Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jadi Pintu Masuk Provokasi

Netizen Diingatkan Jangan Gampang Baper Di Dunia Maya

Jumat, 26 Agustus 2022 17:29 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Literasi digital sangat diperlukan bagi setiap orang yang ingin berseluncur di dunia maya. Terutama bagi pengguna media sosial.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi para narasumber mengingatkan netizen agar tidak mudah terbawa perasaan alias baper.

Dosen Komunikasi Universitas Islam Bandung Santi Indra Astuti menekankan, sikap tidak mudah baper dalam lingkup yang lebih luas bisa mencegah individu untuk tidak mudah terprovokasi. "Provokasi itu merupakan racun dunia maya," ujarnya dikutip Jumat (26/8).

Berita Terkait : Perdagangan Makanan Dan Obat Ilegal Lewat E-Commerce Marak

Ia menyebut, ciri-ciri provokasi yakni dapat memancing emosi, menggiring opini, mengandung pembingkaian, menempatkan penerima pesan sebagai korban, dan lain sebagainya.

Kemudian, apabila berhadapan dengan konten negatif, maka hal yang dapat dilakukan di antaranya dengan menganalisis konten negatif tersebut. "Kita harus menahan untuk tidak menyebarluaskan. Bisa melaporkan kepada pihak yang berwenang," tuturnya.

Pengguna medsos disarankan untuk memproduksi konten yang bermanfaat. Di dalam ruang digital memang setiap orang mudah berkomentar dan melakukan justifikasi. Tapi ingat, apa yang dilakukan di dunia maya bisa juga berdampak ke dunia nyata.

Berita Terkait : Jokowi: Tolong Dihitung Betul, Jangan Sampai Menurunkan Daya Beli Masyarakat

“Kalau kita masuk ke ruang digital kita hindari ujaran kebencian, jangan baperan di media sosial dan jangan ladeni ujaran kebencian," imbaunya.

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur? Jawabnya, jangan panik. Redam suasana panas, alihkan perhatian orang dengan hal lain. "Kita bisa siapkan kontra narasinya,” imbuhnya.

Hindari komentar dan postingan negatif. Ingat apa yang di-posting dan dilakukan di medsos akan terekam jejak digitalnya. Dampak negatifnya, salah satunya, dapat menghambat proses perekrutan kerja.
 Selanjutnya