Dark/Light Mode

Program Strategis Presiden Prabowo Jadi Penopang Industri Manufaktur

Selasa, 30 Juni 2026 19:48 WIB
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif. (Foto: Ist)
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai berbagai program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan menjadi penopang utama permintaan domestik bagi industri manufaktur pada semester II-2026, di tengah tekanan biaya produksi dan pelemahan daya beli masyarakat.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, permintaan dalam negeri diperkirakan tetap terjaga berkat belanja pemerintah melalui sejumlah program prioritas yang membutuhkan pasokan produk manufaktur dalam jumlah besar.

"Kami memperkirakan daya beli masyarakat masih tetap terjaga. Belanja pemerintah melalui program-program yang cukup besar akan meningkatkan permintaan terhadap produk-produk manufaktur," kata Febri dalam konferensi pers penyampaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurut dia, sejumlah program yang diperkirakan menjadi pendorong permintaan industri antara lain Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, implementasi mandatori biodiesel B50, serta Program Kampung Nelayan.

Baca juga : Ketika Kebisingan Jadi Industri

Ia menilai program-program tersebut akan menciptakan efek berganda terhadap berbagai subsektor manufaktur, mulai dari industri makanan dan minuman, kemasan, tekstil, logistik, hingga industri kimia.

Meski demikian, Febri mengakui industri pada Juni menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan bulan sebelumnya. Selain kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga energi global, industri juga terdampak pemadaman listrik di sejumlah kawasan industri serta kenaikan harga gas hasil regasifikasi LNG.

Dari sisi permintaan, industri juga mulai merasakan dampak kenaikan harga sejumlah barang konsumsi dan harga BBM nonsubsidi yang menekan ruang belanja masyarakat terhadap produk-produk manufaktur.

Namun, Kemenperin menilai kondisi tersebut masih dapat diimbangi oleh meningkatnya belanja pemerintah dan membaiknya permintaan ekspor ke sejumlah negara tujuan utama.

Baca juga : Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo Kepada Raja Charles

Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 yang masih berada pada level ekspansi sebesar 52,90, meski turun dari 53,56 pada Mei 2026.

Selain itu, sebanyak 22 dari 23 subsektor industri pengolahan masih mencatatkan ekspansi, dengan kontribusi mencapai 98,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

Di sisi lain, kinerja industri yang berorientasi ekspor juga menunjukkan perbaikan. Nilai IKI ekspor meningkat menjadi 54,06, sedangkan IKI domestik melambat ke level 51,16, namun masih berada di atas ambang batas ekspansi.

Febri mengatakan kondisi tersebut menunjukkan industri nasional masih memiliki daya tahan yang cukup baik meski menghadapi tekanan dari sisi produksi maupun permintaan.

Baca juga : Panggil Perusahaan Ojek Online, Pramono Siapkan Penataan Parkir Ojol di Jakarta

"Kami melihat ke depan industri masih resilien, terutama masih ditopang oleh permintaan domestik yang cukup besar," ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.