Dark/Light Mode

Dua Tahun Prabowo: Kisah Apel di Kulonprogo dan Harapan Anak Cibinong

Selasa, 20 Oktober 2026 17:58 WIB
Foto: Dok. BP Taskin.
Foto: Dok. BP Taskin.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebutir apel setelah makan siang di sebuah sekolah dasar di pelosok Kulonprogo menjadi gambaran sederhana tentang perubahan yang ingin dicapai pemerintah dalam pengentasan kemiskinan.

Bagi sebagian anak, buah itu mungkin biasa. Namun, bagi anak dari keluarga yang hidup dengan upah harian, apel bisa menjadi sesuatu yang jarang dinikmati.

Kisah tersebut disampaikan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko, untuk menjelaskan bagaimana keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semestinya diukur: bukan semata-mata dari banyaknya program, melainkan dari perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat miskin.

Bagi Budiman, pengentasan kemiskinan bukan sekadar memastikan keluarga menerima bantuan.

Lebih jauh, kebijakan harus membuka kesempatan agar anak-anak dari keluarga miskin dapat menikmati makanan bergizi, mengakses pendidikan, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Di Kulonprogo, perubahan itu tergambar dari menu makan siang anak-anak. Setelah menyantap teriyaki, mereka mengambil apel sebagai pencuci mulut.

Sesuatu yang sebelumnya sulit dijangkau kini menjadi bagian dari keseharian. Namun, cerita tentang perubahan tidak berhenti di sana.

Budiman juga mengisahkan seorang anak di Cibinong, Kabupaten Bogor, yang tumbuh dalam keluarga miskin dengan orang tua yang telah bercerai.

Sebelum bersekolah, anak tersebut menghabiskan hari-harinya menggembalakan kambing milik orang lain.

Kini, ia tinggal di Sekolah Rakyat, memperoleh tempat tidur, makanan tiga kali sehari, serta guru yang mengenal dan memanggil namanya.

Baca juga : Lapas Mewah Dibangun 2023, Pakai Dana Napi

Perubahan itu bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Anak yang sebelumnya menghabiskan waktu mengurus aset milik orang lain kini memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dirinya sendiri melalui pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Kemiskinan Bukan Hanya Soal Pendapatan

Budiman menilai kisah anak-anak tersebut memperlihatkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan keluarga, tetapi juga akses terhadap kebutuhan dasar.

Anak yang kekurangan gizi memiliki titik awal berbeda dibandingkan anak yang kebutuhan nutrisinya terpenuhi. Begitu pula anak yang kesulitan mencapai sekolah dibandingkan mereka yang dapat belajar dengan aman.

Gambaran itu terlihat pula di Desa Bergas, Kabupaten Semarang. Sebelumnya, anak-anak harus menuruni lembah sungai untuk mencapai sekolah.

Saat musim hujan, perjalanan tersebut menjadi berisiko, sehingga mereka harus memilih antara tidak masuk sekolah atau mempertaruhkan keselamatan.

Kehadiran jembatan gantung mengubah keadaan. Anak-anak kini dapat pergi ke sekolah dengan lebih aman, bahkan tanpa harus pulang dengan sepatu basah.

Bagi Budiman, infrastruktur seperti jembatan, pemenuhan gizi, dan akses pendidikan merupakan bagian dari upaya memutus rantai kemiskinan.

Ketiganya membantu mengurangi hambatan yang selama ini membatasi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Bantuan Bukan Tujuan Akhir

Dalam kerangka yang dijelaskan Budiman, pengentasan kemiskinan dibagi menjadi tiga tahap, yakni miskin, graduasi, dan mandiri.

Pada tahap pertama, keluarga miskin membutuhkan bantuan sebagai bantalan agar tidak semakin terpuruk.

Baca juga : Dipecat,Lalu Apa?

Selanjutnya, pada tahap graduasi, mereka memerlukan layanan dasar, seperti makanan bergizi, kesehatan, dan pendidikan, untuk meningkatkan kemampuan serta kualitas hidup.

Pada tahap mandiri, keluarga membutuhkan aset dan akses ekonomi agar mampu berdiri sendiri tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah.

Program Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis, sekolah unggulan, hingga akses pendidikan tinggi ditempatkan dalam rangkaian upaya tersebut.

Infrastruktur yang memudahkan anak mencapai sekolah juga menjadi bagian dari proses membuka kesempatan.

Dengan pendekatan ini, bantuan sosial bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kemandirian.

Budiman menegaskan, ukuran keberhasilan pengentasan kemiskinan bukan sekadar jumlah penerima bantuan, melainkan berapa banyak keluarga yang akhirnya mampu keluar dari kemiskinan dan tidak lagi membutuhkan bantuan.

Mengakui Kekurangan, Memperbaiki Pelaksanaan

Budiman mengakui pelaksanaan sejumlah program masih menghadapi persoalan. Ia menyinggung masalah di sejumlah dapur MBG serta kesalahan penargetan penerima bantuan yang pernah mencapai hampir separuhnya.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memperbaiki data tunggal, memperkuat pengawasan, dan meningkatkan keterbukaan agar program benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Persoalan teknis tersebut menjadi tantangan yang harus diselesaikan agar tujuan besar pengentasan kemiskinan tidak berhenti pada rancangan kebijakan.

Namun, bagi Budiman, pertanyaan terpenting justru terletak pada dampak jangka panjang: seperti apa kehidupan seorang anak 20 tahun setelah menerima manfaat program pemerintah?

Baca juga : Hasil Investigasi Imipas di Lapas Cibinong: Barang Dibuang ke Bekas Kandang Sapi

Anak-anak yang menikmati kebijakan hari ini kelak akan menjadi pihak yang menilai hasilnya.

Mereka mungkin tidak mengingat perdebatan politik selama pemerintahan Prabowo, tetapi akan merasakan apakah pendidikan membuka peluang baru, apakah mereka memperoleh pekerjaan, dan apakah keluarga mereka menjadi lebih mandiri.

Mengukur Perubahan dari Kehidupan Anak

Kisah apel di Kulonprogo, anak Sekolah Rakyat di Cibinong, dan jembatan di Bergas memperlihatkan tiga bentuk perubahan yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Sesuatu yang dahulu terasa mewah menjadi biasa.

Anak yang sebelumnya menggembalakan kambing milik orang lain memperoleh kesempatan membangun masa depannya sendiri.

Sementara itu, anak yang dahulu menghadapi risiko dalam perjalanan ke sekolah kini dapat belajar dengan lebih aman.

Ketiganya menjadi gambaran tentang bagaimana kebijakan publik dapat memperluas kesempatan hidup masyarakat yang paling rentan.

Pada dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto, pendekatan pengentasan kemiskinan yang dijelaskan Budiman menempatkan perubahan kehidupan manusia sebagai ukuran utama.

Keberhasilan tidak cukup dinilai dari banyaknya program atau bantuan yang disalurkan. Pada akhirnya, ukuran yang lebih penting adalah apakah seorang anak memiliki kesempatan hidup yang lebih baik daripada keadaan ketika ia dilahirkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.