Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan Sudan untuk memperkuat kerja sama di sektor farmasi antara kedua negara.
Kepala BPOM Taruna Ikrar sebelumnya mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Kesehatan Sudan, Haitham Mohamed Ibrahim Awadalla, di sela-sela Indonesia-Africa Forum (IAF) II, di Bali, Selasa (3/9/2024).
Taruna mengatakan, Sudan tengah menghadapi tantangan besar akibat perang saudara dan wabah kolera yang mengancam kesehatan masyarakat secara luas. Nah, sebagai sesama anggota National Medicines Regulatory Authorities (NMRAs) Organisation of Islamic Cooperation (OIC), BPOM terpanggil untuk memberikan dukungan penuh, baik melalui bantuan langsung maupun peningkatan kapasitas regulasi obat di Sudan.
"Dalam pertemuan bilateral ini, BPOM berkomitmen menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Sudan dan Asosiasi Farmasi Indonesia (Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia) untuk memberikan bantuan obat-obatan esensial guna mengatasi wabah kolera di Sudan," kata Taruna dalam keterangan, Jumat (6/9/2024).
Baca juga : BSI Maslahat Tebar Sembako Dan Bantuan Renovasi Masjid Di Kaki Gunung Lawu
Adapun obat-obatan yang dibutuhkan untuk dikirimkan meliputi zink, doksisiklin, azitromisin, eritromisin, dan siprofloksasin. BPOM juga akan mendukung Sudan dalam meningkatkan kapasitas regulasi obat melalui pelatihan dan transfer pengetahuan kepada otoritas regulatori Sudan.
Kedua negara juga akan membahas kemungkinan kerja sama lebih lanjut dalam evaluasi obat, inspeksi cara pembuatan obat yang baik (CPOB), dan pelepasan lot vaksin. Komitmen ini menegaskan peran BPOM sebagai regulator obat di Indonesia yang telah diakui oleh WHO dengan tingkat kematangan (maturity level) 3 dan 4, serta keanggotaannya dalam Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PIC/S).
Lebih lanjut, Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI) ini mengatakan, sebenarnya Indonesia telah beberapa kali mengirimkan bantuan medis darurat ke Sudan. Kerja sama ini juga menjadi bukti nyata dari solidaritas kemanusiaan Indonesia terhadap rakyat Sudan.
"Kami berharap bantuan yang kami berikan dapat meringankan beban penderitaan mereka dan berkontribusi pada pemulihan sektor kesehatan di Sudan,” katanya.
Baca juga : BI Lantik 2 Pemimpin Baru Satuan Kerja Di Kantor Pusat
Taruna menambahkan, sebagai tindak lanjut pertemuan bilateral ini, kedua belah pihak akan segera merumuskan dan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua negara. MoU ini akan mencakup berbagai aspek kerja sama, termasuk pertukaran informasi mengenai standar dan regulasi, penerapan regulatory reliance oleh Sudan terhadap BPOM, serta dukungan capacity building dari BPOM untuk memperkuat kapasitas regulatory di Sudan.
Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen Indonesia dalam memperkuat hubungan internasional dan berkontribusi dalam mengatasi krisis global. Kerja sama antara BPOM dan Sudan tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi juga bertujuan membangun fondasi yang kuat untuk kemitraan jangka panjang di sektor kesehatan," pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Sudan, Haitham Mohamed Ibrahim Awadalla, menyampaikan apresiasinya atas dukungan yang diberikan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. “Kerja sama ini sangat berarti bagi kami dalam menghadapi krisis kesehatan yang tengah melanda. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan semakin erat di masa mendatang,” ujarnya.
Haitham menuturkan, regulator obat Sudan menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama pada BPOM RI dalam mempercepat proses registrasi produk farmasi asal Indonesia. Langkah ini tidak hanya mempercepat akses produk farmasi Indonesia ke pasar Sudan, tetapi juga membuka peluang bagi transfer pengetahuan yang lebih mendalam mengenai regulasi obat.
Baca juga : Perkembangan Aturan Pandemi Dunia
"Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat sistem regulasi obat di Sudan, sekaligus memberikan peluang besar bagi industri farmasi Indonesia untuk memperluas pasar di wilayah tersebut," tambahnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya