Dark/Light Mode

Hati-hati Bahaya TBC Laten, Tak Bergejala Dan Bisa Muncul Sewaktu-waktu

Sabtu, 26 Maret 2022 11:55 WIB
Ilustrasi paru-paru (Foto: Istimewa)
Ilustrasi paru-paru (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi masyarakat. Mengingat penyakit tersebut telah menyebabkan 93 ribu kematian per tahun di Indonesia.

Selain TBC aktif yang dapat dilihat gejalanya, ada TBC laten yang perlu diwaspadai. Karena tidak terlihat gejalanya dan bisa muncul kapan pun.

Ketua Yayasan Stop TB Partnership dr. Nurul H.W. Luntungan, MPH mengatakan, penyakit TBC laten disebabkan oleh bakteri yang bersembunyi di dalam tubuh seseorang. Sehingga, orang tersebut nampak tidak memiliki penyakit TBC.

Baca juga : Penurunan Kematian Di Jawa Tengah Berjalan Lambat, Penyebabnya Masih Itu-itu Juga

“Penyakit TBC ini disebabkan oleh bakteri, yang karakternya beda dengan bakteri lain. Bakteri TBC ini bisa sembunyi di dalam tubuh. Orang yang kena bakterinya  belum tentu terlihat sakit TBC,” kata dr. Nurul dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (22/3).

Sementara itu, Koordinator Substansi TBC, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakti Menular, Kemenkes dr. Tiffany Tiara Pakasi MA mengatakan, infeksi TBC laten terjadi saat seseorang yang terpapar kuman TBC, namun memiliki imunitas yang bagus. Sehingga, dia tidak bergejala.

Tapi, sebenarnya kuman tersebut tidak hilang. Dia dalam posisi tertidur.

Baca juga : Pacitan Rayakan HUT Ke 277, Ibas Beri Masukan Dan Ajak Kolaborasi Masyarakat Setempat

“Sehingga sewaktu-waktu, kalau daya tahan tubuhnya turun dan lain-lain, dia bisa memicu kuman tersebut dan terjadi tuberkulosis aktif,” katanya.

Pengendalian TBC laten ini belum lama masuk ke dalam program pemerintah. Ditetapkan sebagai program eliminasi TBC, setelah ada komitmen untuk mengakhiri TBC tahun 2030.

"Jadi, baru beberapa tahun terakhir, pemerintah memfokuskan TBC laten ke dalam program eliminasi TBC, dan fokus pada kelompok yang paling berisiko. Dalam hal ini, kontak erat dari semua usia,” ucap dr. Tiara.

Baca juga : Pasien Covid Di RS Persahabatan Mayoritas Bergejala Ringan Dan Sedang

Skrining kontak erat dilakukan melalui pertanyaan dan pemeriksaan dengan tes tuberkulin di kulitnya, atau pemeriksaan melalui darah.

Kalau diketahui ada TBC laten, maka orang tersebut akan diberikan obat pencegahan TBC.

Dalam tes tuberkulin, sejumlah kecil protein yang mengandung bakteri TBC akan disuntikkan ke kulit di bawah lengan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.