Dark/Light Mode

Kemenbud Luncurkan BUDAYA GO! Dorong Inovasi Digital Kebudayaan

Sabtu, 25 Oktober 2025 12:29 WIB
Kementerian Kebudayaan meluncurkan BUDAYA GO!. Kompetisi Inovasi Digital Budaya Indonesia. (Foto: Hendrawan K. Wijaya/RM)
Kementerian Kebudayaan meluncurkan BUDAYA GO!. Kompetisi Inovasi Digital Budaya Indonesia. (Foto: Hendrawan K. Wijaya/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kebudayaan resmi meluncurkan BUDAYA GO! Kompetisi Inovasi Digital Budaya Indonesia, sebuah program yang menghubungkan dunia kebudayaan dan teknologi digital sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan di era transformasi teknologi.

Acara peluncuran yang digelar di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A, Kementerian Kebudayaan RI, Senayan, Jakarta, Kamis (23/10/2025), dihadiri oleh jajaran pejabat kementerian, komunitas budaya, akademisi, pengembang teknologi, dan perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah.

Peluncuran ini sekaligus menjadi pembuka masa pendaftaran kompetisi BUDAYA GO!, yang terbuka untuk kategori Mahasiswa dan Profesional di seluruh Indonesia.

Sebagai bagian dari peluncuran, digelar bincang inspiratif bertajuk “Titik Temu Budaya dan Teknologi”, menghadirkan dua sosok dari dua dunia yang berbeda, namun saling terkait.

Keduanya yakni, Basuki Teguh Yuwono, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya, dengan Shinta Dhanuwardoyo, Founder Bubu.com dan pelaku ekosistem digital nasional.

Diskusi ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog terbuka tentang bagaimana budaya dan teknologi dapat saling memperkuat, bukan saling bertentangan.

Baca juga : Pemkab Kulon Progo Dukung Transformasi Pengadaan Digital Lewat Pemberdayaan UMKM Lokal

Dalam sesi diskusi, Basuki Teguh Yuwono menekankan pentingnya menempatkan teknologi dalam posisi yang strategis dalam pengembangan budaya nasional.

“Teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari media kebudayaan itu sendiri. Ia harus menjadi jembatan yang menghubungkan warisan budaya dengan masa depan, tanpa menghilangkan makna dan nilai tradisinya,” ujarnya.

Basuki mencontohkan dunia wayang dan keris, dua warisan budaya yang mampu bertahan karena selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Wayang tidak pernah mati karena terus menemukan bentuk baru. Begitu juga keris. Saya mencoba mendokumentasikannya lewat film pendek, digitalisasi, dan sertifikat digital agar lebih mudah diakses generasi muda. Itulah wujud bagaimana teknologi memperkuat nilai budaya,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa pelaku budaya harus mampu menempatkan teknologi secara proporsional, baik dalam proses kreatif maupun dalam menjaga autentisitas.

“Kebudayaan yang kuat adalah kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai dan identitasnya,” tegasnya.

Baca juga : Kemenag Luncurkan Dua Kampung Zakat di Keerom, Perkuat Ekonomi Umat Papua

Basuki juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pelaku budaya, inovator digital, dan akademisi.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Dunia kebudayaan harus menggandeng dunia teknologi, karena sinergi inilah yang akan melahirkan inovasi dan memperluas jangkauan budaya Indonesia di tingkat global,” ujarnya.

Dalam perspektif dunia teknologi, Shinta Dhanuwardoyo menambahkan bahwa kemajuan teknologi justru membuka ruang baru bagi budaya untuk berkembang dan berinteraksi dengan masyarakat luas.

“Teknologi bukan lawan budaya. Justru teknologi menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat pada kekayaan budayanya,” ungkap Shinta.

Menurutnya, definisi budaya kini semakin luas. Tidak hanya mencakup warisan tradisional seperti batik, tarian, atau musik daerah, tetapi juga mencakup budaya digital seperti fashion, konten kreatif, gaming, hingga gaya hidup digital yang menjadi bagian dari ekspresi budaya masa kini.

“Dengan hadirnya teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), AR/VR, dan platform digital, memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia menjadi jauh lebih mudah. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita mengemasnya dengan cara yang menarik, interaktif, dan relevan dengan bahasa generasi muda,” jelasnya.

Baca juga : Pertamina Luncurkan Aplikasi Mobile Layanan Informasi Publik

Shinta juga menilai bahwa program BUDAYA GO! merupakan langkah konkret dari pemerintah untuk menjembatani generasi muda dengan kebudayaan nasional melalui pendekatan teknologi.

“Program ini bisa menjadi platform penting agar anak muda tidak hanya menjadi penikmat budaya, tapi juga pencipta dan penggerak. Mereka bisa membawa budaya Indonesia masuk ke ruang digital global,” tambahnya.

Sebagai kompetisi inovasi digital, BUDAYA GO! membuka ruang bagi peserta untuk menciptakan solusi digital yang mendorong pemajuan kebudayaan melalui berbagai cakupan bentuk teknologi digital seperti Web App, Mobile App, Artificial Intelligence (AI), Game AR/VR, atau kombinasi dari semuanya.

Program ini menekankan kolaborasi antara pelaku budaya dan pelaku teknologi mulai dari tim kerja, mentor, hingga dewan juri grand final. Total apresiasi yang disediakan mencapai Rp 450 juta.

Peserta akan melalui tahapan seleksi administrasi, pendalaman substansi, pendampingan mentor, hingga penjurian grand final. Pendaftaran kompetisi telah resmi dibuka dan dapat diakses melalui laman resmi BUDAYA GO!.

Peluncuran Budaya GO! juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Kebudayaan 2025, yang menandai langkah baru dalam membawa kebudayaan Indonesia bertransformasi di tengah kemajuan teknologi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.