Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menkomdigi Ajak Masyarakat Jaga Aksi Damai dan Ruang Digital
Sabtu, 13 Juni 2026 18:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak masyarakat yang menyampaikan aspirasi melalui aksi demonstrasi untuk tetap menjaga ketertiban, keselamatan bersama, serta kualitas ruang digital.
Dia menyatakan, pemerintah menghormati hak warga negara untuk menyampaikan pendapat sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.
Meutya menegaskan bahwa kritik, masukan, dan aspirasi masyarakat merupakan elemen penting dalam demokrasi yang harus didengar dan direspons melalui mekanisme yang tepat.
“Pemerintah terbuka terhadap aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat. Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara yang dijamin dalam demokrasi. Karena itu, ruang untuk menyampaikan aspirasi harus tetap kita jaga bersama,” imbau Meutya.
Baca juga : GKB-NU Ajak Masyarakat Jaga Persatuan di Tengah Dinamika Nasional
Menurutnya, penyampaian aspirasi secara damai akan membuat pesan yang disampaikan masyarakat lebih mudah dipahami dan diterima publik.
Karena itu, ia mengingatkan agar aksi demonstrasi tidak disertai tindakan yang merugikan masyarakat maupun fasilitas umum.
“Kritik boleh disampaikan dengan tegas, tetapi harus tetap damai. Jangan mudah terprovokasi sehingga memicu kekerasan, perusakan, pembakaran, penyerangan, atau tindakan lain yang membahayakan masyarakat,” tegasnya.
Selain menjaga situasi di lapangan, Meutya juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas ruang digital selama aksi berlangsung.
Baca juga : BBM Non Subsidi Naik, Dirut Pertamina Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Energi
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak membagikan ajakan yang mengarah pada kekerasan, serta menghindari berbagai bentuk provokasi yang dapat memperkeruh situasi.
Menurut Meutya, masyarakat juga perlu memahami adanya fenomena ilusi algoritma di media sosial.
Konten yang terus muncul di linimasa belum tentu mencerminkan keseluruhan kondisi yang sebenarnya, melainkan dapat terbentuk dari pola interaksi, minat, atau emosi pengguna yang diperkuat oleh algoritma platform digital.
“Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta. Padahal belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi,” katanya.
Baca juga : STIK Lemdiklat Polri Cetak Pakar Kepolisian Baru dari Kalangan Sipil
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hoaks, disinformasi, manipulasi video, maupun potongan informasi tanpa konteks yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab,” pungkas Meutya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya