Dark/Light Mode

Betawi Masa Depan Dan Masa Depan Betawi

Sabtu, 9 Mei 2026 16:10 WIB
Usni Hasanudin, Dosen Budaya dan Perilaku Politik FISIP UMJ. Foto: UMJ
Usni Hasanudin, Dosen Budaya dan Perilaku Politik FISIP UMJ. Foto: UMJ

 Sebelumnya 
Berlawanan dengan itu, Masa Depan Betawi_ adalah konstruksi normatif yang berbasis pada cultural agency dan self-determination. Ia menuntut transformasi dari object menjadi subject of development, dari being-looked-at menjadi being-in-the-world dalam terminologi Heidegger.

Transformasi ini mensyaratkan tiga prasyarat struktural. Pertama, re-teritorialisasi melalui instrumen kebijakan. Ini berarti implementasi right to the city ala Lefebvre, di mana Perda Pemajuan Budaya dapat menetapkan Kawasan Cagar Budaya Betawi yang mengikat secara hukum.

Kebijakan afirmatif seperti PBB 0% untuk rumah adat, insentif IMB bagi sanggar, dan inclusionary zoning 20% ruang budaya pada setiap proyek properti menjadi mekanisme untuk mengembalikan kontrol atas space of places dari dominasi space of flows.

Kedua, revernacularization bahasa melalui language planning digital. Bahasa Betawi harus diintervensi sebagai high variety language yang memberi economic incentive.

Baca juga : Polri Mutasi 108 Pati dan Pamen, 9 Kapolda Berganti

Program Betawi Creator Hub, digitalisasi korpus bahasa, dan integrasi dalam industri game serta konten merupakan strategi untuk membalik language shift. Bahasa bertahan bukan karena dilestarikan, melainkan karena diproduksi ulang dalam ekosistem baru.

Ketiga, institusionalisasi IP economy. Merujuk pada teori modal Bourdieu, modal budaya Betawi harus dikonversi menjadi modal ekonomi. Silat Beksi dikembangkan sebagai sport tourism industry, arsitektur rumah kebaya sebagai prototype green vertical housing, dan musik gambang kromong sebagai world music commodity.

Pembentukan BUMD Jakarta Culture Industry dengan Betawi sebagai core intellectual property adalah jalan untuk mengubah posisi dari sub-kontraktor event menjadi pemilik industri.

Secara filosofis, Masa Depan Betawi adalah manifestasi being-for-itself. Ia adalah Dasein yang melemparkan diri ke masa depan, Entwurf. Tradisi tidak dimuseumkan, tetapi mengalami Aufhebung Hegelian: dipertahankan sekaligus dilampaui.

Baca juga : Basket Di Akhir Pekan, Muda Dan Lansia

Nilai-nilai inti seperti komunalitas rumah kebaya, adab palang pintu, dan kelakar lenong ditarik sebagai prinsip etis untuk menavigasi modernitas. Palang pintu tidak lagi sekadar tradisi pernikahan, melainkan filosofi pembangunan: bahwa setiap kemajuan harus melewati pintu etika dan keberadaban.

Ini adalah eksistensi otentik. Betawi tidak menolak menjadi global, tetapi ia menentukan syarat keglobalannya. Ia tidak menjadi objek tatapan, melainkan subyek yang menatap dan membentuk dunianya.

Dialektika Betawi Masa Depan dan Masa Depan Betawi adalah pertarungan antara determinisme struktural dan agensi eksistensial. Yang pertama adalah takdir yang akan terjadi jika kelompok Betawi tetap berada dalam posisi subaltern politik-ekonomi. Yang kedua adalah ikhtiar yang hanya mungkin jika terjadi rekonfigurasi kuasa atas ruang, bahasa, dan ekonomi.

Dalam ilmu sosial, identitas yang tidak mampu mengontrol ruang dan alat produksinya akan menjadi folklor. Pertanyaannya, apakah Betawi ada di dalamnya sebagai arsitek, atau sekadar artefak? Jawaban itu tidak ditentukan oleh sejarah. Ia ditentukan oleh pilihan dan kemauan politik kita hari ini.

Baca juga : Lestari Moerdijat: Kesehatan Perempuan Menentukan Arah Masa Depan Bangsa

Penulis adalah Usni Hasanudin, Dosen Budaya dan Perilaku Politik FISIP UMJ

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.