Dark/Light Mode

Dampak Kegiatan I’tikaf Terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Sabtu, 29 Maret 2025 22:46 WIB
Jamaah Mushalla An-Najah, Kompleks Kompas 2 Ciputat, selesai melakukan ibadah di Masjid An-Noor, Cipayung, Tangerang Selatan (Foto: KSoedjarwo).
Jamaah Mushalla An-Najah, Kompleks Kompas 2 Ciputat, selesai melakukan ibadah di Masjid An-Noor, Cipayung, Tangerang Selatan (Foto: KSoedjarwo).

Sepuluh malam terakhir di Ramadhan adalah malam-malam yang selalu dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk umat Islam di Indonesia. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan tersebut banyak umat Islam di Indonesia yang mendatangi masjid-masjid seusai melaksanakan Salat Tarawih, terutama pada saat malam-malam ganjil. Tujuan mereka adalah untuk melakukan i'tikaf. Biasanya mereka datang ke masjid mulai pukul 23:00 hingga Salat Subuh.

Salah satu yang mendorong umat Islam melakukan i'tikaf adalah firman Allah dalam Al-Qur’an, artinya: [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al-Qur’an] pada malam qadar (kemulyaan) [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemulyaan itu? [3] malam kemulyaan itu lebih baik dari pada seribu bulan [4] pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan, dan [5] sejahtralah (malam itu) sampai terbi fajar [QS. Al-Qadr: 1-5]. Mereka yang melakukan i’tikaf berharap malam kemulyaan itu datang pada saat mereka melakukan i’tikaf dan apa yang mereka kerjakan mendapat imbalan pahala dari Allah yang pahalanya lebih baik dari seribu bulan. 

Biasanya masjid-masjid yang menyelenggarakan kegiatan i’tikaf adalah masjid-masjid besar yang ada di kota-kota. Sedangkan masjid-masjid kecil di kampung-kampung tidak terbiasa melaksanakan i’tikaf di sepuluh malam terakhir di Ramadhan. Masjid-masjid di kampung biasanya mengisi Ramadhan dengan melaksanakan Salat Taraweh berjamaah dan kuliah tujuh menit (Kultum).

Masjid-masjid besar yang ada di kota-kota besar, biasanya di samping menyelenggarakan Salat Taraweh berjamaah, kultum, dan juga kegiatan i'tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Masjid-masjid besar yang ada di kota-kota di samping memiliki jamaah yang banyak, juga memiliki uang kas yang cukup untuk mengadakan kegiatan i’tikaf. Jika tidak memiliki uang kas yang cukup, masjid-masjid yang mau menyelenggarakan kegiatan i'tikap selalu didukung para jamaah masjid yang dengan sukarela memberikan sumbangan untuk mendukung kegiatan tersebut.

Baca juga : Gus Ipul Ajak Menhut Kolaborasi Sejahterakan Masyarakat Sekitar Hutan

Orang-orang yang melakukan itikaf di masjid berasal dari kelompok masyarakat yang beragam. Mulai dari mereka yang tingkat ekonominya rendah hingga mereka yang memiliki tingkat ekomi yang tinggi, mulai dari yang tidak punya jabatan hingga mereka mempunyai jabatan. Namun, dengan i'tikaf bersama, mereka dapat dipersatukan dalam satu wadah di masjid, melakukan amalan-amalan sunnah sepanjang malam dan ditutup dengan sahur bersama dengan tidak memperdulikan status sosial yang berbeda di antara mereka.

Masjid-masjid yang ada di kota-kota besar tidak hanya menyelenggarakan kegiatan i'tikaf, tapi juga berbagi makanan sahur setelah melaksanakan kegiatan i'tikaf. Masjid-masjid yang memberikan makanan sahur bagi para jamaah i'tikaf setiap tahunnya meningkat dan juga memiliki nilai postif bagi peningkatan ekonomi nasyarakat yang memiliki warung-warung makan di sekitar masjid. Tidak hanya itu, tradisi berbagi juga mendorong masyakat muslim utuk beramai-ramai melakukan i'tikaf di masjid. Nilai makanan tidaklah seberapa yang mereka peroleh, namun nilai kebersamaan dan kesetaraannya tidak bisa dinilai dengan uang.

Ritual i’tikaf bukan saja berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya, dan sebagai sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhannya, tapi dengan cara tidak sengaja dapat juga dijadikan sarana untuk saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya dan peningkatan ekonomi umat. I’tikaf adalah ibadah sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di masa hidupnya, dan bahkan jika seseorang melakukan i’tikaf sama artinya dia melakukan i’tikaf bersama Rasulullah. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: “Siapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka beri’tikaflah pada sepuluh malam terakhir [Ramadhan].” [HR. Ibnu Hibban)]. 

Ada juga masjid-masjid yang hanya menyediakan tempat untuk i'tikaf pada sepuluh hari akhir Ramadhan, namun tidak menyediakan makanan untuk bersahur, sedangkan teh manis hangat dan air putih selalu disediakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid [DKM]. Masjid-Masjid yang tidak menyediakan makan sahur untuk para jemaah yang melakukan i'tikaf, pengurus masjid mempersilahkan jamaah i’tikaf untuk membawa makanan sahur dari rumah atau memesan makanan sahur pada panitia i’tikaf di masjid dengan harga satu porsi makanan yang sudah ditentukan oleh panitia, jika mereka ingin makan sahur bersama di masjid seusai shalat malam (kiamullail) dilaksanakan.

Baca juga : Gubernur Banten Aktif Terjun Ke Masyarakat

Bagi masjid-masjid yang tidak menyediakan makan sahur, biasanya para jemaah dengan inisiatif sendiri membawa makan sahur dari rumah atau mereka beli di warung-warung makanan di sekitar masjid. Bagi mereka yang memiliki kelebihan rejeki, mereka juga membeli makanan lebih dan sisanya mereka bagikan pada jamaah lain di masjid pada saat sahur bersama. Jika mereka tidak ingin makan sahur bersama di masjid, mereka bisa juga pulang makan sahur di rumah mereka masing-masing. Ada juga para jamaah itikaf yang tidak pulang ke rumah untuk makan sahur, tapi mereka makan sahur di restoran, warung-warung nasi dan tempat-tempat makan yang ada di sekitar masjid. Masjid-masjid yang tidak menyediakan makan sahur bersama selepas kegiatan i'tikaf ini biasanya juga penuh dikunjungi jamaah untuk melakukan i'tikaf. Tradisi makan sahur bersama selepas i'tikaf memberikan dampak positif bagi menjaga hubungan baik antara sesama umat Islam yang satu dengan yang laiinya.

I’tikaf menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] adalah diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu [sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT]. Banyak orang yang berdiam diri dalam masjid, namun tidak mengisinya dengan amalan-amalan sunnah, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir dan melakukan salat malam.

Fenomena ini banyak terjadi di beberapa masjid di Jakarta dan di luar Jakarta, di mana ada sebagian jamaah i’tikaf yang datang ke masjid untuk i'tikaf dan tidak memanfaatkan waktu mereka dengan sebaik-baiknya di Ramadan untuk menambah pahala. Kebiasaan semacam ini juga tidak bisa disalahkan, karena setiap orang dapat memehami agama dengan cara yang berbeda, memiliki keyakinan yang berbeda, dan kita patut menghormati keberbedaan tersebut.

Perintah i’tikaf terdapat dalam Al-Qur’an, yang artinya: …maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang   ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hinggga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka jangan kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” [QS. al-Baqarah:187]. Dalam hadis nabi dijelaskan, artinya: “Bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” [HR. Muslim]. 

Baca juga : Pasal Penghinaan Terhadap Presiden Diselesaikan Lewat Restorative Justice

I’tikaf bukan sekadar mendekatkan diri pada Tuhan, mengharapkan berjumpa dengan lailatul qadr, mengeratkan hubungan sesama muslim, tapi dapat juga meningkatkan ekonomi umat. Dengan adanya kegiatan i’tikap di sepuluh malam terakhir Ramadhan, warung-warung nasi, Alfamart, Indomaret, warung Madura yang ada di sekitar masjid yang menyelenggarakan i’tikaf dan buka 24 jam dapat meraup rejeki yang banyak, karena orang-orang yang akan melaksanakan i’tikap tidak hanya menyiapkan waktu dan kesehatan untuk i’tikaf, tapi juga menyiapkan berbagai makanan untuk mendukung kegiatan i’tikaf mereka. Selesai melakukan i'tikaf di akhir Ramadhan, umat Islam bersiap-siap merayakan i'dul fitri, sebagai tanda kemenangan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh.

M. Ikhsan Tanggok
M. Ikhsan Tanggok
M. Ikhsan Tanggok, Guru Besar Antropologi Agama, Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.