Dark/Light Mode

Menko Pratikno Menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI

Indonesia Ibarat Kereta Panjang Anak-anak Unggul Lokomotifnya

Kamis, 14 Agustus 2025 08:05 WIB
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno saat diwawancara tim redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno saat diwawancara tim redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan kebudayaan unggul untuk masa depan Indonesia.

Menurut Pratikno, fokusnya meliputi dua hal utama. Yaitu membangun SDM unggul dan membangun masyarakat unggul. SDM unggul diartikan sebagai individu sehat secara fisik, mental, dan moral, berpendidikan, serta memiliki keterampilan relevan. Sementara masyarakat unggul adalah masyarakat yang toleran, bersatu, bergotong royong, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi.

Dalam hal SDM unggul, ke­sehatan menjadi fondasi utama. Pemerintah terus menurunkan angka stunting yang kini tercatat 19,8 persen pada 2024, turun dari 27,4 persen pada 2019. Selain itu, pemerintah menekankan pendidikan merata melalui program revitalisasi sekolah, pembangunan rumah sakit di daerah pinggiran, digitalisasi pembelajaran, dan program Sekolah Rakyat untuk anak-anak keluarga kurang mampu. Anak-anak berbakat pun difasilitasi lewat program Sekolah Unggul Garuda dan Anak Unggul Indo­nesia, sehingga mereka dapat mengakses pendidikan beras­rama dan peluang masuk perguruan tinggi kelas dunia.

“Indonesia ibarat kereta pan­jang. Anak-anak unggul adalah lokomotifnya. Gerbongnya panjang, yaitu seluruh rakyat, harus ikut bergerak maju ber­sama,” kata Pratikno, dalam wawancara khusus dengan Rakyat Merdeka, di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (12/8/2025).

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno (kiri depan) berfoto bersama usai melakukan sesi wawancara bersama Direktur Utama Rakyat Merdeka (RM) Kiki Iswara (kanan depan) didampingi Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati (ketiga kiri belakang), Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari (ketiga kanan belakang), Pemimpin Redaksi RM.id Firsty Hestyarini (tengah) beserta tim redaksi di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

Wawancara ini dilakukan CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, didampingi Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, Pemimpin Redaksi RM Digital Firsty Hestyarini, Editor Bambang Trismawan, Fotografer Khairizal Anwar, dan tim RM Digital.

Berikut petikan lengkap perbincangan kami.

Dalam rangka menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI, kita ingin membahas pembangunan manusia dan kebu­dayaan. Terutama terkait pen­didikan, peningkatan kualitas SDM, kesehatan, stunting, dan cek kesehatan gratis. Bagaimana makna semua program ini bagi usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia?

Baca juga : “Kita Nggak Boleh Saling Menghujat...”

Terima kasih. Selama 80 tahun kemerdekaan, banyak capaian yang sudah diraih bangsa kita di bidang pembangunan manu­sia dan kebudayaan. Di bidang kesehatan, misalnya, angka harapan hidup kita pada tahun 1950-an masih di bawah 50 ta­hun. Sekarang sudah di atas 70 tahun. Indeks pembangunan ma­nusia juga meningkat luar biasa. Tingkat melek huruf hampir 100 persen. Padahal di tahun 50-an masih sekitar 60 persen.

Kita patut bersyukur atas ke­majuan ini. Namun yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan sekarang untuk men­yongsong tahun-tahun berikut­nya Indonesia merdeka. Karena itu, di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, kami fokus pada dua hal besar. Per­tama, membangun SDM unggul. Yaitu yang sehat secara fisik, mental, dan moral, berpendidi­kan, serta memiliki keterampilan relevan. Kedua, membangun masyarakat unggul. Yaitu ma­syarakat yang toleran, bersatu, bergotong royong, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi untuk membawa Indonesia maju dan sejahtera bagi seluruh rakyat. Kalau disederhanakan, kita perlu SDM unggul, masyarakat unggul, dan kebudayaan yang unggul. Itulah PR kita ke depan.

Menyiapkan SDM unggul, tentu sudah ada master plan. Bagaimana menciptakan pu­tra-putri terbaik yang bisa berkuliah di perguruan tinggi unggul, baik di dalam maupun luar negeri?

Kalau bicara SDM unggul, pondasi pertama ada di bidang kesehatan. Karena itu, pemerin­tah bekerja keras menurunkan prevalensi stunting. Saat ini, prevalensi stunting kita 19,8 persen pada 2024. Turun cukup signifikan dibanding 2019 yang masih 27,4 persen. Tapi tar­get kita, angka ini harus terus turun. Sebab stunting bukan hanya berpengaruh pada tinggi dan berat badan, tapi juga per­tumbuhan otak dan kecerdasan anak. Presiden menekankan ini sebagai program paling dasar yang harus diselesaikan. Kon­stitusi juga mengamanatkan bahwa semua rakyat berhak mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan. Jadi, yang berada di bawah ini harus kita angkat.

Jadi, pertama, turunkan stunting. Kedua, wujudkan educa­tion for all. Pendidikan untuk semua. Semua sekolah harus diperbaiki. Presiden Prabowo sudah memasukkan program re­vitalisasi sekolah sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Revitalisasi ini dilakukan di seluruh Indonesia. Selain itu, di bidang kesehatan juga dibangun rumah sakit di daerah pinggiran. Prinsipnya, untuk membangun SDM unggul, yang paling fundamental adalah kesehatan dan pendidikan yang merata, mulai dari SD. Jangan sampai ada yang tertinggal.

Selain revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran, ada juga program Sekolah Rakyat untuk anak-anak keluarga miskin. Pendidikan berasrama ini memberi ekosistem kehidu­pan yang sehat, lebih baik, dan membuat mereka percaya diri. Harapannya, mereka bisa men­jadi orang hebat di masa depan.

Bagaimana sistem seleksi yang lebih detail dan luas, agar bibit-bibit unggul dari daerah terpencil bisa ditemukan, lalu dididik menjadi sumber daya manusia yang siap memimpin di masa depan?

Baca juga : Chico Hakim: Fokusnya Di Wilayah Yang Tidak Ada Sekolah Negeri

Selain pemerataan pendidikan dan kesehatan, kita juga harus memfasilitasi anak-anak yang berbakat luar biasa (gifted and talented). Banyak contoh anak dari desa dengan fasilitas terba­tas, tapi bisa juara matematika, jago coding, atau berprestasi di musik.

Karena itu, Presiden dan Wakil Presiden juga punya pro­gram PHTC berupa Sekolah Unggul Garuda. Lulusan SMP terbaik masuk sekolah beras­rama dengan kurikulum setara, baik di sekolah pemerintah mau­pun swasta. Targetnya, anak-anak ini bisa masuk perguruan tinggi kelas dunia.

Di Kemenko PMK, kami juga punya program anak unggul Indonesia. Kami membangun database untuk mengidentifikasi anak-anak berbakat dari seluruh Indonesia. Harapannya, bukan hanya pemerintah yang mem­biayai, tapi juga swasta dan yayasan bisa terlibat. Kami akan mempertemukan sponsor atau fasilitator dengan anak-anak unggul ini, sehingga sejak awal mereka bisa difasilitasi untuk mengembangkan potensinya.

Ibarat kereta panjang, Indo­nesia butuh lokomotif kemajuan. Anak-anak unggul yang me­mimpin. Tapi lokomotif itu tidak boleh meninggalkan gerbong yang panjang. Semua rakyat ha­rus ikut bergerak maju bersama.

Tadi Bapak sempat menyinggung soal mencari bibit unggul dan mendiri­kan Sekolah Garuda. Kalau mereka dididik jadi putra-putri terbaik, tentu ini akan menjadi SDM berkualitas. Apakah sudah disiapkan sa­rana agar mereka bisa masuk perguruan tinggi terbaik?

Kebetulan Menko PMK juga menjabat Ketua Dewan Penyan­tun LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Pemerintah punya endowment fund atau dana abadi pendidikan, yang dikelola LPDP, dan berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Sekarang nilainya sudah lebih dari Rp 150 triliun, dan ren­cananya akan ditambah lagi oleh Presiden. Dana ini khusus untuk pengembangan SDM, terutama beasiswa ke berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia.

Beasiswa ini penting, bukan hanya untuk mencetak SDM unggul, tapi juga untuk mendu­kung pembangunan nasional. Presiden Prabowo mendorong percepatan industrialisasi. Itu butuh banyak engineer dan ahli di bidang STEM—sains, teknologi, engineering, dan matematika. Serta bidang pen­dukung seperti manajemen, hukum, sosiologi, dan lain-lain, sebagai penopang dari pengem­bangan industrialisasi ini.

Baca juga : Abdul Aziz: Jangan Sampai Program Ini Dianggap Cuma PHP

Pendidikan sekarang ini bu­kan hanya di sekolah, tapi juga di dunia digital? Bagaimana melindungi anak paparan negatif digital?

Pendidikan sekarang eko­sistemnya luas. Apalagi seka­rang ada kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Anak-anak bukan hanya mem­peroleh pembelajaran dari guru di sekolah atau dosen, tapi juga bisa berselancar melalui dunia digital.

Dunia digital memang mem­berikan banyak manfaat, tapi juga risiko. Ada konten yang bagus, tapi ada juga yang meru­gikan, seperti ujaran kebencian, hoaks, berita bohong, atau bahkan bullying online. Semua ini berpengaruh terhadap kes­ehatan mental anak.

Karena itu, Bu Menteri Kom­digi (Komunikasi dan Digital) Meutya Hafid menerbitkan regulasi terkait digitalisasi dan road map artificial intelligence, termasuk etika tata kelola. Kami di sini mengorkestrasi agar masyarakat, terutama anak-anak sekolah, dapat bijak dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan. Ini menjadi ekosistem yang harus kita jaga bersama, karena perkembangan teknologi saat ini memang sangat cepat. ***
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.