggi terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Berita Terkait : Dua Anak Buah Menag Lukman Segera Diadili

Pengelolaan utang luar negeri pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,8 persen), sektor konstruksi (16,3 persen), sektor jasa pendidikan (15,7 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,4 persen).

Sementata, posisi utang luar negeri swasta pada akhir triwulan I tumbuh 12,8 persen atau meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 11,3 persen. Utang luar negeri swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.

“Pangsa utang luar negeri di keempat sektor tersebut terhadap total utang luar negeri swasta mencapai 75,2 persen,” tutur Onny.

Berita Terkait : Ekspornya Tembus 5,4 T, Industri Mainan Digenjot

Menurut dia, struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan I-2019 yang relatif stabil sebesar 36,9 persen. Selain itu, struktur utang luar negeri tetap didominasi oleh utang berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total utang.

“Meski mengalami peningkatan, namun masih terkendali dengan struktur yang tetap sehat. Bank Indonesia dan pemerimtah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan utang luar negeri dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tukasnya. [DIT]