Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Budaya Konsumen: Menjadi Hamba dalam Ciptaannya Sendiri
Kamis, 19 September 2024 22:32 WIB
"Orang tidak dibentuk oleh apa yang mereka miliki, tetapi oleh apa yang mereka beli." – John Berger.
Dalam dunia yang semakin melesat dengan cepat, kutipan Berger terasa amat relevan. Mengkonsumsi telah mengalami pergeseran makna dan menimbulkan berbagai kompleksitas budaya. Apa yang kita ketahui tentang kata “konsumsi” selama ini bisa jadi tak sesederhana yang kita bayangkan, melainkan jauh lebih multipleks jika menengok berbagai fenomena-fenomena unik yang mengikutinya. Realita sehari-hari yang seringkali kita toleh secara remeh temeh ternyata menyimpan banyak rahasia-rahasia esensial, diantaranya adalah urgensi tentang bagaimana budaya konsumen terbentuk dan tercipta.
Jika kita membahas pokok persoalan tentang budaya konsumen, tentu saja ini tak serta merta hanya menyangkut tentang proses bagaimana membeli suatu barang maupun jasa, melainkan lebih kepada makna krusial yang menyertainya.
Budaya konsumen menggunakan image, tanda-tanda, dan benda-benda, simbolik yang mengumpulkan mimpi-mimpi, keinginan, dan fantasi yang menegaskan keautentikan romantik dan pemenuhan emosional dalam hal menyenangkan diri sendiri bukan orang lain; secara narsistik. Dahulu, adanya konsumsi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dalam rangka bertahan hidup. Namun, dalam perkembangannya, hal tersebut mengalami tranformasi dan perubahan.
Manusia dengan berbagai sifat unique dan mystery-nya menolak kesederhanaan dalam menikmati daya guna suatu barang/jasa. Setelah adanya kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan, muncul juga kepentingan akan memuaskan hasrat semata yang menyimpan berbagai keinginan. Hal ini melahirkan komoditi-komoditi yang bersebaran di mana-mana, menyesuaikan dengan rombaknya tatanan manusia dalam berbelanja.
Walaupun begitu, sebagai bagian dari homo culturalis, manusia pada hakikatnya wajib mempertanyakan sesuatu terkait fenomena ini sebagai ciri mahluk yang berkesadaran penuh untuk berbudaya. Ada hal mengganjal yang dapat kita kaih dari sini, yaitu tentang, “Apakah sebenarnya komoditi-komiditi yang terbentuk sebagai produk budaya konsumen muncul untuk menyesuaikan aspirasi manusia, atau malah manusia yang sebaliknya terkurung di balik jebakan komiditi-komiditi itu sendiri hingga dipaksa beradaptasi?”
Baca juga : Siang Menjadi Polisi, Malam Wanita Cantik
Kapitalisme dalam Globalisasi Titik Balik Munculnya Budaya Konsumen
Telah kita ketahui sudah bersilam-silam lamanya, gagasan tentang kapitalisme menuai berbagai interpretasi, bahkan tak jarang insight seputar kapitalisme dimasukkan dalam pembelajaran formal seperti pada mata kuliah yang mencangkup teori filsafat maupun ekonomi. Karl Marx dengan pandangannya dalam menengok kesenjangan antara pemilik modal (Borjuisie) dan kaum pekerja (Proletariat) melahirkan sistem yang kita kenal sekarang sebagai Kapitalisme. Kapitalisme sendiri ini pun tidak bergerak sendirian dalam membentuk budaya konsumen, melainkan dipayungi oleh globalisasi yang semakin meluas. Dengan adanya globalisasi, ruang dan waktu seolah-olah dinistakan. Tak ada batasan, semuanya saling berebut informasi dan memakan mentah-mentah apapun yang terlihat di dalam dunia digital.
“Masyarakat yang telah menjadi masyarakat konsumen akan melihat iklan (advertising) sebagai guru dan teladan moral yang harus diikuti. Karena iklan adalah ujung tombak kapitalisme sebagai guru dan teladan moralitas, maka moralitas yang berkembang dalam masyarakat adalah moralitas hedonis” —Baudrillard
Globalisasi telah membawa kita jauh berlayar ke laut bebas sehingga kontrol manusia terlepas. Kesadaran para konsumen telah sepenuhnya terkendali oleh teknik pemasaran yang diusung oleh adanya kemajuan teknologi dalam bentuk ilkan-iklan di media massa. Akibatnya, proses konsumsi yang seharusnya wajar menjadi seolah-olah kian menyimpang. Gaya hedonisme tumbuh melesat dalam jiwa-jiwa masyarakat urban. Aktivitas mengkonsumsi oleh mereka tidak lagi diperuntukkan sebagai hal yang fungsional, tetapi untuk menunjukkan simbol-simbol tertentu dari apa yang mereka beli dan pakai.
Baca juga : Sandiaga Uno Ingin Santri Jadi Garda Terdepan Ciptakan Ekonomi Kreatif
Kapitalisme dengan rekannya yang akrab, yaitu globalisasi, sukses membuat tanda-tanda tersendiri yang mampu menyihir dan menghipnotis masyarakat untuk berpola hidup komsutif. Globalisasi membuat pergerakan kapitalisme semakin lincah dengan adanya kebebasan mempromosikan apa saja dan lewat mana saja, membuat para produsen komoditas lebih mudah mempengaruhi konsumen secara individual.
Dalam hal ini, suatu benda/jasa dibuat sedemikian rupa agar berkaitan dengan hal tertentu, seperti status sosial. Akibatnya, konsumen bukan melahap produk itu sebagaimana yang diciptakan, tetapi malah melahap tanda-tanda maupun simbol-simbol yang ada pada produk tersebut. Hierarki, highclass atau tidaknya, dan hal-hal yang berbau trend menjadi patokan masyarakat urban untuk berperilaku komsutif. Kebanyakan dari mereka akan dipenuhi doktrin-doktrin tentang dikotomi dan diferensiasi kelas sosial berdasar apa yang mereka pakai dan mereka gunakan, dan stigma tentang ketinggalan jaman karena tak bisa mengikuti lajur serta arus trend.
Antara Kepentingan Berekspresi dan Gaya Hedonisme
Setelah menguraikan beberapa hal diatas, kita akan menyadari bahwa manusia pada dasarnya selain memiliki kebutuhan juga akan selalu mempunyai keinginan. Tak ada salahnya dalam mempunyai keinginan dan berangan-angan. Hal tersebut juga merupakan cara kita untuk mengekspresikan diri. Cara mengekspresikan diri ini kita maknai “positif” sebagai cara untuk menjelaskan makna dalam diri kita yang sebenarnya melalui apa yang kita kenakan.
Seringkali kebebasan untuk bereskpresi seperti ini juga di salah artikan sebagai gaya hidup yang hedon, padahal masih ada benang tipis pembeda kedua hal tersebut. Sebagai contoh, ada pepatah dalam Bahasa Jawa yang menyebutkan, “Ajining rogo soko busono.” Jika seseorang mempergunakan barang maupun jasa untuk keperluan berekspresi diri ataupun menyesuaikan dengan norma-norma yang ada di lingkungan sosialnya, hal tersebut tak menjadi masalah. Akan menimbulkan suatu problem tersendiri jika itu dimaknai sebagai pembeda sehingga terdapat golongan kelas-kelas tertentu. Suatu problem bagi dunia yang rentan sakit batuk-batuk angin kering dari persaingan yang ketat.
Baca juga : Lukisan Denny JA Menyambut Paus Bakal Dipajang Di Galeri Nasional
Fleksibilitas Budaya Konsumen dari Dampak yang Ditimbulkan
Meskipun Budaya Konsumen identik dengan dampak negatifnya yaitu kental dengan gaya hedonisme, masih ada beberapa dampak positif yang bisa kita hidup sebagai udara segar yang memberi manfaat. Dampak positif tersebut antara lain menambah lapangan pekerjaan membuka peluang pasar yang bebas, dan memotivasi produsen untuk terus berinovasi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pada akhirnya, budaya konsumen adalah cermin yang memantulkan kenyataan paradoks kehidupan kita. Kita menciptakan dunia penuh pilihan, inovasi, dan kenyamanan, namun di balik semua itu, terselip pertanyaan mendasar, “Siapa yang sebenarnya memegang kendali?” Apakah kita masih menjadi tuan atas apa yang kita ciptakan, ataukah kita justru perlahan tunduk pada kekuatan yang kita bangun sendiri? Inilah tantangan terbesar dalam menjaga keseimbangan antara menikmati hasil karya kita dan tetap menjadi penguasa atasnya, bukan hamba dari ciptaan kita sendiri.
Dahan Tri Tunggal Melati
Mahasiswi Universitas Airlangga, Prodi Bahasa & Sastra Indonesia
Mahasiswi Universitas Airlangga, Prodi Bahasa & Sastra Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya