Dark/Light Mode

Kementan Tinjau Program P2B Di Kulon Progo Dan Sleman

Sabtu, 15 November 2025 07:58 WIB
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikutlura Kementan Agung Sunusi saat mengunjungi KWT TUnas Melati, Sleman, Yogyakarta, Kamis (13/11/2025). Foto: Kementan
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikutlura Kementan Agung Sunusi saat mengunjungi KWT TUnas Melati, Sleman, Yogyakarta, Kamis (13/11/2025). Foto: Kementan

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong kemandirian pangan keluarga melalui Program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) mulai menunjukkan hasil nyata di sejumlah wilayah.

Di Kabupaten Kulon Progo dan Sleman, para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) merasakan manfaat langsung berupa penghematan belanja harian, meningkatnya gizi keluarga, hingga terbukanya peluang usaha baru.

Program yang diinisiasi Direktorat Jenderal Hortikultura ini dirancang untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan gizi keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah.

Selain sebagai penjaga ketahanan pangan keluarga, P2B juga mendukung program pemerintah ‘Makan Bergizi Gratis’ (MBG) dan menumbuhkan kemandirian pangan di tingkat desa.

Ketua KWT Lestari, Suratini, tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya ketika menceritakan hasil yang telah dicapai kelompoknya sejak menerima bantuan Agustus 2025 lalu.

Baca juga : Dukung Keberlanjutan, Peruri Gelar Program ATA MODO Di Desa Komodo

“Alhamdulillah, untuk cabe ini sudah lima kali panen,” ujarnya saat ditemui di lahan pekarangan kelompok di Dusun Kamal, Desa Karangsari, Pengasih, Kulon Progo, Kamis (13/11/2025).

Selain cabai, kelompoknya juga telah memanen terong, meski mengakui tidak semua bibit dapat tumbuh optimal. Namun manfaatnya sudah sangat terasa. “Sekarang tidak beli cabe dan sayur lagi di pasar. Lebih irit. Kalau panen lebih bisa dijual ke warung-warung dan warga sekitar,” tutur Suratini.

Dia bahkan menuturkan dengan polos bahwa hasil penjualan ke depan diharapkan bisa membantu menambah pemasukan keluarga. “Insya Allah kalau panennya bagus terus, hasilnya bisa dijual, keuntungannya buat beli mobil,” candanya, disambut tawa anggota lain.

Cerita serupa disampaikan Ketua KWT Tunas Melati di Kelurahan Sendangadi, Sleman, Neng Wijayanti. Hanya dalam kurun beberapa bulan, kelompoknya sudah panen cabai lima kali dengan total hasil mencapai 85 kilogram.

“Harga cabe keriting kami jual Rp 40 ribu per kilogram, cabe rawit merah Rp 25 ribu. Hasil panen kami pakai kebutuhan kelompok, selebihnya memenuhi permintaan warga,” jelasnya.

Baca juga : Kemenimipas Rancang Pedoman RKA K/L, Sinkronkan Program Dan Anggaran

Ia mengaku sebelumnya tidak pernah menanam cabai secara serius, namun kini justru merasa tertantang untuk terus mengembangkan program ini. “Sekarang kami sudah tahu cara menanam yang benar. Harapannya program ini berkesinambungan,” katanya.

Ketua KWT Asta Kencana, Sukiyem, menyampaikan bahwa ekonomi rumah tangganya terbantu secara signifikan. “Alhamdulillah, kebutuhan dapur sudah jauh lebih irit,” ungkapnya.

Setiap pekarangan yang semula kosong kini berubah menjadi sumber pangan bergizi. Anak-anak dan cucu pun ikut bangga. “Kalau beli di pasar malah dibilang cucu, ‘memang P2B buat hiasan?’,” ujar Suratini sambil tersenyum.

Dirjen Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Agung Sanusi, menyampaikan bahwa sebanyak 13.500 KWT di 33 provinsi telah menerima bantuan P2B pada tahun 2025. Bantuan senilai Rp 12,3 juta per KWT tersebut berupa 450 polybag bibit cabai keriting & rawit.

Selain itu, benih sayuran: tomat, kangkung, wortel, kacang panjang, terong, buncis, bibit pisang (60 polybag) dan jagung (60 polybag), sprayer elektrik, insektisida nabati, perangkap likat kuning, pupuk NPK 200 kg dan KNO3 25 kg.

Baca juga : Rakernas Perindo Lahirkan 11 Program Dukungan Pemerintah

Menurut Agung, bibit cabai yang diserahkan merupakan jenis unggul yang bisa dipanen cepat, maksimal 1,5 bulan setelah tanam. Dengan potensi hasil 0,5 kg per polybag, sekali panen kelompok bisa menghasilkan hingga 250 kilogram.

“Sebagian dikonsumsi, sebagian dijual, dan sebagian untuk suplai program MBG,” jelas Agung.

Program ini, tegasnya, adalah stimulan agar masyarakat terbiasa menanam pangan secara mandiri. “Kalau semua kelompok ini berhasil, ke depan komoditas seperti cabai tidak akan bermasalah lagi,” tutupnya optimistis.

Program P2B yang diinisiasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan gizi keluarga melalui pemanfaatan pekarangan.

Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga, mendukung program pemerintah terkait pangan, khususnya 'Makan Bergizi Gratis' (MBG) dan menumbuhkan kemandirian pangan di tingkat keluarga dan desa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.