Dark/Light Mode

Denny JA Dan 9 Kampus Luncurkan Studi Agama Era AI

Kamis, 24 April 2025 17:35 WIB
MoU Esoterika Forum Spiritualitas dan sembilan perguruan tinggi. (Foto: Ist)
MoU Esoterika Forum Spiritualitas dan sembilan perguruan tinggi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bayangkan sebuah mesin yang mampu membaca jutaan dokumen keagamaan lintas kitab, iman, mazhab, dan zaman dalam hitungan detik. Mesin itu tidak hanya menyimpan data, tapi menyintesis makna.

Inilah gambaran era baru yang diperkenalkan Denny JA dalam sesi ketiga Esoterika Fellowship Workshop.

“Tak satu pun institusi keagamaan, tak satu pun ulama, pendeta, biksu, atau pastur seberbakat apa pun mereka dapat menandingi kemampuan Artificial Intelligence dalam memahami keragaman warisan spiritual dunia,” ujar Denny.

Sebagai penggagas Esoterika Forum Spiritualitas, Denny menandai babak baru dalam sejarah iman: ketika agama dan spiritualitas tak hanya ditafsirkan oleh manusia, tetapi juga oleh mesin yang berkesadaran data.

AI kini mampu menjelajahi, mengolah, dan menyintesis literatur keagamaan dari berbagai era dan tradisi dari Timur hingga Barat, dari ortodoks hingga mistik. Kemampuan ini tidak hanya merevolusi akses terhadap ajaran agama, tapi juga membuka peluang lahirnya tafsir yang lebih inklusif dan universal.

Baca juga : Denny JA: Perlu Dibentuk Pusat Studi Agama Dan Spiritualitas Era AI

“Yang dihasilkan AI bukan sekadar tumpukan informasi, tapi potensi: potensi untuk menyalakan kembali lentera spiritualitas dalam format baru,” tambah Denny.

Dari sinilah muncul gagasan pendirian Pusat Studi Agama dan Spiritualitas Era AI sebuah lembaga yang akan menjadi jembatan antara spiritualitas, riset akademik, dan teknologi kecerdasan buatan. Lembaga ini akan bekerja untuk mengintegrasikan data besar warisan keagamaan dengan pemikiran kontemporer, serta menyebarkan pesan-pesan universal yang bisa menjangkau lintas iman dan generasi.

Momentum penting dalam workshop ini adalah penandatanganan nota kesepahaman antara Esoterika Forum Spiritualitas dan sembilan perguruan tinggi dari berbagai tradisi di Indonesia. Mereka adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Kristen Indonesia (UKI), IPMI International Business School, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, IAIN Ambon, STABN Sriwijaya Tangerang Banten, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan President University

MoU ditandatangani langsung oleh sejumlah pimpinan dan perwakilan kampus, seperti Dr. Abidin Wakano (IAIN Ambon), Dr. Ied Veda R. Sitepu (UKI), Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra (STABN Sriwijaya), dan I Komang Suastika Arimbawa (UHN Sugriwa). Sementara kampus lain telah lebih dahulu memulai kerja sama melalui pertemuan awal di institusi masing-masing.

Dalam pidatonya, Denny menyinggung keberhasilan National University of Singapore (NUS) yang kini masuk jajaran 10 besar dunia versi QS World University Rankings 2025. Padahal di era 1950–1960-an, posisi NUS masih di bawah Universitas Indonesia.

Baca juga : Hana Bank Luncurkan Produk Tabungan Berjangka Goal Savings

Yang membedakan visi, riset, dan keberanian masuk ke teknologi masa depan seperti AI dan bioteknologi. Itulah inspirasi yang hendak dibawa Esoterika: menyusun kurikulum baru yang menjawab tantangan zaman.

Kurikulum yang diperkenalkan bertajuk: “Agama sebagai Warisan Kultural Milik Bersama di Era AI.”Kurikulum ini menjadi bentuk konkret dari kolaborasi lintas iman dan lintas disiplin yang menjembatani tradisi dan transformasi.

Denny juga membandingkan gerakan ini dengan semangat Teologi Pembebasan di Amerika Latin. Gerakan yang lahir dari penderitaan rakyat dan membumikan agama sebagai kekuatan pembebas.

“Teologi Pembebasan lahir dari luka. Dan spiritualitas AI lahir dari kebutuhan zaman untuk menafsir ulang makna, iman, dan kemanusiaan dalam konteks dunia digital yang terpecah,” katanya.

Spiritualitas, menurut Denny, tak boleh hanya tinggal di langit wacana. Ia harus menjejak bumi, menyentuh konflik dan luka-luka sosial yang nyata. Ia menyebut lima tragedi besar akibat politisasi identitas dan agama di Indonesia dari Ambon, Jakarta 1998, hingga konflik antar etnik di Kalimantan dan NTB.

Baca juga : Denny JA: AI Dorong Tafsir Agama Pro Hak Asasi

“Luka-luka itu belum benar-benar sembuh,” ujarnya lirih. “Tapi di tengah luka, selalu ada celah untuk cahaya.”

Denny menegaskan, gerakan ini baru langkah awal. Namun langkah ini telah berada di jalur yang benar. “Kita sedang membentuk kurikulum baru, membuka forum lintas iman, dan memulai gerakan akademik dan sosial yang memiliki kedalaman spiritual.”

“Apakah akan berhasil? Itu urusan masa depan. Tapi kita telah memulainya hari ini. Dan sejarah, kerap berpihak pada mereka yang berani memulai,” tutupnya.

Esoterika Fellowship Masuk Kampus sendiri merupakan bagian dari gerakan besar Forum Esoterika, yang dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rachman. Mereka membawa semangat bahwa warisan agama dengan segala kedalamannya bisa menjadi milik bersama yang hidup kembali melalui jembatan teknologi dan cinta kasih. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.