Dark/Light Mode

Pentingnya Informasi Iklim Untuk Budidaya Hortikultura Adaptif

Rabu, 15 September 2021 08:22 WIB
Kawasan budidaya bawang merah/Ist
Kawasan budidaya bawang merah/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Tanggap iklim adalah satu hal penting dalam perlindungan dan budidaya hortikultura. Termasuk kunci keberhasilan pelaksanaan Kampung Hortikultura yang menjadi program strategis prioritas Kementerian Pertanian (Kementan) dengan luasan 5-10 hektar yang berupa akumulasi parsial lahan dalam satu wilayah desa. 

Hingga kini, Kampung Hortikultura sudah ada di 1.345 kampung yang tersebar di 31 provinsi.

Karena itu, penyebarluasan informasi iklim bagi petani, penyuluh bahkan masyarakat umum yang tertarik pada budidaya hortikultura dan dunia pertanian, harus terus dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. 

Seperti cita-cita yang kerap disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, yaitu mewujdukan pertanian maju, mandiri dan modern dengan langkah cerdas, tepat dan cepat.

“Bertindak cerdas, tepat dan cepat dalam mencapai kinerja yang lebih baik (Maju), mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki (Mandiri), serta memanfaatkan kekinian teknologi (Modern),” tutur Syahrul.

Direktur Perlindungan Hortikultura Inti Pertiwi mengatakan, dalam pengembangan Kampung Hortikultura terdapat kebijakan operasional perlindungan tanaman hortikultura yang dilakukan melalui beberapa pendekatan.

Antara lain, pendekatan sistem PHT (Pre-emtif dan Kuratif) berupa gerakan pengendalian OPT, penerapan PHT (PPHT), Penguatan Kelembagaan - Klinik PHT serta Penanganan DPI.

“Walaupun perubahan iklim tidak bisa dihindari dan dampaknya pasti akan terjadi, namun kita dapat meminimalkan dampak perubahan iklim tersebut menjadi suatu proses yang dapat diadaptasi,” kata Inti di Jakarta, Kamis (9/9).

Berita Terkait : Kementan Dorong Pengendalian OPT Hortikultura Ramah Lingkungan

Inti menerangkan, dampak perubahan iklim terhadap tanaman hortikultura, antara lain berpengaruh pada pola curah hujan dan sifat hujan, peningkatan suhu udara dan permukaan air laut serta peningkatan suhu udara yang dapat memicu kekeringan. 

Dari beberapa hal tersebut, dapat dijadikan sebagai strategi bagaimana dampak tersebut tidak banyak mengganggu pengelolaan budidaya hortikultura. Selain itu, beberapa strategi untuk menyikapi perubahan iklim harus adanya antisipasi, adaptasi dan mitigasi.

Pada aspek pemanfaatan informasi yang sudah dilakukan oleh Ditjen Hortikultura, tercatat bagaimana dapat memprediksi dampak perubahan iklim yang akan terjadi pada dua sampai tiga bulan ke depan, serta memberikan rekomendasi kepada Direktorat Teknik untuk mengantisipasi hal yang akan terjadi dan diakibatkan oleh perubahan iklim.

Ada pun data selengkapnya dapat diakses melalui portal web www.bmkg.go.id dan www.balitklimat.litbang.pertanian.go.id.

Pakar dari Universitas Gadjah Mada, Andi Trisyono mengatakan, tanaman hortikultura bawang merah dan cabe adalah beberapa contoh tanaman hortikultura yang mudah mengalami rusak berat apabila terdampak perubahan iklim. 

“Pernah suatu ketika bawang merah berumur 40 hari dalam satu kelompok tani seluas 20 hektar. Awalnya tanaman masih berwarna hijau, tiba-tiba terserang beberapa hama akibat datangnya perubahan iklim,” ujar Andi.

Meski demikian, Andi mengatakan, adanya perubahan iklim tidak selalu berdampak negatif. Iklim dapat pula bermanfaat pada pengelolaan OPT, seperti ramalan musim sebagai pemilihan varietas tanaman yang cocok dengan kondisi lingkungan tertentu.

Selain itu, untuk mengetahui kelembaban udara untuk memanipulasi kondisi lingkungan penana. Suhu udara pada kondisi iklim tertentu dapat mensinkronisasikan waktu penyemprotan pestisida serta prediksi hujan dan kecepatan angin untuk mengetahui pemilihan formulasi pestisida.

Baca Juga : Gempa M5,4 Goyang Boalemo Gorontalo, Getaran Terasa Hingga Manado

Ada pun untuk mengupayakan dampak perubahan peran iklim dalam pengelolaan tanaman hortikultura agar tetap stabil dan meminimalisasi dampak buruknya, perlu ada beberapa cara yang berkesinambungan seperti monitoring, model development, modified ipm practices dan pest management in changing climate. 

Monitoring itu penting. Dengan teknologi saat ini kita bisa memasang sensor agar dapat terus memantau suhu, kelembaban dan faktor lainnya dalam pengelolaan secara realtime. 

“Sebab itu, perlu dikembangkan model yang bisa digunakan modifikasi, praktik-praktik pengelolaan hama khususnya dikaitkan dengan permasalahan iklim,” terangnya.

Pada dasarnya, iklim bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi pola distribusi, namun ada beberapa faktor lainnya seperti jenis tanah, lingkungan, keberadaan inang, serta musuh alami. 

Iklim adalah komponen yang memiliki ketersediaan data yang cukup tinggi untuk mengestimasi potensi pola persebaran OPT.

Putu Santikayasa dari IPB mengatakan, pentingnya pemahaman dasar apa itu iklim dan cuaca.  

Iklim dijelaskan sebagai nilai statistik dalam jangka panjang dari kondisi cuaca dari waktu ke waktu. Cuaca yaitu kondisi parameter atmosfer pada waktu dan lokasi tertentu.

Sementara perubahan iklim adalah perubahan yang terjadi pada nilai statistik kondisi atmosfer dari suatu wilayah.

Baca Juga : Dampingi Kunker Presiden, Gibran Kikuk

Putu menjelaskan, pemodelan spasial pola sebaran OPT berdasarkan parameter cuaca/iklim dalam pengelolaan DPI. Diperlukan database untuk informasi serangan OPT dari waktu ke waktu yang terintegrasi. 

Selain itu, pemodelan untuk melengkapi data yang tidak tersedia serta penyusunan sistem peringatan dini terintegrasi OPT bisa diakses secara bebas berdasarkan faktor iklim secara umum dan spesifik lokasi.

"Pentingnya menyatukan beberapa serpihan-serpihan data dan pengetahuan yang masih tersebar dalam satu sistem terintegrasi, serta terstruktur yang nantinya bisa digunakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman dari petani milenial, Rizal Fahreza yang bergabung dalam pola inklusif pertanian berbasis closed loop yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Perekonomian stakeholder soal kesuksesan dirinya. 

Dia mengatakan, budidaya pertanian memerlukan penguatan sisi sarana produksi, pemasaran dan pelatihan SDM yang menjadi faktor kunci keberlangsungan program. Selain itu, moda transportasi perlu terus dikembangkan. 

"Harapannya, dengan pengalaman yang saya peroleh, bisa kritis dan sinergi dengan program yang ada di kementerian serta dapat berkolaborasi membangun pertanian dari desa," pungkasnya. [KAL]