Dark/Light Mode

Kemenhaj Prioritaskan Lansia, Istithaah Kesehatan, Tanazul–Murur Dimaksimalkan

Selasa, 17 Februari 2026 17:51 WIB
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (kedua kiri) saat bertemu Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq F Al Rabiah (kedua kanan) di Makkah, Senin (16/02/2026). [Foto: Kemenhaj]
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (kedua kiri) saat bertemu Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq F Al Rabiah (kedua kanan) di Makkah, Senin (16/02/2026). [Foto: Kemenhaj]

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan komitmennya dalam melindungi jemaah lanjut usia (lansia) dan jemaah risiko tinggi (risti) melalui penguatan istithaah kesehatan serta optimalisasi skema Tanazul dan Murur pada penyelenggaraan Haji 1447 H.

“Perlindungan jemaah, khususnya lansia dan risti, menjadi prioritas utama kami pada penyelenggaraan haji tahun ini,” tegas Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, dalam forum Saudi–Indonesian Umrah Co.Exchange di Makkah (16/02/2026).

Menurut Gus Irfan—sapaan akrabnya—perlindungan tersebut harus dimulai sejak tahap persiapan di Tanah Air melalui penguatan istithaah kesehatan. Ia menekankan bahwa istithaah bukan sekadar syarat administratif, melainkan instrumen keselamatan yang menentukan kesiapan jemaah.

Baca juga : Pramono: Keselamatan dan Kesehatan Kerja Harus Jadi Budaya Di Jakarta

Istithaah kesehatan adalah fondasi utama. Kita ingin memastikan jemaah yang berangkat benar-benar siap secara fisik, penyakit penyertanya terkontrol, serta memahami risiko perjalanan ibadah,” ujar doktoral alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.

Pemerintah memperketat skrining kesehatan, pengawasan komorbid, serta edukasi kebugaran bagi calon jemaah. Pendekatan preventif ini ditujukan untuk menekan jumlah jemaah risiko tinggi sebelum keberangkatan.

Penguatan aspek kesehatan juga berlanjut di Arab Saudi, terutama dalam pengaturan mobilitas jemaah pada fase puncak ibadah. Indonesia mendorong optimalisasi skema Murur dan Tanazul sebagai langkah strategis untuk mengurangi kelelahan ekstrem dan kepadatan.

Baca juga : Gus Choi: DNIKS Harap 2026 Pemerintah Prioritaskan Program Kesejahteraan Sosial

Skema Murur memungkinkan lansia dan jemaah risti melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, sehingga beban fisik dan risiko gangguan kesehatan dapat ditekan. Adapun skema Tanazul memberi opsi bagi sebagian jemaah untuk kembali lebih awal ke hotel setelah melontar jumrah guna mengurangi kepadatan tenda Mina.

“Murur dan Tanazul bukan sekadar solusi teknis, tetapi bentuk keberpihakan pada jemaah rentan. Prinsipnya, ibadah harus sah sekaligus aman dan manusiawi,” kata Gus Irfan, yang juga alumni S-1 dan S-2 dari Universitas Brawijaya.

Sebagai langkah penguatan, Indonesia turut mengusulkan peningkatan kesiapsiagaan dukungan medis di jalur menuju Jamarat guna mempercepat respons dalam kondisi darurat saat puncak lempar jumrah.

Baca juga : Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan Kepada Polri Di Panen Raya Nasional

“Kita ingin menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Jangan menunggu jemaah sakit, tetapi pastikan mereka tetap sehat selama menjalankan ibadah,” pungkasnya.

Melalui penguatan istithaah kesehatan, optimalisasi skema Tanazul–Murur, serta koordinasi kesehatan lintas negara, Indonesia optimistis penyelenggaraan Haji 1447 H akan berlangsung lebih tertib, aman, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan jemaah. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.