Dark/Light Mode

Di Indonesia Sports Summit 2025

Kemenkes Ungkap Fenomena ”Mager” Di Kalangan Remaja

Senin, 8 Desember 2025 07:00 WIB
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi. Foto: Dok. Kemenkes
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi. Foto: Dok. Kemenkes

 Sebelumnya 
Menurutnya, perlu memperbanyak kompetisi olahraga agar remaja memiliki ruang meningkatkan aktivitas fisik. “Kalau ada kompetisi olahraga, pasti tumbuh klub olahraga,” ujarnya.

Maria menilai, kompetisi akan mendorong munculnya lebih banyak pelatih, fasilitas latihan, dan tenaga kesehatan olahraga. Kondisi itu juga berpotensi membuka lapangan kerja di ekosistem olahraga. Ia menegaskan, sport medicine adalah bidang penting yang masih kekurangan tenaga terampil.

“Peningkatan sport medicine akan mendukung pembinaan prestasi nasional. Ruang untuk tumbuh juga masih sangat besar,” katanya.

Baca juga : Perkuat Langkah, Percepat Transisi Pariwisata Hijau

Kebiasaan mager harus dihilangkan. Menukil pernyataan World Health Organization (WHO), aktivitas fisik yang rendah meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, hipertensi, hingga gangguan jantung.

Kemenkes menyebutkan, kondisi itu juga berdampak pada penurunan daya tahan tubuh dan kesehatan mental, termasuk stres serta depresi yang semakin banyak dialami anak muda. Minimnya aktivitas fisik membuat tubuh kehilangan kemampuan adaptasi terhadap beban fisik harian, sehingga mudah lelah dan rentan sakit.

Di forum yang sama, Wamenpora Taufik Hidayat mengajak generasi muda untuk mulai beraktivitas fisik. Taufik menambahkan persoalan serius lainnya. Menurutnya Indonesia juga masih sangat kekurangan dokter spesialis olahraga yang menjadi penopang layanan kesehatan atlet.

Baca juga : Parpol Rame-rame Bantu Korban Bencana Sumatera

“Kebutuhan dokter olahraga jauh dari angka ideal. Kita sangat kekurangan dokter spesialis olahraga, baru 122,” ungkapnya.

Kekurangan itu berdampak pada pembinaan atlet muda di daerah. Banyak atlet berasal dari daerah, tetapi pemulihan cedera masih bergantung pada fasilitas di kota besar. Dia mendorong Kemenkes mempercepat regenerasi dokter olahraga agar cedera tidak menjadi faktor penghambat prestasi.

“Kolaborasi lintas kementerian menjadi kebutuhan mendesak untuk pengembangan sport science nasional. Kami masih perlu berkolaborasi sampai daerah,” ujarnya.

Baca juga : BRI Pastikan Pelayanan Perbankan Tetap Jalan

Taufik menegaskan, Pemerintah bersiap memperkuat fasilitas latihan dan laboratorium sport science sesuai arahan Presiden. Ia menginginkan sistem kesehatan olahraga terintegrasi yang mengedepankan pencegahan cedera.

Dia menegaskan, pencegahan lebih penting daripada penanganan. “Kami juga ingin menjaga sebelum cedera terjadi,” tegas mantan atlet badminton ini. JAR

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 4, edisi Senin, 8 Desember 2025 dengan judul "Di Indonesia Sports Summit 2025 Kemenkes Ungkap Fenomena ”Mager” Di Kalangan Remaja"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.