Dark/Light Mode

Semiotika Kegalauan di Kendaraan

Selasa, 11 Maret 2025 14:46 WIB
Stiker dan tulisan pada kendaraan bukan sekadar dekorasi, tapi medium semiotik yang mencerminkan kegalauan, kebanggaan, humor, hingga refleksi mendalam tentang kehidupan.
Stiker dan tulisan pada kendaraan bukan sekadar dekorasi, tapi medium semiotik yang mencerminkan kegalauan, kebanggaan, humor, hingga refleksi mendalam tentang kehidupan.

Jika kita perhatikan secara seksama, banyak orang mengekspresikan pikiran spontan mereka melalui kalimat-kalimat singkat. Produk ekpresi tersebut  kemudian dituangkan lagi ke dalam media lain yang bisa dilihat oleh khalayak luas. Seakan tidak pernah lekang oleh jaman, fenomena ini begitu menarik untuk dianalisis.  

Bagi sebagian orang, upaya pengungkapan ini merupakan refleksi mendalam atas kehidupan, yang kemudian diekspresikan atau divisualisasikan dalam berbagai bentuk. Para pemusik, misalnya, merangkum dunia yang mereka amati, lalu mengemasnya dalam karya seni yang dapat dinikmati publik secara sinkronik maupun asinkronik. Karya-karya tersebut dianggap oleh penciptanya sebagai medium komunikasi dan interaksi antar-subjek, berdialog dalam bahasa karya.

Para penyair/ penulis puisi mengekspresikan ragam pesan yang ingin disampaikannya melalui rangkaian kata yang indah, menggugah, liris, berdiksi kuat, sehingga bisa dinikmati setiap orang. 

Namun, tulisan ini tidak akan menganalisis karya seni dalam bentuk tersebut. Sebaliknya, tulisan ini ingin mengamati bagaimana seseorang mengekspresikan kegelisahan, humor, atau refleksi melalui stiker atau tulisan singkat yang ditempelkan pada kendaraan yang kerap ditemukan di jalanan.

Secara metodologis, data dikumpulkan secara acak dari kendaraan yang ditemui dalam perjalanan. Meskipun tidak disengaja, data yang ditemukan dicatat untuk dianalisis. Demi kemudahan analisis, subjek-subjek tersebut dikelompokkan berdasarkan kelas sosial-ekonomi.

Baca juga : Grup United Tractors Raih Penghargaan PROPER

Kelompok pertama adalah kelas atas. Pemilik kendaraan kelas menengah atas hingga mewah biasanya lebih memilih tidak memasang stiker atau tulisan. Mereka cenderung mengekspresikan diri melalui originalitas dan otentisitas kendaraan itu sendiri tanpa tambahan embel-embel. 

Jika pun ada tulisan atau simbol, biasanya sangat jarang dan istimewa, misalnya grafir eksklusif yang dibuat secara khusus oleh seseorang yang dianggap istimewa. Bagi kelompok ini, penting menjaga keseimbangan antara nilai kendaraan dengan simbol yang menempel.

Secara semiotis-sosiologis, fenomena ini menunjukkan bahwa ekspresi diri kelas atas cenderung diarahkan pada bentuk simbolik eksklusif yang merefleksikan status sosial tinggi. Simbol yang digunakan harus sesuai dengan nilai ekonomi dan citra kelas sosialnya, sehingga ekspresi yang muncul bersifat halus, terkendali, dan mencerminkan citra eksklusif.

Kelompok kedua adalah kelas menengah. Mereka yang sudah mampu memiliki kendaraan roda empat, baik dengan membeli secara tunai, mencicil, ataupun membeli kendaraan bekas. Ekspresi kelompok ini biasanya merupakan representasi langsung dari suasana hati atau kondisi aktual yang sedang mereka alami. 

Misalnya, seorang pengusaha kecil yang mampu membeli mobil LCGC dari Honda, memilih menempelkan kalimat religius seperti kutipan Al-Qur'an "Inna ma'al 'usri yusra" (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan). Ada juga yang menuliskan terjemahan ayat, sholawat, kalimat tauhid, atau ekspresi lain yang mencerminkan keyakinan dan kebanggaan. 

Baca juga : Jasindo Hadirkan Asuransi Perjalanan Untuk Lindungi Pemudik Lebaran

Selain itu, simbol-simbol keluarga seperti figur ayah, ibu, anak-anak, lengkap dengan nama panggilan juga banyak dipakai untuk menunjukkan rasa bangga dan eksistensi diri di lingkungan sosialnya.

Analisis semiotis-sosiologis untuk kelompok menengah ini mengungkap bahwa simbol atau stiker yang digunakan mencerminkan nilai-nilai kolektif seperti agama, keluarga, dan kebanggaan sosial. Ekspresi yang dipilih merupakan cerminan dari kondisi emosional, spiritual, dan sosial individu dalam komunitasnya, menunjukkan upaya mengukuhkan identitas dalam lingkaran sosialnya.

Kelompok ketiga adalah kelas menengah ke bawah. Kendaraan dalam kategori ini biasanya kendaraan umum atau niaga seperti angkot, mobil bak terbuka, atau truk. Para pengemudi kendaraan ini sering menjadikan kendaraannya sebagai medium ekspresi spontan, mulai dari humor, kegundahan hati, hingga menegaskan eksistensi atau sekadar memberi nama tanpa makna khusus. Ekspresi ini lahir dari kenyataan bahwa kendaraan tersebut bukanlah milik pribadi, melainkan alat bekerja sehari-hari.

Secara semiotis-sosiologis, ekspresi kelas menengah ke bawah ini mencerminkan kondisi sosial-ekonomi yang penuh tantangan. Simbol yang digunakan cenderung lebih bebas, spontan, dan jujur menggambarkan realitas sosial-ekonomi yang keras. Ekspresi humor dan sindiran menjadi cara untuk meredakan tekanan psikologis sekaligus menegaskan identitas mereka yang berada dalam perjuangan ekonomi sehari-hari.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepada seorang sopir yang kendaraannya ditempeli stiker bertuliskan, "Abang ada uang disayang, abang tak ada uang ditendang." 

Baca juga : Sengkuni Terkena Kutukan Minyak

Menurutnya, tulisan itu sebenarnya hanya candaan, tetapi juga merupakan refleksi nyata kehidupan dia dan teman-temannya. Mereka bekerja keras, berjibaku menghadapi berbagai kondisi jalanan, panas maupun hujan, namun saat pulang membawa hasil kerja kerasnya, tetap saja menerima keluhan dari pasangan di rumah.

Dengan demikian, stiker dan tulisan pada kendaraan bukan sekadar dekorasi, tetapi medium semiotik yang mencerminkan kegalauan, kebanggaan, humor, hingga refleksi mendalam tentang kehidupan para penggunanya.

Di samping itu, ekpresi dalam kendaraan, khususnya kendaraan yang dijadikan sarana mencari nafkah seperti dilakukan kalangan bawah, bisa dilihat juga sebagai bentuk “pemberontakan” atas narasi besar yang demikian hegemonik dalam kehidupan mereka. 

Kegalauan, kegundahan, kelirihan, maupun keceriaan dan optimisme yang ditampilkan, sebenarnya hanya merupakan semangat yang ingin diperkuat dalam relasi-relasi kehidupan mereka. Dengan kata lain, mereka dengan sederhana, ingin menyampaikan pesan kepada kita semua, bahwa mereka itu ada. [*]

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Pengajar Sosiologi Perkotaan, Ketua Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.