Dark/Light Mode

Terima Presiden JAPINDA, Airlangga Bahas Perubahan Iklim-Smart City

Sabtu, 3 Desember 2022 19:16 WIB
Menko Perkonomian Airlangga Hartarto bersama Presiden JAPINDA Yasuo Fukuda. (Foto: Ist)
Menko Perkonomian Airlangga Hartarto bersama Presiden JAPINDA Yasuo Fukuda. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia terus berupaya menyeimbangkan permintaan energi yang meningkat dengan tetap memegang komitmen mengurangi karbon. Salah satunya dengan mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) yang ditargetkan berkontribusi sebesar 23 persen dari total sumber energi di 2025.

Percepatan transformasi energi dilakukan dengan pengurangan emisi karbon di pembangkit listrik Indonesia sebesar 10,37 juta ton atau lebih dari dua kali lipat target pengurangannya di 2021. Pemerintah Indonesia juga akan menerapkan kebijakan penetapan harga karbon dalam bentuk skema carbon cap, trade and tax pada tahun 2023 serta mengimplementasi roadmap pengurangan emisi menuju Net Zero Emission pada 2060.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan kerja Presiden Japan-Indonesia Association (JAPINDA) Yasuo Fukuda yang juga Perdana Menteri Jepang tahun 2007-2008, di Kantor Kemenko Perekonomian pada Jumat (2/12).

Dalam pertemuan yang turut menyertakan sejumlah pimpinan perusahaan Jepang tersebut, dilakukan pembahasan mengenai kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang, serta isu terkait pengurangan emisi karbon, konservasi lingkungan, kerja sama pengembangan electric vehicle (EV), serta kerja sama bidang infrastruktur.

Baca juga : Di Rapimnas Kadin, Airlangga Dorong Pengembangan Ekonomi Digital

Airlangga juga menyampaikan perkembangan sangat positif dari pertumbuhan ekonomi Indonesia ditengah ketidakpastian global yang diiringi dengan terkendalinya tingkat inflasi sebesar 5,42 persen pada November 2022.

Jepang dan Indonesia juga telah sepakat menjalin kerja sama untuk mewujudkan mitigasi perubahan iklim melalui program Asia Zero Emission Community (AZEC) dan Just Energy Transition Partnership (JETP). Hal ini merupakan kesepakatan kedua negara dalam pertemuan bilateral yang dipimpin Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G20, di Bali pada pertengahan November lalu.

Indonesia dan Jepang juga akan mengembangkan kerja sama pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pengendalian perubahan iklim. Indonesia juga telah mengambil langkah-langkah korektif untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan. Potensi energi baru terbarukan terdapat di hampir seluruh wilayah Indonesia yaitu potensi tenaga air, hydrogen, surya, angin, dan potensi energi laut.

Pemerintah Indonesia juga terus mengakselerasi pengembangan electric vehicle (EV) dengan menetapkan roadmap pengembangan EV hingga 2030. Dengan target produksi EV pada tahun 2030 mencapai 600 ribu unit untuk roda empat atau lebih dan 2,45 juta unit untuk roda dua, diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat atau lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua. Hal ini dapat berkontribusi dalam penurunan emisi serta penurunan impor bahan bakar fosil dengan mempopulerkan penggunaan EV di Indonesia.

Baca juga : Resmikan AMN Surabaya, Presiden Jokowi: Era Baru Kebhinekaan NKRI

Di sisi lain, Airlangga menyampaikan, peluang kerja sama dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Sektor pembangunan IKN yang dibuka untuk investasi dari luar negeri antara lain untuk fasilitas perumahan, perkantoran, kesehatan dan pendidikan. Jepang sendiri memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan smart city yang dapat dijadikan model dalam pembangunan IKN ke depannya.

Selain itu, Airlangga menyampaikan peluang kerja sama dalam pembangunan IKN Nusantara. Sektor pembangunan IKN Nusantara yang dibuka untuk investasi antara lain fasilitas perumahan, perkantoran, kesehatan dan pendidikan. Jepang memiliki pengalaman yang panjang dalam pengembangan smart city dan dapat menjadi model dalam pembangunan IKN Nusantara.

Lebih lanjut, JAPINDA menyampaikan saat ini terdapat kekurangan tenaga kerja ahli di Jepang dikarenakan menuanya populasi Jepang. Indonesia di sisi lain memiliki potensi tenaga kerja ahli yang besar, sehingga JAPINDA mengusulkan adanya kerja sama pengiriman tenaga kerja ahli Indonesia ke Jepang.

Menanggapi hal itu, Airlangga menyampaikan bahwa keberadaan demand dan supply tenaga kerja ahli itu dapat difasilitasi dengan pengiriman tenaga magang dari Indonesia ke Jepang. Dimana tenaga kerja lulusan internship Jepang tersebut setelahnya dapat bekerja di perusahaan Jepang di Indonesia dalam mempercepat adopsi teknologi dan transformasi industri dalam negeri Indonesia.

Baca juga : Laksamana Yudo Pensiun Tahun Depan

Sebagai informasi di kerja sama bilateral, total nilai perdagangan Indonesia dengan Jepang pada 2021 mencapai 32.5 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 36 persen dari 2020 yang sebesar 23.8 miliar dolar AS. Sementara, total perdagangan Januari-September 2022 sekitar 31.2 miliar dolar AS atau tumbuh 34,5 persen dari periode sama di 2021. Sedangkan, realisasi investasi dari Jepang pada 2021 sebesar 2.3 miliar dolar AS atau menurun 13 persen dibandingkan tahun lalu yakni 2.6 miliar dolar AS.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.