Dark/Light Mode

Hapus Kesenjangan Keterampilan Lewat Literasi Digital

Sabtu, 13 Juli 2024 20:26 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Peningkatan angka pengangguran yang menjadi fenomena saat ini di seluruh dunia tidak hanya disebabkan oleh kurangnya lapangan pekerjaan.

Namun juga, dipengaruhi adanya kesenjangan keterampilan atau skill gap. Digitalisasi yang cepat dan meluas mengubah sifat kebutuhan pekerjaan.

Itu sebabnya literasi digital menjadi penting diterapkan oleh semua orang untuk masuk dalam dunia kerja.

Saat ini, karyawan butuh literasi digital untuk masuk dalam beberapa teknologi baru dan mengikuti perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Namun saat ini ketersediaan Sumber Daya Manusia terbilang rendah jika dibanding dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang syarat akan literasi digital.

Baca juga : APOLIN Apresiasi Perpanjangan Kebijakan Gas Murah

Banyak perusahaan sekarang kesulitan mencari karyawan dengan kriteria SDM yang sudah terliterasi digital.

Hal tersebut membuktikan bahwa lapangan pekerjaan sebenarnya masih terbuka dengan lebar, tetapi SDM yang sesuai dengan lapangan pekerjaan tersebut yang masih minim.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memprediksi, pada tahun 2030 akan ada sembilan jenis lapangan pekerjaan yang hilang.

Hal ini menyusul gencarnya digitalisasi hampir pada semua sektor, yang tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga ada efeknya.

Untuk mengingatkan masyarakat akan fenomena tersebut, sekaligus mencegah adanya kesenjangan keterampilan (skill gap), Kementerian Komunikasi dan Informasi mengadakan diskusi yang digelar secara virtual Obral-obrol Literasi Digital (OOTD) dengan tajuk "Kenali dan Atasi Skill Gap" pada Jumat 12 Juli 2024.

Baca juga : CIMB Niaga Perluas Akses Dan Layanan Lewat Platform Digital Di Cirebon

Menurut Santi Indra Astuti, Anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital yang jadi pembicara dalam OOTD tersebut, skill gap sebenarnya lazim terjadi ketika adanya perkembangan teknologi.

Terlebih, jika teknologi tersebut sudah menjadi masif dan menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat.

Munculnya teknologi baru, lanjutnya, akan butuh difasilitasi oleh tenaga kerja baru. Celah inilah yang harus juga diimbangi oleh kemampuan SDM agar tidak terjadi skill gap.

“Lapangan pekerjaan bisa jadi berkah, tapi juga bisa jadi bencana ketika kita tidak bisa memanfaatkannya,” ujar Santi.

Skill gap ternyata juga dapat merugikan pihak perusahaan yang tentunya dapat berdampak pada perekonomian dan pendapatan negara.

Baca juga : Pertamina Gencarkan Energi Transisi Lewat Green Refinery Cilacap

Pasalnya, jika SDM tidak menguasai teknologi yang ada, produktivitas dan efisiensi perusahaan jelas akan menurun.

"Yang pasti produktivitas dan efisiensi menurun ketika apa yang seharusnya menjadi sebuah skill yang harus dikuasai untuk menyelesaikan pekerjaan itu tetapi hal tersebut tidak dikuasai oleh SDM-nya. Tentu produktivitas dan efisiensi menurun," ujar Ary Wibowo, anggota SIP Institute dan Indonesia Membangun Pemimpin.

Tidak hanya mengadakan diskusi secara daring, Kominfo juga membuka peluang masyarakat untuk mengasah kemampuan digitalisasi dengan membuat sejumlah program pelatihan.

Peluang itu terbuka bagi masyarakat umum, pelajar, pengusaha hingga pekerja.

"Kalau pelatihan kita sudah banyak ya. Kita banyak adakan pelatihan terkait hal-hal yang berbau dengan digital," tutup Anggota Bidang Literasi Digital Kominfo, Teguh Surya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.