Dark/Light Mode

Idul Adha: Makna Taat Asas dalam Spirit Pengorbanan

Rabu, 27 Mei 2026 19:48 WIB
Ilustrasi perayaan Idul Adha (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi perayaan Idul Adha (Gambar dibuat dengan AI)

Hari Raya Idul Adha bukan hanya momentum penyembelihan hewan kurban, tetapi menjadi pengingat manusia untuk mematuhi perintah Allah SWT yang berlandaskan keimanan dan ketakwaaan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah memberikan keteladanan bagi manusia tentang taat asas dengan penuh keikhlasan, rela mengorbankan jiwa raga untuk mematuhi perintah Tuhannya. Tentu ketaatan itu bukan lahir begitu saja, sebagai manusia juga mengalami pergulatan batin dan pengorbanan yang berat. 

Seorang ayah mana yang rela mengorbankan anak yang dicintainya, dan seorang anak mana yang rela dan ikhlas dirinya dijadikan korban oleh ayahnya. Tetapi karena keduanya yakin perintah Tuhannya, maka keihklasan dan kerelaan menjadi jalan kebenaran dalam menggapai ridha Allah SWT. 

Dalam Al-Qur'an dijelaskan, Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih putranya, dan perintah itu disampaikan kepada Ismail, kemudian keduanya menunjukkan kepatuhan yang luar biasa dan peristiwa ini tidak bisa menggunakan parameter logika manusia pada umumnya. Ini bukan ketaatan biasa tetapi ketaatan teruntuk seorang Nabi pilihan.

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar” (Ash-Shaffat, ayat 102).

Baca juga : Idul Adha, KSPSI AGN Salurkan 25 Sapi dan 56 Kambing Kurban

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketaatan tidak hanya sekadar simbolik, tetapi perlu dibangun dengan keyakinan, dialog dan keikhlasan dalam menjalankannya. Bukti dari ketaatan keduanya yaitu Nabi Ibrahim tidak menunda perintah Tuhannya, sementara Nabi Ismail ikhlas dan rela menerima perintah dengan penuh keyakinan, tidak ada keraguan sedikitpun.

Oleh karena itu, di tengah kehidupan modern dan penuh tantangan zaman. Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi rujukan keteladanan dalam lintas zaman. Banyak orang yang mengiginkan hasil besar, tetapi tidak mampu menjaga prinsip dan taat asas yang berlaku. Padahal ketaatan membutuhkan pengorbanan dan konsistensi meskipun kerapkali harus melewati berbagai kesulitan hidup.

Taat Asas dalam Kehidupan Sosial

Makna taat asas dalam kehidupan sosial bisa diterapkan di lingkungan sekitar kita masing-masing. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) taat asas merupakan tidak berubah dari yang sudah ditetapkan atau bermakna konsisten. Dalam praktiknya, sikap dan perilaku kita tetap berpegang teguh pada peraturan yang sudah ditetapkan dan disepkati bersama, tidak mudah goyah oleh situasi dan kondisi apapun yang menguntungkan dirinya dan kelompoknya. Dalam konteks di masyaraakat, taat asas berarti sikap disiplin, patuh, amanah dan tidak menyalahgunakan keparcayaan demi kepentingan dan keuntungan pribadi dan golongannya.

Baca juga : Idul Adha, BSI Salurkan 24.053 Ekor Hewan Kurban

Sayang sekali, praktik kehidupan dalam berbangsa dan bernegara masih menunjukkan sikap yang sebaliknya. Ketaatan begitu mudah disuarakan, tetapi susah diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Bukti susahnya implementasi ketaatan yaitu masih banyaknya praktik korupsi, manipulasi, hingga mementingkan diri sendiri yang selalu berulang-ulang dari rezim ke rezim. Banyak yang ingin bangsa ini besar dan sejahtera tetapi enggan berkorban demi kepentingan rakyatnya. Padahal esensi pengorbanan merupakan kesiapan melawan ambisi pribadi demi kemaslahatan bersama.

Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan dan memberikan kekayaan yang melimpah ruah bagi negeri ini, tetapi karena ego, ambisi, dan keserakahan segelintir orang, maka kekayaan itu justru berubah menjadi ketimpangan dan penderitaaan bagi rakyat kecil. Tanah yang subur, ibarat tongkat kayu jadi tanaman, sumberdaya alam yang melimpah, batu bara, nikel, minyak bumi, laut dan kekayaan yang semestinya menjadi modal besar bagi kemamuran rakyat. Namun faktanya negeri ini masih bergulat dalam kemiskinan, ketimpangan, masalah sosial, kriminalitas, korupsi, manipulasi yang berdampak pada sulitnya akses bagi rakyat kecil untuk hidup layak. 

Idul Adha Momentum Perbaikan Diri

Idul Adha harus menjadi refleksi perbaikan diri untuk bangsa ini. Nabi Ibrahin dan Nabi Ismail telah memberikan keteladanan bagi umat manusia untuk menjalankan kepatuhan dan keikhlasan sesuai dengan perintah Tuhannya. Oleh karena itu, ada kalanya manusia harus mengorbankan kemalasan demi produktivitas, mengorbankan egonya demi persatuan, dan mengorbankan kepentingan pribadi demi keadilan sosial. 

Baca juga : Idul Adha Jadi Momentum Tingkatkan Kesadaran Keamanan Siber

Spirit Idul Adha mengajarkan kepada kita semua bahwa keberhasilan hidup tidak bisa meninggalkan prinsip dan kepatuhan dalam menjalakan asas yang berlaku. Orang yang bisa menjalankan amanah, prinsip dan konsistensi akan memperoleh jalan kemuliaan, sebaliknya orang yang hanya mengejar keuntungan sesaat, pada akhirnya hidupnya akan sulit dan menyulitkan orang lain. Oleh karena itu, Idul Adha bukan hanya sekadar rutinitas dan seremonial hari raya tahunan, tetapi mengajarkan kepada kita semua bahwa manusia harus dalam berada di jalan kebenaran.

Taatlah sesuai dengan porsinya masing-masing; petani taat pada kerja dan kejujuran mengelola hasil bumi, politisi taat pada amanah dan kepentingan rakyat, pedagang taat pada kejujuran dalam berniaga, birokrat taat pada aturan dan pelayanan publik, pemimpin taat pada keadilan dan tanggung jawabnya, karena dari taat itulah akan lahir kemakmuran dan kesejahteraan sosial serta menjadi bangsa yang bermartabat. 

Pada akhirnya pengorbanan sejati untuk mereka yang ikhlas dan rela berkorban demi kemaslahatan bersama. Di sinilah Idul adha mengajarkan keimanan dan keikhlasan dalam spirit pengorbanan. Bangsa ini memiliki Pancasila, setiap sila memiliki keluhuran, nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial yang semestinya menjadi pedoman berbangsa dan bernegara, bukan hanya dijadikan simbol dan hafalan semata. Mari, perayaan Idul Adha 2026 kita jadikan sebagai jalan ketaatan demi kemaslahatan bersama. 

MUHAMAD ROSIT
MUHAMAD ROSIT
Dosen FIKOM Universitas Pancasila

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.