Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut Indonesia sebagai mitra kehutanan paling strategis di dunia. Penilaian itu disampaikan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Assistant Director-General sekaligus Director Forestry Division FAO Zhimin Wu di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, Selasa (12/5/2026).
Pertemuan bilateral tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional di sektor kehutanan berkelanjutan, tata kelola karbon, hingga pengembangan ekonomi hijau dunia.
Dalam pertemuan itu, Zhimin Wu menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan atas berbagai capaian Indonesia yang dinilai menjadi contoh bagi komunitas kehutanan global.
“FAO memandang kehutanan Indonesia sebagai mitra kerja sama paling strategis,” demikian disampaikan Zhimin Wu dalam pertemuan tersebut.
Baca juga : Menko Airlangga Pimpin Pertemuan RI–Rusia, Mantapkan Kerja Sama Strategis
FAO juga mengapresiasi keberhasilan Indonesia menjadi co-host penyelenggaraan Global Forest Observations Initiative (GFOI) 2025 di Bali pada Oktober 2025.
Kegiatan tersebut dinilai berhasil menjadi platform penting yang mempertemukan komunitas kehutanan global dalam memperkuat kolaborasi dan berbagi pengetahuan terkait pemantauan hutan atau forest monitoring.
Selain itu, FAO turut menyoroti perkembangan signifikan Indonesia dalam pengembangan kebijakan nilai ekonomi karbon. FAO juga mendorong pengembangan peta jalan kredit karbon dan pasar karbon hutan sebagai bagian penguatan tata kelola karbon kehutanan nasional maupun global.
Dalam kesempatan itu, FAO mengundang Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menghadiri Sidang Committee on Forestry ke-28 (COFO28) yang akan digelar di Roma, Italia, pada 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Baca juga : Digelar Pemprov Jateng, 10 Provinsi Bahas Ketahanan Pangan Dan Energi
Menanggapi hal tersebut, Raja Juli Antoni menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terus terjalin antara Indonesia dan FAO dalam mendukung pengelolaan hutan lestari.
Menurut dia, penguatan kerja sama perlu terus dilakukan, terutama dalam pengembangan national forest monitoring system, REDD+, dan tata kelola karbon kehutanan.
Raja Juli juga memaparkan potensi kerja sama pengembangan perhutanan sosial serta pengembangan komoditas pangan dan energi berbasis hutan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan energi berkelanjutan.
Selain itu, Indonesia juga berencana mempublikasikan The State of Indonesia’s Forests (SOIFO) 2026 dalam momentum penyelenggaraan COFO28 di Roma.
Baca juga : IPA Convex 2026 Perkuat Kolaborasi Hulu Migas Menuju Ketahanan Energi
Publikasi tersebut diharapkan menjadi referensi global terkait perkembangan pengelolaan hutan Indonesia, termasuk rehabilitasi hutan, pengendalian perubahan iklim, perhutanan sosial, hingga tata kelola karbon.
Pertemuan bilateral Indonesia dan FAO itu semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin global dalam pengelolaan hutan tropis berkelanjutan dan pengembangan kebijakan kehutanan berbasis solusi iklim dunia.
Turut mendampingi Menteri Kehutanan dalam pertemuan tersebut antara lain Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, serta Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya