Dark/Light Mode

Agus Fatoni Dorong Creative Financing Jadi Semangat Baru Penguatan Fiskal Daerah

Senin, 8 Juni 2026 22:22 WIB
Foto: Ditjen Keuda Kemendagri.
Foto: Ditjen Keuda Kemendagri.

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Keuangan Daerah (Keuda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Agus Fatoni mendorong pemerintah daerah memanfaatkan berbagai skema creative financing sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Hal tersebut disampaikan Fatoni saat menjadi narasumber dalam kegiatan Regional Financial Discussion bertema “Pengelolaan Keuangan Daerah dan Creative Financing” yang berlangsung di Grand Ballroom Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026).

Menurut Fatoni, tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah saat ini menuntut terobosan baru dalam pengelolaan keuangan daerah.

Ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat perlu diimbangi dengan kemampuan daerah dalam menciptakan sumber pembiayaan alternatif yang berkelanjutan.

"Creative financing harus menjadi semangat baru bagi daerah dalam meningkatkan pendapatan sekaligus memperbaiki pelayanan publik. Kita tidak bisa hanya mengandalkan sumber pendapatan yang ada, tetapi harus terus menciptakan alternatif pembiayaan yang inovatif," ujar Fatoni.

Baca juga : GAPPRI Dorong Regulasi Tembakau Seimbang dan Berkelanjutan

Ia menjelaskan bahwa creative financing tidak hanya berkaitan dengan pencarian sumber pendapatan baru, tetapi juga menyangkut transformasi budaya birokrasi menuju tata kelola yang lebih fleksibel, efisien, inovatif, dan berorientasi pada hasil.

Menurutnya, terdapat tiga sasaran utama yang harus dicapai melalui penerapan creative financing, yakni meningkatkan pelayanan publik, memberdayakan masyarakat, dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Creative financing bukan sekadar mencari sumber pembiayaan baru, tetapi juga transformasi budaya birokrasi menjadi lebih fleksibel, efisien, inovatif, dan berorientasi pada hasil," katanya.

Fatoni memaparkan sejumlah instrumen yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam mengembangkan creative financing.

Di antaranya optimalisasi pajak dan retribusi daerah melalui inovasi layanan dan digitalisasi, penguatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), optimalisasi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), serta pemanfaatan aset daerah yang selama ini belum produktif.

Baca juga : DPR Sambut Baik Nanik S. Deyang Jadi Kepala BGN, Pesan Benahi 3 Hal Ini

Selain itu, pemerintah daerah juga dapat mengembangkan kerja sama dengan badan usaha, mengoptimalkan pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Kemudian, memperkuat peran BAZNAS dalam pemberdayaan masyarakat, hingga memanfaatkan instrumen pinjaman daerah dan obligasi daerah sesuai ketentuan yang berlaku.

"Daerah memiliki banyak potensi yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Aset daerah misalnya, tidak boleh hanya menjadi aset yang tidur, tetapi harus mampu memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi daerah," jelasnya.

Fatoni menegaskan, pemerintah pusat terus memperkuat dukungan regulasi guna mendorong implementasi creative financing di daerah.

Berbagai aturan terkait BUMD, BLUD, pemanfaatan Barang Milik Daerah (BMD), serta kerja sama pemerintah daerah dengan badan usaha terus disempurnakan agar lebih efektif dan adaptif.

Baca juga : Hadiri Waisak Nasional Di Borobudur, Gibran Ajak Umat Buddha Perkuat Toleransi

"Kami terus melakukan penyempurnaan regulasi agar lebih sederhana, lebih efektif, dan memberikan ruang yang lebih luas bagi daerah untuk berinovasi," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai faktor paling penting dalam keberhasilan creative financing bukan hanya regulasi, melainkan keberanian kepala daerah dalam mengambil langkah-langkah inovatif.

"Banyak daerah masih ragu karena takut bermasalah. Padahal regulasinya sudah tersedia dan contoh keberhasilannya juga sudah banyak. Yang diperlukan adalah pemahaman dan keberanian untuk bertindak," ucapnya.

Fatoni mengajak seluruh kepala daerah menjadikan tantangan fiskal saat ini sebagai momentum untuk mempercepat transformasi pengelolaan keuangan daerah menuju sistem yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

"Jika ingin menghasilkan sesuatu yang berbeda, maka harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Creative financing adalah salah satu jalan yang dapat ditempuh daerah untuk memperkuat kemandirian fiskal dan mempercepat pembangunan daerah," tutup Fatoni.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.