Dark/Light Mode

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando

Perpustakaan Juga Ikut Atasi Pandemi

Rabu, 20 Januari 2021 04:35 WIB
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) ikut berperan aktif dalam penanganan pandemi Covid-19 yang terjadi di negeri ini. Cara yang dilakukannya tentu berbeda dengan instansi lain. Perpusnas melakukannya dengan merangsang peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai Covid-19 dengan menghadirkan ePustaka Corona Pedia yang dapat diakses melalui aplikasi iPusnas.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menjelaskan, dalam ePustaka Corona Pedia tersebut berisi berbagai bahan bacaan seperti “Buku Pegangan Pencegahan dan Penatalaksanaan Covid-19”, “Berhenti Menyentuh Wajah”, “Pentingnya Social Distancing”, dan masih banyak lagi. Menurutnya bacaan tersebut dapat menjadi referensi dalam menghadapi wabah termasuk Covid-19 sehingga dapat meminimalisir penyebarannya.

“Kami langsung membentuk ePustaka Corona Pedia. Isinya, menyajikan seluruh informasi yang berkembang di seluruh dunia tentang Corona,” papar Syarif, dalam wawancara khusus dengan Rakyat Merdeka, pekan kemarin. Sejak pertama dibuka, ePustaka Corona Pedia ini banyak dikunjungi masyarakat dan mendapat sambutan besar dari masyarakat

Berita Terkait : Perpusnas Berkomitmen Kembangkan Sumber Daya Perpustakaan Politeknik STIA LAN

Dalam ePustaka Corona Pedia juga ada aneka panduan awam Covid-19, buku dan komik yang menarik dan mudah dimengerti oleh anak-anak, sehingga mereka tahu bagaiamana cara pencegahannya agar tidak tertular. Seperti memakai masker yang benar, menjaga jarak, dan juga rajin mencuci tangan. Kepala Perpusnas berharap masyarakat dapat melewati pandemi Covid-19 bersama-sama dan selalu patuh terhadap protokol kesehatan.

Dalam sisi ekonomi, Perpusnas juga turut membantu. Caranya, dengan program inklusi sosial. Di program ini, Perpusnas melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk berani memulai usaha dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menjalankan usaha tersebut.

Syarif menjelaskan, pihaknya menyediakan buku-buku terapan untuk masyarakat tersebut. Seperti, cara menanam cengkeh yang baik, cara beternak bebek yang benar, dan cara budidaya lele yang menguntungkan, atau cara pengemasan produk pertanian hasil panen.

Berita Terkait : Sepanjang 12-25 Januari, Perpusnas Tutup Layanan Fisik

Cara ini ternyata ampuh dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Contohnya Yanto, petugas penjaga Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Awalnya, Yanto berpenghasilan pas-pasan. Namun, setelah mendapat pendampingan dari Perpusnas melakukan program inklusi sosial, dia berani terjun bisnis budidaya lele. Kini, kehidupan ekonomi Yanto sudah lebih baik. “Dia kini menolak diberi bantuan sosial. Alasannya, kehidupannya sudah lebih baik dan penghasilannya sudah cukup,” terang Syarif. 

Syarif memaparkan, banyak contoh-contoh lain di berbagai daerah yang kini juga sudah sukses. Ada yang bisnis kue, membuka bengkel, jualan pecel lele, membuka pangkas rambut, dan juga bertani.

“Kami tidak memberikan uang. Tapi, kami memberikan pendampingan peningkatan kemampuan mereka melakukan buku-buku yang kami punya,” paparnya.

Berita Terkait : Indikator Kinerja Perpustakaan Harus Mengacu Pada Manfaat Bagi Masyarakat

Menurut Syarif, inklusi sosial merupakan salah satu fungsi perpustakaan di era modern seperti sekarang. Jadi, tugas perpustakaan saat ini bukan lagi mengumpulkan koleksi pengetahuan. “Tugas perpustakaan saat ini adalah transfer knowledge,” paparnya.
 Selanjutnya