Dark/Light Mode

Betawi Masa Depan Dan Masa Depan Betawi

Sabtu, 9 Mei 2026 16:10 WIB
Usni Hasanudin, Dosen Budaya dan Perilaku Politik FISIP UMJ. Foto: UMJ
Usni Hasanudin, Dosen Budaya dan Perilaku Politik FISIP UMJ. Foto: UMJ

RM.id  Rakyat Merdeka - Bayangkan Jakarta tahun 2027. Kembang api meledak di langit Monas. Usia kota ini genap 500 tahun. Dunia datang merayakan. Gedung-gedung kaca memantulkan cahaya. MRT melintas tanpa suara.

Di layar videotron, tertulis besar: Jakarta Global City. Memasuki usia 500 tahun Jakarta, entitas Betawi berada pada critical juncture historis. Fenomena ini tidak dapat dibaca sebagai romantika kultural, melainkan sebagai persoalan ilmiah yang menyangkut production of locality, cultural agency, dan right to the city.

Dalam kerangka itu, muncul dua konstruksi yang secara ontologis dan sosiologis bertentangan: Betawi Masa Depan dan Masa Depan Betawi.

Betawi Masa Depan merepresentasikan kondisi deterritorialization dan ornamentalisasi budaya. Ia adalah fase ketika identitas mengalami dislokasi dari basis materialnya. Kajian urban political economy menunjukkan tiga gejala empiris. Pertama, terjadi spatial mismatch.

Baca juga : Polri Mutasi 108 Pati dan Pamen, 9 Kapolda Berganti

Toponimi Betawi tetap eksis dalam peta administratif DKI Jakarta, seperti Kampung Melayu, Kampung Bandan, dan Condet, namun komposisi demografisnya telah bergeser akibat state-led gentrification.

Konversi lahan yang masif menyebabkan tanah di kantong-kantong budaya Betawi beralih fungsi menjadi properti komersial. Akibatnya, komunitas penutur inti terdorong ke hinterland Bodetabek.

Identitas bertahan sebagai penanda, tetapi kehilangan lokus. Kedua, terjadi language shift. Merujuk pada skala UNESCO, vitalitas bahasa Betawi berada pada tahap severely endangered. Transmisi intergenerasional terputus.

Data Dinas Kebudayaan 2025 mencatat hanya 15 persen penutur aktif berusia di bawah 30 tahun. Paradoksnya, dialek Betawi hidup sebagai slang di ruang digital, namun mati sebagai mother tongue di ruang domestik. Hal ini menunjukkan bahasa kehilangan fungsinya sebagai cultural carrierdan hanya bertahan sebagai stylistic marker.

Baca juga : Basket Di Akhir Pekan, Muda Dan Lansia

Ketiga, terjadi komodifikasi simbolik. Unsur budaya Betawi seperti ondel-ondel, palang pintu, dan kerak telor mengalami reduksi makna dari use value menjadi exchange value dalam industri pariwisata dan city branding.

Dalam terminologi Marxian, ini adalah bentuk alienasi: produsen budaya terasing dari produknya sendiri karena makna otentiknya digantikan oleh nilai pasar. Secara filosofis, kondisi ini merefleksikan being-for-others ala Sartre.

Eksistensi Betawi tidak ditentukan secara otonom, melainkan dikonstruksi oleh tatapan eksternal negara, pasar, dan industri kreatif. Ia menjadi simulacrum_dalam makna Baudrillard, yakni tanda yang tidak lagi merujuk pada realitas, melainkan meniru dirinya sendiri.

Ondel-ondel tidak lagi berfungsi sebagai ritual tolak bala, melainkan sebagai ikon kota yang hiper-real. Inilah yang disebut Hegel sebagai kematian kedua: kematian makna, meskipun entitas fisiknya masih ada.

Baca juga : Lestari Moerdijat: Kesehatan Perempuan Menentukan Arah Masa Depan Bangsa

Dengan demikian, Betawi Masa Depan adalah proyeksi deterministik. Ia akan terjadi apabila relasi kuasa tidak berubah, yakni ketika kelompok Betawi tetap menjadi object of development tanpa kontrol atas ruang, bahasa, dan rantai nilai ekonominya. Ia hadir di Jakarta 5 abad, namun hanya sebagai artefak.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.