Dark/Light Mode

Cegah Penyebaran Wabah ASF, Barantin Standby 24 Jam

Selasa, 17 Desember 2024 09:58 WIB
Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (16/12/2024). Foto: Istimewa
Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (16/12/2024). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Karantina Pertanian (Barantin) mengambil langkah cepat untuk menekan penyebaran penyait African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Salah satunya, dengan mengintruksikan Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) bersama aparat kementerian/lembaga lainnya dan Pemerintah daerah (Pemda) untuk segera melakukan langkah pengendalian wabah, termasuk penetapan status wabah, penutupan wilayah, serta penerapan biosekuriti pada Wilayah yang diduga terkena ASF di Papua dan Sulawesi.

Biosecurity dilakukan pada kandang peternak untuk mencegah penyebaran penyakit.

“Pemda diimbau untuk aktif berkoordinasi dengan kami. Barantin siap selama 24 jam, kami ada di setiap Provinsi. Kami siap memberikan pendampingan,” tegas Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (16/12/2024).

ASF, kata Sahat, telah menjangkit di beberapa daerah dan menyebabkan banyak peternak babi kehilangan hewan ternaknya, sehingga pasokan daging babi menjadi terbatas. Untuk atasi ini, Barantin telah menyiapkan beberapa langkah strategis.

Baca juga : Kasus Pencemaran Nama Baik, ABC News Setuju Bayar Rp 239,84 Miliar Ke Trump

Di antaranya, pengawasan barang bawaan penumpang menjadi prioritas, dengan fokus pada penyuluhan informasi (KIE) kepada penumpang, serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk _Avian Security_ (Avsec) ), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), TNI-Polri, dan penanggung jawab alat angkut.

Barantin juga akan melakukan respons cepat terhadap wabah ASF, yang meliputi pengujian, pelarangan, dan pemusnahan babi yang terinfeksi.

"Barantin akan berperan dalam pengawasan lalu lintas babi dan produk babi antarpulau, disinfeksi dan dekontaminasi di tempat pemasukan dan pengeluaran, serta alat angkut yang digunakan," sambungnya.

Sahat menegaskan, langkah pencegahan penyebaran ASF merupakan kebijakan yang sangat krusial untuk menghindari kelangkaan daging babi yang dapat memicu inflasi.

Selain itu, pengendalian penyakit ini juga merupakan bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak lokal.

Baca juga : Cegah Penyelundupan, Barantin Perketat Pengawasan Jelang Nataru

Sahat juga menegaskan pentingnya koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam pengendalian wabah ASF.

Pengadaan vitamin, pengawasan lalu lintas babi, serta pelaksanaan tanggap darurat menjadi bagian dari strategi mitigasi yang harus diterapkan di daerah yang terdampak wabah.

"Pengadaan vitamin, pengawasan lalu lintas babi, serta pelaksanaan tanggap darurat menjadi bagian dari strategi mitigasi yang harus diterapkan di daerah yang terdampak wabah," tambahnya.

Terpisah, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah, Ferdi memastika pihaknya telah menyiapkan berbagai terbosan dalam mencegah masuknya virus dan hama penyakit ke Papua. Salah satunya, dengan memasang fasilitas karpet disinfektan di Bandar Udara Douw Aturure.

"Hal ini untuk menekan penyebaran virus African Swine Fever (ASF) yang kemungkinan terbawa penumpang melalui alas kaki," kata Ferdi.

Baca juga : BSI Raih 2 Penghargaan Bank Indonesia Award 2024

Ferdi mengatakan, pemasangan karpet disinfektan ini sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran (SE) Deputi Bidang Karantina Hewan, Badan Karantina Indonesia, Nomor 4087/KR.120/C/12/2024 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian African Swine Fever Di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.

Surat Edaran tersebut berisi tentang pelarangan lalu lintas daging babi, sei babi, sosis babi, dan produk olahan babi lainnya ke Nabire, Papua Tengah. Ferdi menjelaskan, karpet disinfektan tersebut ditempatkan pada pintu keberangkatan dan kedatangan penumpang.

Para penumpang yang masuk atau keluar diwajibkan melewati karpet tersebut sehingga kemungkinan virus yang terbawa melalui alas kaki sudah terdisinfeksi.

“Sedangkan untuk barang-barang yang dibawa penumpang, karantina bekerja sama dengan instansi terkait dalam melakukan pemeriksaan. Jadi kalau ada kedapatan barang-barang bawaan yang terkait dengan bahan dari babi maka langsung ditahan untuk diperiksa,” pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :