Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menteri LHK Ingin G20 Jadi Katalis Dalam Pemulihan Lingkungan Dan SDGs

Jumat, 23 Juli 2021 13:59 WIB
Menteri LHK, Siti Nurbaya saat memberikan paparannya pada G20 Enviroment Ministers Meeting secara virtual dari Naples Italia, Kamis (22/7) malam.
Menteri LHK, Siti Nurbaya saat memberikan paparannya pada G20 Enviroment Ministers Meeting secara virtual dari Naples Italia, Kamis (22/7) malam.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah melalui Kementerian lingkungan hidup dan kehutanan mengajak negara-negara anggota G20 sebagai kekuatan terbesar dunia dapat merumuskan rencana pembangunan berkelanjutan /Sustainable Development Goal (SDGs), yang lebih ambisius di tengah pandemi Covid-19. 

Dalam SDGs ini, Menteri LHK Siti Nurbaya mengingatkan, agar G20 dapat menyelesaikan tantangan-tantangan lingkungan secara seimbang dan holistik sambil membangun dunia pasca pandemi yang lebih tangguh dan inklusif berdasarkan keadaan dan prioritas kebangsaan masing-masing.

Menteri dari Partai NasDem ini ingin G20 dapat menjadi katalis dalam mempercepat pemulihan lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan yang lebih baik.

"Sebagai negara anggota G20, kita memiliki tanggung jawab menjadi katalis global untuk mengatasi tantangan lingkungan dan pemulihan berkelanjutan melalui contoh-contoh konkrit," ujar Siti dalam paparannya pada G20 Enviroment Ministers' Meeting secara virtual dari Naples Italia, Kamis (22/7) malam.

Ia pun menekankan, kepada para Menteri Lingkungan negara-negara anggota G20 bahwa Indonesia tidak hanya mengajak, namun juga telah mengimplementasikan ambisi yang sangat kuat dalam upaya mencapai SDGs melalui aksi-aksi kongkrit yang sudah memperlihatkan hasil dalam perlindungan sumber daya alam nasional.

Berita Terkait : Pengusaha Kucing-kucingan Dengan Satgas Covid Daerah

“Berdasarkan data laju deforestasi Indonesia pernah mencapai 3,5 juta hektar per tahun antara tahun 1996 dan 2000, lalu turun menjadi 0,44 juta pada 2019 dan semakin berkurang menjadi 0,115 juta hektar pada tahun 2020," ungkapnya.

Aksi-aksi konkrit lainnya disebutkan Menteri Siti di antaranya program memperbaiki lahan terdegradasi dengan mempercepat upaya rehabilitasi. Target pada tahun 2030 dapat tercapai net zero land degradation.

"Untuk memulihkan lingkungan dan ekosistem, Indonesia telah merehabilitasi lahan kritis secara signifikan, antara lain selama 5 tahun terakhir, seluas 1,42 juta hektar telah dipulihkan dan tambahan target 600 ribu hektar mangrove hingga tahun 2024," jelasnya.

Ekosistem Karbon Biru

Lebih lanjut mantan Sekjen DPD RI ini mengatakan, saat ini Indonesia tengah mengatur ekosistem karbon biru melalui peningkatan pengelolaan Indonesian Seas Large Marine Ecosystem (ISLME). 

Berita Terkait : Mendes PDTT Imbau Kepala Daerah Maksimalkan Dana Desa

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia Indonesia juga telah mengeluarkan peraturan untuk memanfaatkan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan.

Dari aspek sirkular ekonomi, Indonesia telah mendorong pengembangan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, serta mendorong perusahaan manufaktur untuk meningkatkan pengelolaan sampah dan limbah.

Dalam upaya mewujudkan kota berkelanjutan, Indonesia sudah efektif melaksanakan Roadmap Nasional Ekonomi Sirkular 2020-2024, dan meluncurkan  Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Pengelolaan Sampah di seluruh Indonesia periode 2017-2025. 

"Semoga 100 persen sampah kita bisa dikelola dengan baik pada tahun 2025, yaitu 30 persen dikurangi dan 70 persen dikelola secara sistematis," tambahnya.

Di sisi pembiayaan, ia menyebutkan Indonesia telah mengembangkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan 2025. Selanjutnya, selama tiga tahun belakangan, Indonesia telah memperkenalkan instrumen keuangan inovatif untuk alam, ekonomi, dan masyarakat, seperti Sukuk Hijau, SDG Bond dan Sukuk SDG. 

Berita Terkait : Menteri Erick Angkat Dua Jenderal AU Jadi Komisaris Di PTDI

Demikian juga keuangan campuran SDG Indonesia One, untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berorientasi SDG dan pemulihan bencana di Indonesia. 

"Ini adalah beberapa contoh tindakan yang telah Indonesia lakukan. Sekarang saatnya bagi semua untuk walk the talk. Lebih banyak yang bisa dilakukan oleh dunia berkembang jika dunia internasional juga memenuhi komitmennya, termasuk dalam hal membuka sumber keuangan dan transfer teknologi," tegas Siti.

Di akhir paparannya, Menteri dua periode ini  mengajak semua negara anggota G20 untuk melakukan aksi kolektif dan global kemitraan bersama-sama  jika ingin mengatasi tantangan lingkungan global, karena aksi-aksi nasional saja tidak cukup.

 "Kami mendorong G20 untuk memperkuat kerja sama kolektif dan memimpin dunia menuju pemulihan lingkungan yang berkelanjutan," pungkasnya.[MFA]