Dark/Light Mode

Siswa SD di Sulteng Rasakan Dampak MBG: Lebih Fokus, Orang Tua Tak Cemas

Minggu, 23 Agustus 2026 12:36 WIB
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Polda Sulawesi Selatan Kompol Deni Ratmodiharjo (kiri) bersama anggota Polri membagikan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada siswa di SD Negeri Paccerakkang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2026). (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Polda Sulawesi Selatan Kompol Deni Ratmodiharjo (kiri) bersama anggota Polri membagikan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada siswa di SD Negeri Paccerakkang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2026). (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dirasakan manfaatnya oleh siswa sekolah dasar di Kabupaten Tojo Una-Una. Bagi mereka, program ini bukan sekadar menyediakan makanan di sekolah, tetapi juga membuat tubuh lebih berenergi, membantu kesiapan mengikuti pelajaran, sekaligus mengenalkan pentingnya asupan gizi.

Pengalaman tersebut disampaikan tiga siswa, yakni Gayatri Kalyani Taha, siswi kelas 6 SDN 1 Ratolindo; Andi Arkan Raffi, siswa SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una; serta Muhammad Rizat Wikaldi dari SDN 1 Ampana Kota.

Ketiganya merasakan perubahan yang berbeda sejak MBG hadir di sekolah mereka. Bagi Gayatri, manfaat yang paling terasa adalah berkurangnya kekhawatiran orang tua ketika dirinya berangkat sekolah tanpa bekal atau uang jajan.

“Orang tua saya sudah tidak perlu khawatir lagi kalau kami kelaparan di sekolah karena sudah ada program Makan Bergizi Gratis yang diberikan kepada kami,” ujarnya.

Manfaat serupa dirasakan Raffi. Sejak mendapatkan MBG, ia mengaku semakin jarang membawa uang jajan dan orang tuanya tidak perlu selalu menyiapkan sarapan atau bekal.

Program tersebut juga mengubah cara pandangnya terhadap makanan. Ia kini memahami bahwa nasi merupakan sumber karbohidrat, daging mengandung protein, sayur mengandung vitamin, sedangkan buah menjadi sumber serat.

“Dulu saya berpikir makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekarang saya sudah paham bahwa makanan itu banyak manfaat gizinya. Saya mulai terbiasa menyantap sayur dan buah yang sebelumnya kurang saya suka,” kata Raffi.

Sementara itu, Rizat melihat pengaruh MBG terhadap kesiapan siswa mengikuti pembelajaran. Sebelum program berjalan, ia kerap melihat teman-temannya kurang fokus karena belum sarapan.

Baca juga : Terima Kepala BGN, Luhut Minta MBG Fokus Wilayah 3T

Sebagian orang tua harus berangkat bekerja lebih pagi sehingga tidak sempat menyiapkan makanan. Sebagian anak juga memiliki alasan lain untuk melewatkan sarapan.

“Setelah kami mendapatkan program ini, saya melihat teman-teman menjadi lebih berenergi dan lebih fokus,” tutur Rizat.

Meski demikian, Rizat menilai kecukupan gizi tidak otomatis membuat seorang anak menjadi lebih pintar atau berprestasi. Menurutnya, hasil belajar tetap membutuhkan kemauan belajar dan dukungan orang tua.

Pandangan tersebut juga tergambar dari pengalaman Gayatri dan Raffi. Gayatri merasa lebih fokus dan bersemangat mengikuti pelajaran setelah makan, sedangkan Raffi menilai tubuh yang sehat membantu siswa berkonsentrasi dengan lebih baik.

Ketiga siswa tersebut menunjukkan bahwa MBG berperan sebagai penopang kesiapan belajar, bukan pengganti proses belajar itu sendiri.

Minta Menu Lebih Variatif dan Tepat Waktu

Di balik manfaat yang dirasakan, anak-anak juga menyampaikan evaluasi secara terbuka. Mereka menilai menu MBG secara umum sudah baik dan enak, tetapi selera setiap siswa berbeda.

Ada anak yang lebih menyukai ayam daripada ikan, tempe daripada tahu, atau belum terbiasa mengonsumsi sayur dan telur.

Raffi mengatakan, dirinya tetap berusaha menghabiskan makanan agar kebutuhan gizi terpenuhi dan makanan tidak terbuang.

Baca juga : Kepala BGN Soal Keracunan MBG, Nyawa Rakyat Jangan Dijadikan Permainan

Gayatri juga memilih bersyukur atas makanan yang diterima, meskipun mengakui ada beberapa menu yang belum sesuai dengan seleranya.

Keduanya berharap, cita rasa dan variasi menu terus diperbaiki agar anak-anak tidak mudah bosan. Rizat mengingatkan bahwa MBG tidak dirancang sekadar mengikuti makanan kesukaan anak, melainkan memastikan tubuh mereka memperoleh asupan bergizi.

Namun, ia tetap mengusulkan variasi pengolahan bahan makanan, misalnya telur, ayam, atau nasi yang disajikan dalam bentuk berbeda dari hari ke hari.

Ia juga menyoroti ketepatan waktu distribusi. Menurutnya, makanan yang tiba tepat waktu akan tetap hangat dan segar saat disantap.

Selain itu, siswa perlu mendapatkan edukasi sederhana mengenai kandungan makanan di dalam piring mereka. Pemerintah dan sekolah juga perlu membuka ruang masukan bagi guru, orang tua, serta anak-anak penerima manfaat.

Sisa Makanan Jadi Perhatian

Persoalan sisa makanan juga menjadi perhatian ketiga siswa. Gayatri mengaku sedih ketika melihat makanan dibuang karena ada tenaga para petugas dapur di balik setiap porsi yang disediakan.

Raffi juga masih melihat teman-temannya tidak menghabiskan makanan karena persoalan selera.

Menurut mereka, variasi menu perlu berjalan beriringan dengan pembiasaan agar siswa menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya.

Baca juga : BGN Perketat Keamanan Pangan Dan Data Penerima

Bagi sebagian keluarga, MBG bahkan memiliki arti yang lebih besar. Rizat menceritakan adanya siswa yang menyisakan sebagian makanan untuk dibawa pulang dan disantap kembali di rumah.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa satu porsi makanan sekolah dapat memberi manfaat melampaui jam belajar, terutama bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.

Karena itu, ketiganya menilai MBG layak dilanjutkan dengan perbaikan secara berkelanjutan. Pemerintah berperan memastikan anggaran, kualitas makanan, dan pengawasan.

Di sisi lain, sekolah dan guru mengawal pelaksanaan sekaligus memberikan edukasi. Sementara orang tua memberikan dukungan, sedangkan siswa bertanggung jawab menghargai dan menghabiskan makanan yang diterima.

Rizat turut menitipkan harapan agar pembangunan dapur pelayanan MBG diperluas hingga wilayah terpencil. Dengan demikian, manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan anak-anak di pusat kota.

Gayatri berharap, kualitas rasa dan gizi terus diperhatikan, sedangkan Raffi berharap program tersebut dapat terus membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.

“Saya ingin MBG ini berkembang lebih baik setiap harinya, menunya lebih bervariasi, dan pemerintah mau menerima masukan. Bangun juga dapur-dapur di daerah terpencil agar anak-anak di sana dapat merasakan manfaat Makan Bergizi Gratis,” tutup Rizat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.