Dark/Light Mode

Tak Mau Cuma Merakit, RI Bidik Industri Semikonduktor Global

Rabu, 28 Januari 2026 22:17 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria saat menerima audiensi PT Sat Nusapersada Tbk di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (27/01/2026). (Foto: Ardi W/Komdigi)
Wamenkomdigi Nezar Patria saat menerima audiensi PT Sat Nusapersada Tbk di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (27/01/2026). (Foto: Ardi W/Komdigi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menyiapkan langkah agar industri teknologi nasional tidak berhenti pada tahap perakitan, tetapi beralih ke produksi bernilai tambah tinggi melalui pengembangan industri semikonduktor.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong Indonesia untuk segera masuk ke rantai pasokan global semikonduktor sebagai langkah realistis dalam waktu dekat guna membuka peluang ekonomi baru.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global menjadi penting agar daya tawar nasional di sektor teknologi dapat meningkat.

Baca juga : Korban atau Pelaku? Mengurai Fakta WNI di Industri Scammer Kamboja

“Kita masuk dulu ke rantai pasokan global. Di komponen yang strategis, kita harus ada. Dari situ daya tawar Indonesia akan tumbuh,” ujar Nezar dalam audiensi dengan PT Sat Nusapersada Tbk di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Nezar menilai Indonesia memiliki modal awal yang kuat untuk masuk ke industri semikonduktor, salah satunya cadangan pasir silika yang merupakan bahan baku utama silicon wafer, komponen penting dalam produksi chip.

Ia menjelaskan, pesatnya perkembangan industri kecerdasan artifisial (AI) telah mendorong lonjakan kebutuhan silicon wafer secara signifikan. Kondisi kelangkaan chip global pun menjadi peluang bagi negara yang memiliki sumber bahan baku besar seperti Indonesia.

Baca juga : Gaet ADB, Kemenperin Kebut Pengembangan Industri Semikonduktor

“Permintaan silicon wafer sangat tinggi karena industri AI berkembang pesat. Ini momentum yang jarang dan harus dimanfaatkan,” kata Nezar.

Selain faktor sumber daya alam, Nezar menyebut posisi Indonesia yang relatif netral di tengah ketegangan geopolitik global menjadi nilai strategis. Pemerintah melihat peluang untuk menarik mitra dari berbagai negara sekaligus memastikan terjadinya alih teknologi.

“Yang kita kejar itu transfer teknologi. Kalau hanya tenaga kerja, dampak jangka panjangnya kecil,” tegasnya.

Baca juga : Tekan Emisi Dan Hemat Energi, LPCK Perkuat Kawasan Industri Berkelanjutan

Untuk menumbuhkan ekosistem industri teknologi nasional, Kemkomdigi juga menerapkan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Produk telepon seluler, komputer genggam, dan tablet diwajibkan memenuhi TKDN minimal 35 persen.

Menurut Nezar, kebijakan tersebut membuka ruang bagi tumbuhnya rantai pasok dalam negeri, seiring meningkatnya kebutuhan komponen lokal untuk memenuhi permintaan pasar domestik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.