Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Menko Pratikno Menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI
Indonesia Ibarat Kereta Panjang Anak-anak Unggul Lokomotifnya
Kamis, 14 Agustus 2025 08:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan kebudayaan unggul untuk masa depan Indonesia.
Menurut Pratikno, fokusnya meliputi dua hal utama. Yaitu membangun SDM unggul dan membangun masyarakat unggul. SDM unggul diartikan sebagai individu sehat secara fisik, mental, dan moral, berpendidikan, serta memiliki keterampilan relevan. Sementara masyarakat unggul adalah masyarakat yang toleran, bersatu, bergotong royong, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi.
Dalam hal SDM unggul, kesehatan menjadi fondasi utama. Pemerintah terus menurunkan angka stunting yang kini tercatat 19,8 persen pada 2024, turun dari 27,4 persen pada 2019. Selain itu, pemerintah menekankan pendidikan merata melalui program revitalisasi sekolah, pembangunan rumah sakit di daerah pinggiran, digitalisasi pembelajaran, dan program Sekolah Rakyat untuk anak-anak keluarga kurang mampu. Anak-anak berbakat pun difasilitasi lewat program Sekolah Unggul Garuda dan Anak Unggul Indonesia, sehingga mereka dapat mengakses pendidikan berasrama dan peluang masuk perguruan tinggi kelas dunia.
“Indonesia ibarat kereta panjang. Anak-anak unggul adalah lokomotifnya. Gerbongnya panjang, yaitu seluruh rakyat, harus ikut bergerak maju bersama,” kata Pratikno, dalam wawancara khusus dengan Rakyat Merdeka, di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno (kiri depan) berfoto bersama usai melakukan sesi wawancara bersama Direktur Utama Rakyat Merdeka (RM) Kiki Iswara (kanan depan) didampingi Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati (ketiga kiri belakang), Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari (ketiga kanan belakang), Pemimpin Redaksi RM.id Firsty Hestyarini (tengah) beserta tim redaksi di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Wawancara ini dilakukan CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, didampingi Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, Pemimpin Redaksi RM Digital Firsty Hestyarini, Editor Bambang Trismawan, Fotografer Khairizal Anwar, dan tim RM Digital.
Berikut petikan lengkap perbincangan kami.
Dalam rangka menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI, kita ingin membahas pembangunan manusia dan kebudayaan. Terutama terkait pendidikan, peningkatan kualitas SDM, kesehatan, stunting, dan cek kesehatan gratis. Bagaimana makna semua program ini bagi usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia?
Baca juga : “Kita Nggak Boleh Saling Menghujat...”
Terima kasih. Selama 80 tahun kemerdekaan, banyak capaian yang sudah diraih bangsa kita di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan. Di bidang kesehatan, misalnya, angka harapan hidup kita pada tahun 1950-an masih di bawah 50 tahun. Sekarang sudah di atas 70 tahun. Indeks pembangunan manusia juga meningkat luar biasa. Tingkat melek huruf hampir 100 persen. Padahal di tahun 50-an masih sekitar 60 persen.
Kita patut bersyukur atas kemajuan ini. Namun yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan sekarang untuk menyongsong tahun-tahun berikutnya Indonesia merdeka. Karena itu, di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, kami fokus pada dua hal besar. Pertama, membangun SDM unggul. Yaitu yang sehat secara fisik, mental, dan moral, berpendidikan, serta memiliki keterampilan relevan. Kedua, membangun masyarakat unggul. Yaitu masyarakat yang toleran, bersatu, bergotong royong, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi untuk membawa Indonesia maju dan sejahtera bagi seluruh rakyat. Kalau disederhanakan, kita perlu SDM unggul, masyarakat unggul, dan kebudayaan yang unggul. Itulah PR kita ke depan.
Menyiapkan SDM unggul, tentu sudah ada master plan. Bagaimana menciptakan putra-putri terbaik yang bisa berkuliah di perguruan tinggi unggul, baik di dalam maupun luar negeri?
Kalau bicara SDM unggul, pondasi pertama ada di bidang kesehatan. Karena itu, pemerintah bekerja keras menurunkan prevalensi stunting. Saat ini, prevalensi stunting kita 19,8 persen pada 2024. Turun cukup signifikan dibanding 2019 yang masih 27,4 persen. Tapi target kita, angka ini harus terus turun. Sebab stunting bukan hanya berpengaruh pada tinggi dan berat badan, tapi juga pertumbuhan otak dan kecerdasan anak. Presiden menekankan ini sebagai program paling dasar yang harus diselesaikan. Konstitusi juga mengamanatkan bahwa semua rakyat berhak mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan. Jadi, yang berada di bawah ini harus kita angkat.
Jadi, pertama, turunkan stunting. Kedua, wujudkan education for all. Pendidikan untuk semua. Semua sekolah harus diperbaiki. Presiden Prabowo sudah memasukkan program revitalisasi sekolah sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Revitalisasi ini dilakukan di seluruh Indonesia. Selain itu, di bidang kesehatan juga dibangun rumah sakit di daerah pinggiran. Prinsipnya, untuk membangun SDM unggul, yang paling fundamental adalah kesehatan dan pendidikan yang merata, mulai dari SD. Jangan sampai ada yang tertinggal.
Selain revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran, ada juga program Sekolah Rakyat untuk anak-anak keluarga miskin. Pendidikan berasrama ini memberi ekosistem kehidupan yang sehat, lebih baik, dan membuat mereka percaya diri. Harapannya, mereka bisa menjadi orang hebat di masa depan.
Bagaimana sistem seleksi yang lebih detail dan luas, agar bibit-bibit unggul dari daerah terpencil bisa ditemukan, lalu dididik menjadi sumber daya manusia yang siap memimpin di masa depan?
Baca juga : Chico Hakim: Fokusnya Di Wilayah Yang Tidak Ada Sekolah Negeri
Selain pemerataan pendidikan dan kesehatan, kita juga harus memfasilitasi anak-anak yang berbakat luar biasa (gifted and talented). Banyak contoh anak dari desa dengan fasilitas terbatas, tapi bisa juara matematika, jago coding, atau berprestasi di musik.
Karena itu, Presiden dan Wakil Presiden juga punya program PHTC berupa Sekolah Unggul Garuda. Lulusan SMP terbaik masuk sekolah berasrama dengan kurikulum setara, baik di sekolah pemerintah maupun swasta. Targetnya, anak-anak ini bisa masuk perguruan tinggi kelas dunia.
Di Kemenko PMK, kami juga punya program anak unggul Indonesia. Kami membangun database untuk mengidentifikasi anak-anak berbakat dari seluruh Indonesia. Harapannya, bukan hanya pemerintah yang membiayai, tapi juga swasta dan yayasan bisa terlibat. Kami akan mempertemukan sponsor atau fasilitator dengan anak-anak unggul ini, sehingga sejak awal mereka bisa difasilitasi untuk mengembangkan potensinya.
Ibarat kereta panjang, Indonesia butuh lokomotif kemajuan. Anak-anak unggul yang memimpin. Tapi lokomotif itu tidak boleh meninggalkan gerbong yang panjang. Semua rakyat harus ikut bergerak maju bersama.
Tadi Bapak sempat menyinggung soal mencari bibit unggul dan mendirikan Sekolah Garuda. Kalau mereka dididik jadi putra-putri terbaik, tentu ini akan menjadi SDM berkualitas. Apakah sudah disiapkan sarana agar mereka bisa masuk perguruan tinggi terbaik?
Kebetulan Menko PMK juga menjabat Ketua Dewan Penyantun LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Pemerintah punya endowment fund atau dana abadi pendidikan, yang dikelola LPDP, dan berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Sekarang nilainya sudah lebih dari Rp 150 triliun, dan rencananya akan ditambah lagi oleh Presiden. Dana ini khusus untuk pengembangan SDM, terutama beasiswa ke berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia.
Beasiswa ini penting, bukan hanya untuk mencetak SDM unggul, tapi juga untuk mendukung pembangunan nasional. Presiden Prabowo mendorong percepatan industrialisasi. Itu butuh banyak engineer dan ahli di bidang STEM—sains, teknologi, engineering, dan matematika. Serta bidang pendukung seperti manajemen, hukum, sosiologi, dan lain-lain, sebagai penopang dari pengembangan industrialisasi ini.
Baca juga : Abdul Aziz: Jangan Sampai Program Ini Dianggap Cuma PHP
Pendidikan sekarang ini bukan hanya di sekolah, tapi juga di dunia digital? Bagaimana melindungi anak paparan negatif digital?
Pendidikan sekarang ekosistemnya luas. Apalagi sekarang ada kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Anak-anak bukan hanya memperoleh pembelajaran dari guru di sekolah atau dosen, tapi juga bisa berselancar melalui dunia digital.
Dunia digital memang memberikan banyak manfaat, tapi juga risiko. Ada konten yang bagus, tapi ada juga yang merugikan, seperti ujaran kebencian, hoaks, berita bohong, atau bahkan bullying online. Semua ini berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.
Karena itu, Bu Menteri Komdigi (Komunikasi dan Digital) Meutya Hafid menerbitkan regulasi terkait digitalisasi dan road map artificial intelligence, termasuk etika tata kelola. Kami di sini mengorkestrasi agar masyarakat, terutama anak-anak sekolah, dapat bijak dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan. Ini menjadi ekosistem yang harus kita jaga bersama, karena perkembangan teknologi saat ini memang sangat cepat. ***
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya