Dark/Light Mode

Menjeda Jeratan Kesibukan

Jumat, 5 Desember 2025 10:17 WIB
Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Dalam perjalanan menuju atau pulang kantor, saya seringkali menyaksikan sebuah pemandangan menarik. Beberapa kali, saya kerap melihat ada orang sengaja berhenti di pinggir jalan. Mereka, entah menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat, kemudian mengambil gawai di tangan. Mereka menunduk dan terdiam sejenak, fokus memperhatikan apa yang tersaji di layar gawainya. Meski sekilas, tetapi saya yakin bahwa mereka pasti tidak sebentar untuk melakukan tindakan tersebut.

Kita semua, mungkin, pernah atau sering melakukan hal serupa—entah untuk membalas pesan, mencari informasi, atau sekadar scroll video yang menghibur.

Hal yang agak-agak mirip juga terjadi di ruang-ruang publik. Di kafe, warung kopi, atau bahkan warung kecil seadanya di pinggir jalan. Seorang pengemudi ojek online duduk diam menunduk, motornya terparkir di sisi jalan, menikmati gawai di tangannya. Sementara di kafe, seorang sendirian duduk di depan makanan atau minuman, tapi pandangan matanya tertuju pada layar gadget-nya. 

Pertanyaannya, bagaimana kita membaca fenomena ini dari perspektif sosiologis?

Pada hakikatnya, setiap manusia membutuhkan masa jeda (pause). Jeda adalah momen berhenti sejenak setelah melewati waktu dan aktivitas yang padat, penuh kesibukan, tekanan, dan tuntutan ekspresi serta pemikiran. Dalam situasi serba cepat, serba ditarget, dan serba kompetitif seperti sekarang, manusia secara naluriah mencari masa jeda.

Baca juga : Nenek Hidup Kembali Saat Akan Dikremasi

Masa jeda ini terwujud dalam berbagai tindakan yang kita saksikan: seorang pengemudi ojek online yang berhenti setelah melayani pelanggan sejak Subuh, atau sopir taksi online yang duduk sendirian di sebelah mobilnya. Mereka membutuhkan jeda sesaat untuk menyegarkan kembali tubuh dan pikiran agar kembali optimal.

Mungkin sebagian kita menganggap itu tidak produktif. Sebab, alih-alih menggunakan waktu untuk “bekerja”, yang dilakukan malah scroll-scroll layar gawai.

Alienasi Kerja 

Sebenarnya, fenomena jeda ini tidak bisa dilepaskan dari konsep yang pernah dianalisis secara mendalam oleh Karl Marx, yakni Alienasi (Alienation). Ada sebuah kisah popular yang digambarkan dengan getir. Di mana kisah tersebut menggambarkan pekerja pabrik yang baru pulang setelah bertahun-tahun bekerja. Di dalam kereta, tangannya bergerak sendiri, mengulangi gerakan repetitif yang biasa ia lakukan di lini produksi. Nah, Marx menganalisis ini sebagai bentuk keterasingan (alienation) dari kerja.

Inilah sisi getir yang demikian dalam. Pekerjaan, yang seharusnya menjadi wadah aktualisasi diri, justru menyebabkan manusia terasing. Terasing dari produk kerjanya (karena hasil kerjanya bukan miliknya), terasing dari proses kerjanya (karena proses itu dipaksakan dan monoton), terasing dari sesama manusia (karena hubungan hanya sebatas kompetisi), dan yang paling tragis, terasing dari esensi dirinya (species-being). Dunia si pekerja dipersempit, direduksi menjadi hanya kerja, kerja, dan kerja.

Baca juga : Madrid Ingin Patahkan Kutukan Yunani

Meski Durkheim, sosiolog lainnya, menjelaskan bahwa di ruang kerja memungkinkan terjadinya solidaritas organik, tetap saja bahwa apa yang disampaikan Marx seperti menjawab sebagian fenomena dunia kerja. 

Maka pekerjaan yang seharusnya membebaskan, pada akhirnya membelenggu dalam siklus kerja-tekanan-kelelahan-imbalan. Semula, kelelahan dan tekanan itu ditoleransi karena ada janji kegembiraan di akhir bulan atau akhir tahun (gaji, bonus). Namun, seiring waktu, tekanan dan kelelahan ini menjadi standar hidup. 

Kerja menjadi suatu ketergantungan dan kecanduan yang mengubah manusia menjadi sekadar perpanjangan mesin—sebuah praktik yang populer dan meresap di segala lini kehidupan. Di sinilah analisis Marx Kembali begitu berharga: ia menempatkan persoalan kerja pada ruang yang bernama alienasi. Marx seolah mengingatkan kita bahwa kerja boleh, tetapi jangan terus-menerus, sebab akhirnya akan menyebabkan kita terasing dari diri sendiri.

Menjeda Jeratan

Maka, tindakan sederhana "menjeda" yang dilakukan di pinggir jalan, di balik gawai yang menyala, adalah upaya liris dan naluriah untuk berlari keluar dari perangkap kerja. Tindakan ini adalah skip atau keluar dari jebakan rutinitas yang di dalamnya tersembunyi alienasi.

Baca juga : Menko Airlangga: IKN Tetap Berjalan Sesuai Rencana

Para pekerja harian lepas, seperti tukang bangunan yang berhenti untuk merokok, atau pengemudi taksi dan ojek online yang berhenti menatap gawai, sejatinya sedang mengambil kembali kebebasan pribadi mereka. Mereka sedang menjeda jebakan rutin, mengelola kelelahan, dan secara positif mentransformasikannya.

Jeda itu adalah ruang privat yang diciptakan untuk melepaskan lelah dan kejenuhan di tempat kerja. Ketika semua kelelahan dan tekanan itu dilepaskan, mereka dapat menyongsong keluarganya di rumah dengan pikiran yang lebih segar, kegembiraan baru, atau bahkan solusi atas masalah yang sempat tertunda.

Pada akhirnya, tindakan menjeda yang kita saksikan di pinggir jalan itu adalah perlawanan diam-diam terhadap alienasi. Itu adalah upaya untuk kembali terhubung dengan diri mereka sendiri (re-connecting) sebelum kembali terlempar ke dalam siklus kerja yang menuntut. Ini adalah katarsis yang mengubah tekanan menjadi energi baru yang penuh harapan.

Dengan kata lain, memasuki dunia virtual yang terjadi di gawai bisa dimaknai sebagai tetap upaya kritis manusia modern untuk tetap hidup di ruang manusia itu sendiri. Sebab melarutkan diri di dunia kerja, selain hanya menghasilkan keterasingan tidak berujung, juga akhirnya, jika tidak waspada, hanya menjebakkan diri pada selubung kenestapaan. [*]

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.