Dark/Light Mode

Bicara Soal Pengabdian Di JER 2026

Jonan: Mulai Dari Tempat Kita Berada, Jangan Dari Keluhan Dan Kritikan

Sabtu, 28 Februari 2026 17:20 WIB
Ignasius Jonan menyampaikan pandangan soal pengabdian dalam Jakarta Eucharistic Revival 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Sabtu (28/2/2026). (Foto: YT/JER2026)
Ignasius Jonan menyampaikan pandangan soal pengabdian dalam Jakarta Eucharistic Revival 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Sabtu (28/2/2026). (Foto: YT/JER2026)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ignasius Jonan mengajak publik memulai pengabdian dari hal sederhana. Pesan itu disampaikan Jonan saat tampil dalam Jakarta Eucharistic Revival (JER) 2026 di Plenary Hall Jakarta International Convention Center, Sabtu (28/2/2026).

Acara ini turut dihadiri Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, serta Ketua Panitia JER 2026 Henny Santoso. Acara dihadiri 6 ribu peserta. 

Melanjutkan paparannya, Jonan mengatakan kontribusi bagi bangsa tak perlu menunggu jabatan. Setiap orang bisa berkarya dari kapasitas masing-masing. Ia mengutip kalimat petenis legendaris Amerika Serikat, Arthur Ashe.

“Start where you are. Use what you have. Do what you can. Dimulai dari tempat kita berada, gunakan yang kita punya dan berbuat yang kita bisa,” ujarnya.

Baca juga : Pemimpin Dunia Serukan Persatuan Dan Perdamaian

Jonan mengingatkan, pengabdian jangan diawali keluhan. Ia menekankan jangan memulai langkah dengan mengkritik atau menyalahkan keadaan atau negara misalnya.

“Kalau kita mulai dari keluhan, tidak akan pernah berjalan,” katanya.

Baginya, berkarya juga tak harus menunggu pengakuan. Ia memegang prinsip sederhana dalam hidupnya.

“Always do your best, no matter what. Always do your best, no matter the size of your audience,” ucapnya.

Baca juga : Prabowo Ingatkan Kepala Daerah, Jangan Menyerah untuk Hilangkan Kemiskinan

Ia mengaku tak terlalu memikirkan penilaian orang. Ada atau tidak ada tepuk tangan, pekerjaan tetap harus dilakukan maksimal. “Kalau yang melihat hanya seekor kucing, tetap lakukan yang terbaik,” ujarnya.

Jonan juga menyinggung pengalamannya memimpin PT Kereta Api Indonesia hingga 2014. Ia menyebut sistem yang dibangun tetap berjalan meski dirinya tak lagi menjabat.

“Kereta tetap berjalan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia turut berbagi pengalaman saat terlibat dalam kepanitiaan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada 2024. Kata dia, setelah acara selesai banyak tokoh  non Katolik menanyakan resep keberhasilan acara penyambutan Paus Fransiskus. Kata Jonan, rahasianya adalah  panitia tidak mencuri perhatian.

Baca juga : Kementan Pastikan Harga Bawang Merah Aman Hadapi Puasa Dan Lebaran

"Jawaban saya sederhana. Saya dan rekan-rekan, tidak mencuri panggung. Kedatangan Paus adalah untuk Paus Fransiskus, untuk bangsa dan negara, serta untuk pemerintah yang diwakili Presiden. Selesai," paparnya. 

Jonan mengatakan selama acara tidak pernah berusaha untuk tampil di depan umum.  "Di Masjid Istiqlal saya tidak ada. Di KWI juga tidak ada. Di GBK pun saya berusaha tidak terlihat. Bagi saya, berkarya itu jangan berharap pamer," aparnya. 

Jonan menilai kepemimpinan bukan soal tampil di depan, melainkan memastikan tujuan tercapai. Ia berharap setiap orang berani berkontribusi dari tempatnya berada, dengan kemampuan yang dimiliki.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.