Dark/Light Mode

Menko Pratikno Menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI

Indonesia Ibarat Kereta Panjang Anak-anak Unggul Lokomotifnya

Kamis, 14 Agustus 2025 08:05 WIB
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno saat diwawancara tim redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno saat diwawancara tim redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
 

Cek Kesehatan Gratis Tingkatkan Produktivitas Nasional

Soal Cek Kesehatan Gratis, bagaimana sosialisasinya? Apakah hanya dilakukan Ke­menkes atau melibatkan stake­holder di bawah koordinasi PMK?

Jadi, Cek Kesehatan Gratis ini program yang sangat besar, luar biasa dari Pak Presiden Prabowo, karena akan men­jangkau seluruh rakyat Indone­sia. Memang dilakukan secara bertahap. Pertama, pada 10 Februari lalu sudah diluncur­kan untuk umum. Lalu, baru-baru ini juga kami launching pemeriksaan kesehatan gratis di sekolah. Intinya, program ini menunjukkan bahwa paradigma kita bergeser dari paradigma kuratif menjadi paradigma preventif.

Pemeriksaan kesehatan di­lakukan sebelum terlambat, sebelum penyakit menjadi lebih kronis. Lebih dari itu, tujuannya menjaga hidup sehat dan men­ciptakan ekosistem kehidupan yang sehat. Bukan hanya terkait asupan makanan, tetapi juga air bersih, sanitasi, gaya hidup, olahraga, termasuk manajemen stres.

Baca juga : “Kita Nggak Boleh Saling Menghujat...”

Memang, leading agency-nya adalah Kementerian Kesehatan karena pemeriksaan dilaku­kan oleh Puskesmas di seluruh Indonesia. Ini bagian dari cara pemerintah mengaktifkan Puskesmas sebagai garda terdepan dalam memonitor kesehatan ma­syarakat dan mencegah penyakit. Maka, yang paling sibuk saat ini adalah dokter dan tenaga medis Puskesmas.

Banyak pihak ikut mendukung. Pemerintah daerah punya peran penting. Untuk CKG di sekolah, ada keterlibatan sekolah, Di­nas Pendidikan, Kemendikdas­men, Kemenag, dan pihak lain. Mereka menyiapkan segala pendukungnya, termasuk guru dan kesiapan sekolah. Semen­tara itu, Kemenkes bersama Dinas Kesehatan menyiapkan tenaga medis yang melakukan pengecekan.

Untuk daerah 3T apakah ada effort khusus?

Iya. Masalahnya memang jarak. Karena itu, strategi pemerintah bukan hanya warga yang datang ke Puskesmas, tetapi juga tenaga medis yang datang ke warga. Strategi ini terutama untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau atau sulit mengakses pelayanan Puskesmas. Kita pu­nya pengalaman ini saat vaksi­nasi Covid-19. Waktu itu, justru petugas nakes yang berkeliling ke daerah-daerah pelosok. Karena itu, Kementerian Kesehatan memberi perhatian dan dukungan khusus untuk wilayah-wilayah yang jarak tempuhnya jauh atau sulit dijangkau. Kalau di perkotaan, Puskesmas relatif dekat dan mudah diakses. Tapi di pelosok, ada yang harus menye­berang pulau, atau menghadapi infrastruktur transportasi yang tidak memadai. Itu tentu memer­lukan perlakuan khusus.

Baca juga : Chico Hakim: Fokusnya Di Wilayah Yang Tidak Ada Sekolah Negeri

Dari sisi ketersediaan tenaga medis, tidak ada masalah be­rarti, karena pemeriksaan kesehatan ini memang bisa dilaku­kan oleh tenaga-tenaga medis di Puskesmas. Jadi yang lebih jadi tantangan adalah soal akses dan jarak.

Kegiatan preventif ini penting karena akan lebih menjaga kesehatan masyara­kat ya, Pak?

Iya, betul. Karena kalau orang sudah sakit, produktivitasnya sudah pasti turun. Ketika sakit­nya sudah kronis, biaya pengo­batan yang harus ditanggung, baik oleh yang bersangkutan maupun oleh pemerintah, kan jauh lebih besar. Kita sering punya jargon: sakit itu pengali nol dari kompetensi atau ke­mampuan. Artinya, misalnya kita di sekolah seharusnya dapat nilai 8, kalau sakit-sakitan ya 8 × 0 hasilnya tetap 0. Jadi, ini menjadi fundamental sekali untuk menjaga produktivitas nasional kita.

Kalau untuk cek kesehatan gratis ini, dilakukan setahun sekali atau setahun dua kali?

Baca juga : Abdul Aziz: Jangan Sampai Program Ini Dianggap Cuma PHP

Layanannya akan setahun sekali. Tetapi, misalnya dalam pemeriksaan itu ditemukan ada penyakit, maka yang bersangkutan diminta langsung berobat ke Puskesmas terdekat. Itu sudah bagian dari SOP cek kesehatan gratis.

Artinya, pasien akan termoni­tor. Jadi bukan sekali cek lalu menunggu setahun lagi. Ketika setelah cek ada layanan pengobatan, otomatis ada proses monitoring. Minimal setahun ke­mudian akan dicek lagi melalui pemeriksaan gratis berikutnya.

Kalau setelah pemeriksaan ada masalah kesehatan, tentu yang bersangkutan akan bero­bat, dan itu akan dimonitor lagi. Yang penting, sambil berjalan, kita juga mengedukasi masyara­kat untuk hidup sehat dan mem­bangun lingkungan yang sehat. Lewat sekolah, kita sekaligus bisa mengedukasi masyarakat secara lebih luas. ***
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.