Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Resmikan Hilirisasi Baterai Kendaraan Listrik, Prabowo Tidak Lupa Jasa Jokowi
Senin, 30 Juni 2025 08:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto meresmikan ekosistem industri baterai kendaraan listrik, di Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). Proyek senilai Rp 96,04 triliun ini, jadi sejarah baru percepatan hilirisasi di bidang energi. Prabowo lantas menyinggung peran Presiden ke-7 Jokowi yang selalu menekankan pentingnya hilirisasi energi.
Prabowo tiba di lokasi acara sekitar 13.50 WIB didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Seskab Teddy Indra Wijaya. Memakai setelan safari coklat khasnya dan berpeci hitam, Prabowo berjalan melihat poster dan maket rencana proyek Terintegrasi Konsorsium PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Konsorsium CATL, Brunp, serta Lygend (CBL) yang akan dibangun di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) ini.
Presiden dengan seksama mendengarkan penjelasan proyek pabrik hilirisasi itu dari Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, sebelum memasuki panggung utama acara.
Turut berjalan di belakang Presiden, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, Duta Besar China Untuk Indonesia Wang Lutong, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perumahan Maruarar Sirait, Menteri BUMN Erick Thohir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, hingga Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri.
Di awal sambutannya, Prabowo menyinggung soal cita-cita hilirisasi yang sudah ada sejak Presiden Soekarno. Kemudian, program hilirisasi dilanjutkan kembali oleh Presiden selanjutnya hingga Jokowi.
"Bung Karno sudah bercita-cita hilirisasi, dan presiden kita selanjutnya juga bercita-cita melaksanakan hilirisasi," kata Prabowo.
Secara khusus, Prabowo menegaskan, saat di era Jokowi, pentingnya hilirisasi kian ditekankan. Dari laporan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satgas Hilirisasi, proyek pembangunan ini, kata Presiden, sudah ada sejak 4 tahun lalu.
"Presiden Republik Indonesia yang ketujuh, Pak Joko Widodo berperan lebih menekankan pentingnya hilirisasi. Dan memulai secara nyata program hilirisasi di era sekarang, di era abad ke-21 ini," ungkap Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Menteri Pertahanan periode 2019-2024 ini mengajak publik mengingat sejarah dan peran para pendahulu yang telah membangun Indonesia. "Hormati para pendahulu yang berjasa," tekannya.
Baca juga : Bolehkan Rapat Di Luar Senayan, MK Senangkan Anggota DPR
Selain itu, Presiden mengungkapkan alasan kehadirannya di groundbreaking ini. Dia mengaku, amat jarang menghadiri acara peletakan batu pertama. Namun, karena sadar pentingnya nilai strategis proyek ini, dia menyempatkan hadir.
"Biasanya, saya tidak terlalu mau hadir di acara groundbreaking. Tapi saya sadar betul acara ini bersejarah dan punya nilai strategis," tuturnya.
Presiden menambahkan, proyek ini bukan sekadar simbol kemajuan teknologi. Proyek ini, merupakan upaya besar bangsa ini menuju kemandirian dan swasembada energi serta transisi ke industri ramah lingkungan.
Dengan swasembada energi, lanjut dia, maka dapat menghemat kocek negara hingga 58 miliar dolar AS atau sekitar Rp 938,15 triliun (kurs Rp 16.175) per tahun. "Kita akan hemat kurang lebih 58 miliar dolar AS tiap tahun dari subsidi bahan bakar dan listrik, impor bahan bakar dari luar," tegas eks Danjen Kopassus ini.
Kepala Negara menegaskan, Indonesia telah memulai upaya ini. Dari data para pakar, 5 hingga 7 tahun lagi Indonesia swasembada energi. Salah satu yang dapat dioptimalkan untuk swasembada adalah cahaya matahari atau tenaga surya. "Jalan kita ke sana adalah listrik, listrik dari tenaga surya dan kuncinya adalah baterai," tekan Prabowo.
Di akhir sambutan, Prabowo mengapresiasi kerja keras kebinetnya mewujudkan hilirisasi. "Para menteri telah bekerja baik, Kerja dengan cepat. Yang tidak bisa ikut cepat, kita tinggalkan di pinggir jalan saja," kata Prabowo menutup sambutannya dan dilanjut penekanan tombol sirine bersama sejumlah pejabat terkait.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalila mengungkapkan, proyek ini ditargetkan mampu memproduksi 15 gigawatt baterai kendaraan listrik. Atau setara dengan baterai untuk 250.000 sampai 300.000 mobil.
Menurutnya, Indonesia punya sebagian besar bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik, seperti nikel, mangan, dan kobal. Namun, belum menguasai teknologi secara komprehensif. Karena itu butuh bantuan perusahaan asing.
Bahlil menambahkan, dalam struktur proyek tersebut, BUMN menguasai 51 persen saham, termasuk melalui PT Aneka Tambang (Antam) di sektor hulu, HPAL (High Pressure Acid Leaching), dan smelter. Untuk lini precursor, katoda, hingga baterai sel, kepemilikan Indonesia minimal mencapai 30 persen.
Baca juga : Teken Kerja Sama Dagang, Amerika-China Sudah Akur
"Arahan Pak Presiden, tidak hanya baterai mobil, tapi juga baterai untuk mengisi listrik dalam mempergunakan solar panel atau Battery Energy Storage System (BESS)," tambahnyaa.
Proyek ini, kata Bahlil, juga menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 40 miliar dolar AS per tahun. "Ini bukan angka kecil. Dan ini setiap tahun ketika harganya naik, itu naik lagi," harap Bahlil.
Menteri BUMN Erick Thohir berterima kasih kepada Presiden yang memotivasi dan mendorong perusahaan pelat merah mengambil peran strategis dalam hilirisasi industri. Khususnya, dalam mendukung penuh transformasi menuju industri hijau, termasuk industri baterai terintegrasi.
Kementerian BUMN, tegas Erick, akan terus menjalankan pengawasan dan penugasan Pemerintah, berkolaborasi dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian dalam membangun kemandirian ekonomi melalui swasembada energi.
"Kita tidak hanya menambang nikel lalu mengekspor bahan mentah, tetapi mengolahnya hingga menjadi produk baterai bernilai tinggi," ungkap Ketua Umum PSSI ini.
Erick memproyeksikan, proyek ini akan menciptakan rantai nilai industri dalam negeri yang kuat. Dari penambangan nikel hingga produksi baterai berstandar global. Tak hanya memasok kebutuhan kendaraan listrik nasional, tapi juga menargetkan ekspor baterai berkualitas tinggi ke pasar global. BUMN bertekad mengikis peran Indonesia yang selama ini hanya sekadar pasar bagi produk luar negeri.
"Kita berbicara tentang 8.000 tenaga kerja langsung dan ribuan lapangan kerja lain secara tidak langsung, dari katering, transportasi, hingga UMKM lokal," harapnya.
Diketahui, ekosistem produksi baterai listrik nasional terintegrasi dari hulu ke hilir ini memiliki total investasi sebesar 5,9 miliar dolar AS dengan proyeksi menyediakan hingga 8.000 lapangan kerja.
Ekosistem ini total ada enam subproyek. Lima di antaranya berlokasi di Halmahera Timur dan satu di Karawang. Proyek Strategis Nasional (PSN) ini mencakup area seluas 3.023 hektare, serta pengembangan 18 proyek infrastruktur, termasuk dermaga multifungsi.
Baca juga : Prabowo Tetap Kerja Di Hari Libur
Selain itu, dirancang ramah lingkungan dengan pemanfaatan kombinasi energi seperti PLTU 2x150 MW, PLTG 80 MW, pembangkit dari limbah panas 30 MW, dan tenaga surya sebesar 172 MWp, termasuk 24 MWp di pabrik Karawang. Nantinya proyek ini akan memasok kebutuhan baterai untuk produsen kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dan battery energy storage.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menyatakan, hilirisasi dilanjutkan dengan industrialisasi, akan memperbesar peluang Indonesia mengambil peran strategis di pasar global. "Indonesia akan menjadi negara maju, negara yang berbasis pada industri," kata Fahmy dalam keterangannya.
Fahmy menekankan, investasi memang jangan berhenti hanya pada tahap pembangunan smelter. Tapi berlanjut hingga tahap akhir seperti pembuatan baterai hingga bahkan kendaraan listrik. Selain itu, transfer teknologi harus jadi strategi jangka panjang.
"Paling tidak lima tahun itu proses transfer teknologi, lima tahun kedua tenaga kerja Indonesia sudah mampu sendiri untuk menghasilkan baterai listrik," sebutnya.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengatakan, hilirisasi nikel yang dilaksanakan mulai kepemimpinan Jokowi, memberikan kontribusi besar untuk Indonesia. "Seperti kontribusi positif bagi pendapatan negara," ujar Toto.
Anggota Komisi XII DPR RI Gandung Pardiman menilai groundbreaking atau peletakan batu pertama untuk proyek baterai kendaraan listrik (EV) mendorong hilirisasi dan upaya transisi energi nasional. Ini mencerminkan arah kebijakan negara yang ingin keluar dari ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
"Namun, pembangunan tentunya tidak boleh menimbulkan kerusakan baru. Harus memperhatikan prinsip keberlanjutan, menjaga lingkungan, dan berpihak pada rakyat," pesan Gandung.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya