Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Barus, sebuah kota kecil di pesisir barat Sumatera, sering disebut sebagai "Serambi Makkah" di Indonesia. Barus merupakan kota yang memiliki sejarah panjang tentang keragaman dan toleransi beragama yang telah berlangsung sejak berabad-abad silam.
Sebagai salah satu pelabuhan tertua di Asia Tenggara dan pusat perdagangan internasional di masanya, Barus merupakan pintu masuk berbagai budaya dan agama. Kota Barus memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Catatan sejarah menunjukkan, pedagang dari Arab, Persia, dan India sering berlabuh di Barus, membawa serta pengaruh agama dan budaya mereka.
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Adin Bondar mengatakan, sejarah Barus bukan sekadar catatan perdagangan dan penyebaran agama. Tetapi juga tentang bagaimana masyarakat lokal berinteraksi dengan berbagai budaya asing.
Baca juga : 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Segera Bertransformasi Jadi Universitas & Institut
"Hasil keragaman budaya dan agama di Barus masih dapat kita saksikan hingga hari ini," ucap Adin, pada Seminar Barus, di Perpustakaan Nasional, Kamis (8/8/2024).
Ketua Umum MATAULI Fitri Krisnawati Tandjung mengungkapkan, pengakuan Barus sebagai titik nol peradaban Islam memiliki dampak yang signifikan bagi sejarah dan identitas budaya Indonesia. Ini tidak hanya menyoroti pentingnya Kota Barus dalam sejarah penyebaran Islam, tetapi juga mengingatkan peran pentingnya sebagai pusat toleransi dan keragaman budaya.
"Kita bisa mempelajari moderasi beragama Barus. Masyarakat setempat telah lama terbiasa hidup dalam keberagaman. Barus menunjukkan sikap toleransi dan saling menghormati sebagai kunci menjaga kerukunan di tengah perbedaan," ungkap Fitri, yang juga merupakan putri dari politikus Akbar Tandjung.
Baca juga : NasDem Deklarasi Dukungan Sendi Fardiansyah Maju di Pilkada Kota Bogor
Di tengah tantangan globalisasi dan meningkatnya intoleransi, refleksi terhadap nilai-nilai moderasi menjadi semakin relevan. "Barus dan pesisir barat Sumatera bukan sekadar terdampak proses globalisasi tetapi mempengaruhi proses global dengan ditemukannya berbagai sebutan untuk (kapur) barus di berbagai tempat," tambah Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara.
Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap sejarah dan keragaman budaya Indonesia. Pendidikan sejarah yang menekankan pada nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama harus terus diperkuat di sekolah-sekolah. Indikator moderasi beragama terdiri dari toleransi, menghormati budaya lokal, komitmen kebangsaan.
Barus adalah kota tua yang bertuah. Menawarkan banyak pelajaran berharga dalam memahami pentingnya literasi sejarah dan moderasi beragama.
Baca juga : Bamsoet Dapat Gelar Kehormatan Abang Betawi dari Dewan Adat Bamus Betawi
"Sejarah panjang toleransi dan keragaman di Barus dapat menjadi inspirasi dalam membangun Indonesia yang lebih baik," tambah Yunan Yusuf.
Pastur Albert H Simbolon menambahkan, Barus adalah contoh nyata moderasi beragama di Indonesia. Islam dan Kristen hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Kerukunan ini bukan hanya hasil dari sejarah panjang interaksi antarbudaya, tetapi juga upaya masyarakat dan pemimpin setempat dalam mempromosikan toleransi dan dialog antaragama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya