Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wamen Fajar Ceritakan Peran Soemitro Dalam Arah Kebijakan Pendidikan Nasional
Selasa, 2 Desember 2025 18:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan, Presiden Prabowo Subianto memberi mandat khusus agar pemerintah hadir lebih dekat dengan seluruh pemangku kepentingan pendidikan—termasuk di daerah terdepan dan terluar. Hal itu ia sampaikan dalam Dialog Pendidikan di Tarakan, Kalimantan Utara, Selasa (2/12/2025). Fajar menekankan, perhatian Presiden terhadap dunia pendidikan bukan hanya besar, tetapi juga bersifat menyeluruh, mulai dari infrastruktur sekolah hingga transformasi pembelajaran digital.
Dalam dialog tersebut, Wamen Fajar kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui percepatan pembangunan fisik sekolah dan penguatan infrastruktur pendukung pembelajaran. Ia menyebut sejumlah program yang sudah dan sedang berjalan, termasuk pembangunan ribuan ruang kelas baru dan sistem pendukung belajar yang lebih modern.
“Bapak Presiden memberi mandat yang sangat jelas: kita harus menggotong dunia pendidikan bersama-sama agar betul-betul bermutu untuk semua,” ujarnya.
Baca juga : Kemenko Kumham Imipas Mantapkan Peran Strategis Sinkronisasi Kebijakan
Menariknya, Fajar juga menyinggung sisi historis komitmen Prabowo terhadap dunia pendidikan. Ia menjelaskan, darah pendidikan sebenarnya sudah melekat kuat dalam diri Presiden, karena ia merupakan putra dari ekonom dan teknokrat besar Indonesia, Profesor Soemitro Djojohadikoesoemo.
“Banyak yang mengenal Profesor Soemitro sebagai ekonom, tetapi belum banyak yang tahu bahwa beliau adalah arsitek kebijakan pendidikan nasional,” terang Fajar.
Soemitro, kata dia, merupakan anggota Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional era Mendikbud Daoed Joesoef, komisi yang merumuskan kebijakan dasar sistem pendidikan nasional yang kemudian melahirkan UU Sisdiknas 1989.
Baca juga : Pertamina Salurkan TJSL Ke Sektor Pendidikan Dan Sosial Di Magelang
Karena itu, Fajar menilai wajar jika berbagai kebijakan pendidikan Prabowo bersifat masif dan kolosal. Salah satunya terlihat dalam program revitalisasi sekolah. Tahun ini, pemerintah merevitalisasi lebih dari 16 ribu satuan pendidikan, melampaui target awal 10.440 sekolah, tanpa tambahan anggaran.
“Pendekatan swakelola membuat jumlahnya melonjak. Tahun depan, Bapak Presiden memutuskan untuk melipatgandakan bantuan revitalisasi menjadi 60 ribu sekolah,” ujarnya.
Program revitalisasi ini turut menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja. Sedikitnya 300 ribu pekerja terlibat dalam proses renovasi sekolah di berbagai daerah. “Kalau 300 ribu orang bekerja, maka dapurnya hidup. Ini efek ekonomi yang langsung terasa,” kata Fajar.
Baca juga : PGN Edukasi Warga Tarakan Soal Keamanan Pakai Gas Bumi
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga mulai mendistribusikan interactive flat panel (IFP) ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari digitalisasi pembelajaran. Inisiasi ini disebut sebagai “revolusi pendidikan” yang diyakini akan mendorong lompatan besar kualitas pembelajaran nasional. Fajar menyebut langkah Presiden Prabowo ini sebagai pembangunan pendidikan paling masif setelah era Presiden Soeharto yang membangun hampir 150 ribu SD Inpres pada masa Orde Baru.
“Setelah SD Inpres, belum ada pembangunan infrastruktur pendidikan yang semasif ini, kecuali sekarang, di era Bapak Presiden Prabowo,” tegasnya.
Dialog pendidikan di Tarakan ini turut dihadiri Wali Kota Tarakan dr. Khairul, Wakil Wali Kota Ibnu Saud, PGRI, PKBM, serta ratusan guru dari berbagai satuan pendidikan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya