Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah
- Terima Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel Disisir Densus 88
- TikTok Perkuat Transparansi dan Literasi Konten Buatan AI
- PGN Sebut Jaringan Gas Sumatera Makin Kuat, Investor Diajak Lihat Langsung
- Disebut sebagai Sahabat, Kapolri Panggil Jaksa Agung Kakak Asuh
Bidang Kesehatan Cetak Sejarah Baru
50,5 Juta Orang Sudah Cek Kesehatan Gratis, 95 Persen Terdeteksi Mager Alias Malas Gerak
Kamis, 6 November 2025 07:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Cek Kesehatan Gratis mencatat sejarah. Sebanyak 50,5 juta peserta dari seluruh Indonesia telah memanfaatkan fasilitas ini. Kini, Pemerintah jadi memiliki data penting, gambaran kesehatan masyarakat Indonesia.
Kementerian Kesehatan mengungkapkan, program CKG dengan program hasil cepat terbaik atau disebut PHTC menunjukkan tingginya jumlah warga yang kurang melakukan aktivitas fisik. Dalam bahasa anak muda sekarang, mereka yang kurang bergerak biasa disebut mager alias malas gerak, yaitu mencapai 95,8 persen. Dan temuan lainnya yang cukup signifikan adalah pada masalah kesehatan gigi, obesitas dan tekanan darah.
Program CKG berlangsung sejak 10 Februari hingga 4 November 2025 mendapat sambutan publik luar biasa. Jumlah yang mendaftar sebanyak 53,6 juta orang. Dan sebanyak 50,5 juta di antaranya telah mengikuti pemeriksaan kesehatan. Dari jumlah ini, kegiatan CKG yang bersifat umum tercatat ada 34,4 juta orang. Sementara 16,2 juta peserta berasal dari program CKG di sekolah-sekolah.
Capaian program tersebut memang cukup membanggakan. Namun, data yang diperoleh justru menunjukkan perlunya Pemerintah memberi perhatian khusus pada sejumlah masalah kesehatan.
Baca juga : Ada Jejak Indonesia Di Australian War Memorial Museum
Berdasarkan data akhir Oktober 2025, pada kelompok peserta dewasa yang melakukan CKG ditemukan, hampir seluruhnya masuk kategori kurang aktivitas fisik (96%), karies gigi (41,9%), obesitas sentral (32,9%), overweight dan obesitas (24,4%). Temuan ini mengonfirmasi bahwa meskipun jenis penyakit tersebut tidak menular, namun jadi ancaman di kelompok usia produktif.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, besarnya partisipasi masyarakat pada program CKG menunjukkan peningkatan kesadaran publik. Sekaligus membuka ruang besar untuk memperkuat program promotif dan preventif atau pencegahan penyakit.
“Ada lebih dari 50,5 juta peserta yang mengikuti program CKG. Ini merupakan tonggak penting bagi upaya kesehatan nasional. Namun data CKG juga memberi peringatan serius bahwa aktivitas fisik dan pola hidup sehat harus semakin menjadi prioritas bersama,” ujar Menkes Budi, Selasa (4/11).
Menkes menegaskan bahwa CKG bukanlah sekadar pemeriksaan massal, tetapi jadi instrumen strategis deteksi dan tatalaksana dini untuk penyakit. Semakin cepat sebuah penyakit ditangani dan diobati maka peluang sembuhnya lebih besar. Bahkan, bisa menghindarkan seseorang dari penyakit katastropik dan kecacatan bahkan kematian.
“Program ini bukan hanya soal jumlah peserta, tapi hasil datanya digunakan untuk memperkuat kebijakan, layanan kesehatan, dan intervensi di masyarakat,” tambah Budi.
18,6% Bayi Baru Lahir Beresiko Kelainan Saluran Empedu
Hasil data CKG juga mendapatkan temuan di kelompok usia lainnya. Pada bayi baru lahir, ditemukan risiko kelainan saluran empedu (18,6%), berat badan lahir rendah (6,1%), dan penyakit jantung bawaan kritis (5,5%).
Pada balita dan anak prasekolah, ditemukan masalah kesehatan yang mendominasi, yaitu gigi tidak sehat (31,5%), stunting (5,3%) dan wasting (3,8%). Sementara di kalangan remaja dan pelajar, ditemukan aktivitas fisik kurang (60,1%), karies gigi (50,3%), dan anemia (27,2%). Data ini menunjukkan, rupanya pola hidup tidak aktif sudah terbentuk sejak usia muda.
Di kelompok lansia pun, ada temuan yang mirip. Sebanyak 96,7% lansia, ternyata diketahui kurang melakukan aktivitas fisik dan 37,7% mengalami hipertensi.
Baca juga : Ketua Golkar Bengkulu: Ini Partai, Bukan Ormas
Menurut Menkes Budi, hasil CKG akan digunakan untuk memperkuat kebijakan kesehatan dan promosi gaya hidup sehat di masa mendatang.
“Harapannya, masyarakat bukan hanya sembuh dari penyakit, tapi mampu menjaga kesehatannya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Menkes, keberhasilan pelaksanaan CKG tidak lepas dari kolaborasi tenaga medis, tenaga kesehatan, serta dukungan puskesmas dan pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
“Kami mengapresiasi kerja keras dan dedikasi seluruh petugas kesehatan yang terlibat serta pemerintah daerah. Tanpa mereka, mustahil program sebesar ini bisa berjalan sukses dan berdampak luas,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya