Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Catatan Akhir Tahun Hak Anak Indonesia, Saat Pandemi
Selasa, 15 Desember 2020 21:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sehubungan dengan situasi hak anak yang mengalami dampak pandemi Covid-19. Save the Children menghadirkan webinar bertajuk “Catatan Akhir Tahun: Refleksi Situasi Pemenuhan Hak Anak Indonesia 2020” (15/12).
Interim Campaign Manager Save the Children Indonesia, Fandi Yusuf, memaparkan hasil dari Rapid Needs Assessment atau Penilaian Kebutuhan secara Cepat yang dilakukan bulan April 2020 dan memetakan setidaknya ada 7 risiko utama yang dihadapi oleh anak-anak selama pandemi. Resiko itu adalah kehilangan orang tua karena Covid-19, orang tua kehilangan mata pencaharian atau pendapatan, sulit mengakses layanan pendidikan yang berkualitas, rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi, sulit mengakses layanan kesehatan dasar dan gizi, anak yang tinggal di kawasan dan rawan bencana, dan terbatasnya dukungan bagi anak dengan disabilitas.
Baca juga : Libur Akhir Tahun, Pemprov Jateng Siapkan Tes Antigen Bagi Pendatang
Save the Children berupaya dalam berbagai bidang terutama kesehatan, nutrisi dan pendidikan anak, perlindungan anak, dan tata kelola hak anak. “Kita perlu memastikan anak-anak tetap dapat belajar di rumah sehingga tingkat keaksaraan mereta tetap terjaga dengan baik dan tetap bersemangat mempersiapkan diri kembali ke sekolah jika situasi telah aman,” ujar Fandi.
Deputy Chief Program Impact and Policy Tata Sudrajat menambahkan adanya angka kekerasan pada anak, termasuk yang terjadi di rumah, meningkat selama masa Pandemi Covid-19. Ia memaparkan sebagian hasil dari Global Survey Save the Children di 34 negara pada bulan Agustus 2020. Dari survei tersebut disampaikan 23% orang tua melakukan pengasuhan negatif kepada anak. 25% keluarga melaporkan adanya kekerasan dalam keluarga yang mengalami pengurangan pendapatan. Terkait dengan pembelajaran daring, 40% orang tua belum melakukan tindakan untuk melindungi anaknya dari dampak negative internet, termasuk perundungan di sekolah melalui internet.
Baca juga : 70 Tahun Hubungan Indonesia – Iran Yang Luar Biasa dan Membanggakan
“Dengan adanya Pembelajaran Jarak Jauh ini konsumsi internet oleh anak yang biasanya hanya 3-4 jam menjadi naik. Sangat disayangkan orang tua belum semuanya dapat melindungi anak-anak dari paparan informasi di internet, termasuk potensi cyber bullying yang meningkat seiring dengan penggunaan internet.” Jelasnya.
Sebagai tambahan, Save the Children membuka layanan hotline dukungan psikologis awal kepada khalayak umum, membantu Kementerian Pemberdayaan Perampuan dan Perlindungan Anak mengembangkan 6 protokol perlindungan dan pengasuhan anak di masa pandemi, latihan pengasuhan positif, latihan manajemen kasus pekerja sosial, dan pelatihan prinsip hak anak dan kebijakan keselamatan untuk apparat penegak hukum. Organisasi anak ini juga mendukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan buku Pedoman dan Media Informasi dan Edukasi Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Sekolah Dasar. [ARM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya