Dewan Pers

Dark/Light Mode

Begini Cara PPATK Persiapkan Generasi Milenial Anti Pencucian Uang

Sabtu, 26 Maret 2022 12:48 WIB
Tim dari Universitas Indonesia yang menjadi pemenang lomba debat mahasiswa yang digelar PPATK (Foto: Dok. FH UI)
Tim dari Universitas Indonesia yang menjadi pemenang lomba debat mahasiswa yang digelar PPATK (Foto: Dok. FH UI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada yang istimewa dalam lomba debat besutan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tahun ini. Selain tema besar yang masih terkait Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT), kali ini lomba debat yang diikuti enam universitas bergengsi di Indonesia tersebut mengusung tema "2 Dekade Gerakan APU-PPT".

Tahun ini tepat 20 tahun atau dua dekade PPATK bersama seluruh pemangku kepentingan APU-PPT telah menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Sudah banyak kasus besar terkait pencucian uang yang berhasil dikuak dalam kurun waktu tersebut.

Menurut Dhira Gulista selaku Ketua Panitia, lomba debat mahasiswa merupakan agenda tahunan yang digelar PPATK sejak 2015. Ajang ini dilakukan sebagai wujud sinergitas dengan kalangan akademisi dan generasi muda, untuk mengeksplor wawasan tentang kasus-kasus, isu-isu, kebijakan negara, dan hukum tentang pencucian uang.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin mempersiapkan generasi muda yang nantinya akan memegang kendali bangsa, termasuk gerakan APU-PPT," kata Dhira, di sela- rangkaian kegiatan lomba debat yang tahun ini berlangsung 22-24 Maret 2022.

Dhira menambahkan, kompetisi debat juga menjadi salah satu cara PPATK untuk mengenalkan bahaya pencucian uang ke generasi muda selaku aset masa depan bangsa. Hal tesebut dilakukan untuk menanamkan semangat anti money laundering sehingga mampu memancing daya kritis generasi muda sehingga terwujud ide, gagasan dan solusi out of the box yang ditawarkan oleh generasi muda saat ini selaku agen perubahan masa depan (agent of change).

Berita Terkait : Arifin Tasrif: Saatnya Milenial Ikutan Program Energi Bersih

Untuk menanamkan nilai-nilai anti pencucian uang bagi generasi muda, tidak cukup jika dilakukan dengan acara seminar atau sosialisasi dalam ruang kelas. Diperlukan sebuah kegiatan yang kreatif yang mampu menarik perhatian dan keikutsertaan generasi muda. Kegiatan tersebut diadakan sebagai wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan eksistensi dirinya dan menjadi sarana untuk berpikir secara mandiri, menyusun kontruksi berpikir yang berkesinambungan, dan melatih gaya berkomunikasi generasi muda yang lugas dan terarah.

Pada lomba debat tahun ini, lanjut Dhira, terdapat penurunan jumlah peserta, dari yang biasanya mencapai 50-60 perguruan tinggi kini hanya diikuti 23 universitas. Tim yang mendaftar sebelumnya wajib menyerahkan karya tulis ilmiah dengan tema terkait pencucian uang, yang kemudian diseleksi secara tertutup oleh dewan juri dari internal PPATK menjadi hanya enam universitas. Yakni Universitas Brawijaya Malang, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, UIN Sunan Kalijaga, dan Universitas Udayana.

"Peserta yang mendaftar tahun ini menurun, mungkin masih karena faktor pandemi. Dari 23 tim, yang terseleksi hanya enam untuk masuk babak semifinal berupa kompetisi debat. Lomba debat berlangsung selama tiga hari berturut-turut mulai 22-24 Maret 2022. Setiap harinya, lomba digelar dalam tiga sesi,"tutur Dhira.

Pelaksaan Debat

Namanya berdebat, pasti ada saja strategi untuk menjatuhkan mental lawan. Para milenial ini juga menunjukkan "kejulidan" saat berhadapan dengan lawan debat mereka.

Berita Terkait : Menteri ESDM Ingin Anak Muda Ikut Wujudkan Energi Bersih

"Kendati demikian, cara peserta menjatuhkan mental lawan debat masih halus. Tidak kasar. Sikap mereka juga ada yang tegas, nervous, macam-macam. Seru sekali. Tim yang pro dan kontra saling adu argumen berdasarkan mosi debat yang diundi di masing-masing sesi. Tapi argumen peserta tetap harus based on data ya, bukti legalnya mereka bawa serta," ujar Dhira.

Dijelaskan Dhira, pihaknya telah menetapkan delapan mosi debat yang diundi saat hari pertama lomba. Mosi debat itu antara lain adalah Penerapan In Rem Asset Forfeiture dalam Rangka Asset Recovery di Indonesia; Kompetensi Absolut Pengadilan Perikanan Mengadili Tindak Pidana Pencucian Uang; Posibilitas Eksistensi Stand Alone Money Laundering di Indonesia; Putusan Perampasan Aset ’Dirampas Untuk Negara’ Pada Perkara TPPU yang Proceed of Crime-nya Bukan Kerugian Negara; Posibilitas Laporan Hasil Analisis/Laporan Hasil Pemeriksaan PPATK sebagai Alat Bukti pada Perkara TPPU dan TPPT; Pengakuan Nominee Shareholders Dalam UU Perseroan Terbatas dan UU Penanaman Modal sebagai Upaya Optimalisasi Identifikasi Ultimate Beneficially Ownership; Pembuktian pemenuhan unsur patut diduga dalam Pasal 5 ayat (1)  UU TPPU pada keluarga yang diduga menerima hasil Tindak Pidana; Posibilitas Profit Investasi dari Proceed of Crime sebagai Objek Perampasan Aset pada Perkara TPPU dengan TP Asal Korupsi.

Juara I lomba debat tahun ini diraih tim dari Universitas Indonesia. Sementara, juara II diraih Universitas Gadjah Mada, dan UIN Sunan Kalijaga sebagai juara III.

Selain piala bergilir, pemenang pertama mendapatkan medali, trofi, uang tunai sebesar Rp 15 juta dari Bank Mandiri, dan uang pembinaan sebesar Rp 5 juta dari Bank BNI. Hadiah diserahkan langsung oleh Kepala PPATK Ivan Yustiavandana.

Vilia Evany Silalahi, mahasiswa FHUI angkatan 2020, mewakili pemenang pertama, mengungkapkan ketidakpercayaannya bisa meraih juara I dalam lomba debat tersebut. Ia bersama tim merasa belum optimal mempelajari hukum pidana sebagaimana tema yang ditetapkan.

Berita Terkait : Puan: Lestarikan Bumi Untuk Generasi Penerus!

"Sungguh tidak menyangka bisa sampai ke titik ini karena memang belum belajar pidana yang pidana banget, sementara materi yang disampaikan benar-benar murni pidana. Ini pengalaman yang berharga sekali, dan pastinya tak terlupakan," ujarnya, sambil tersenyum.

Vilia, yang sebelumnya memiliki paradigma negatif terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, setelah mengikuti ajang ini semakin memahami bahwa ada lembaga intelijen seperti PPATK yang berperan penting dalam menelusuri kasus-kasus tersebut. Mungkin butuh sosialisasi lebih gencar terkait PPATK dan gerakan-gerakannya terutama dalam penanganan kasus-kasus money laundering. Buat kami, generasi muda, itu yang dibutuhkan," ujarnya, yang berharap agar kegiatan lomba debat akan terus ada ke depannya.

Saat penutupan acara debat, Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menegaskan bahwa kegiatan tersebut akan terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Sebab, PPATK adaah salah satu superhub yang diminta Kemendikbud untuk menjembatani kalangan akademis dengan dunia kerja. "Insya Allah akan kita lakukan di tahun-tahun ke depan. Tolong sampaikan saja pada teman-teman mahasiswa, network kalian, bahwa kami sangat berkeinginan kegiatan ini akan terus dilaksanakan," kata Ivan.

Lomba debat "2 Dekade Gerakan APU PPT" menjadi cara efektif PPATK memberikan edukasi kepada generasi milenial sebagai agen perubahan masa depan dalam memahami praktik pencucian uang dari hasil tindak pidana atau kegiatan ilegal terhadap kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya, PPATK menjadi sebuah harapan dan optimisme para generasi muda terhadap pencegahan dan pemberantasan uang haram, salah satunya, dari hasil korupsi di Tanah Air. [USU]