Dark/Light Mode

Dapat Ilmu Dan Premi 800 Ribu

Dari Lapas Ciangir, Warga Binaan Panen Harapan

Kamis, 9 Juli 2026 21:30 WIB
Bak keluarga, Kalapas Terbuka Ciangir, Soestanto Poedji Djatmiko berbagi cerita budidaya dengan seorang warga binaan. Foto: GO/RM.ID
Bak keluarga, Kalapas Terbuka Ciangir, Soestanto Poedji Djatmiko berbagi cerita budidaya dengan seorang warga binaan. Foto: GO/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Suara ayam petelur bersahut-sahutan memecah suasana pagi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2026). Kedatangan rombongan media yang didampingi jajaran Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik (Pusdatin) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) disambut pemandangan yang jauh dari kesan penjara pada umumnya.

Di balik pagar lapas, hamparan sawah membentang hijau. Kandang ayam petelur, sapi, kambing, domba, hingga kebun sayuran berdiri berdampingan, menjadi bukti bahwa Lapas Ciangir kini tak hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga pusat pembinaan kemandirian sekaligus lumbung ketahanan pangan.

Di atas lahan seluas sekitar 23 hektare, warga binaan diberdayakan untuk mengelola berbagai sektor produktif, mulai dari pertanian padi, jagung, cabai, dan sayuran hingga peternakan ayam petelur, ayam kampung, sapi, kambing, domba, serta bebek. Mereka dilibatkan sejak proses budidaya, pemeliharaan, hingga pengelolaan hasil panen yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pemasyarakatan, masyarakat sekitar, serta dipasarkan melalui berbagai mitra.

Program ini merupakan implementasi dari 15 Program Aksi Menteri Imipas Agus Andrianto yang mendorong optimalisasi sektor pertanian dan peternakan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus pembinaan warga binaan.

Salah satu yang merasakan manfaat program tersebut adalah Yusuf (26), warga binaan kasus pencurian. Setiap hari ia bertanggung jawab merawat ribuan ayam petelur, mulai dari memberi pakan, memantau kesehatan ayam, hingga memanen telur.

Dari pekerjaannya itu, Yusuf menerima premi sekitar Rp 800 ribu setiap bulan. Sebagian diberikan dalam bentuk kebutuhan harian, seperti kopi dan uang jajan, sedangkan sisanya ditabung sebagai bekal setelah bebas nanti.

Baca juga : Kapolri Paparkan Capaian Polri di Bidang Ketahanan Pangan Nasional

"Kalau premi saya sebulan itu Rp 800 ribu. Dapat jatah kopi setiap hari, kadang juga uang jajan, dan sisanya saya tabung buat bekal pulang," ujar Yusuf.

Namun, menurutnya, nilai terbesar bukanlah premi yang diterima, melainkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti pembinaan.

"Selama saya di sini banyak hal positif yang saya pelajari. Saya jadi tahu cara memelihara ayam, mengenali ciri-ciri ayam yang sakit, dan bagaimana merawatnya," katanya.

Ilmu tersebut ingin ia manfaatkan ketika kembali ke masyarakat.

"Harapan saya, nanti setelah pulang bisa mengembangkan apa yang saya pelajari di sini dan menerapkannya di kampung," tuturnya.

Semangat serupa juga dimiliki Mukriji, warga binaan kasus penyalahgunaan narkotika. Di Lapas Ciangir, ia dipercaya mengelola peternakan domba dan memperoleh premi dengan mekanisme yang sama seperti Yusuf.

Baca juga : Golkar Kalsel Matangkan Persiapan Pemilu 2029

Selama menjalani pembinaan, Mukriji belajar berbagai keterampilan peternakan, mulai dari pemberian pakan hingga penanganan hewan yang sakit.

"Di sini saya belajar bagaimana mengobati kambing kalau sakit dan cara memberi makannya dengan benar," ujarnya.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi modal untuk membangun usaha peternakan setelah kembali ke rumahnya di Tangerang.

"Saya ingin mengembangkan peternakan di rumah. Penginnya beternak sendiri," katanya.

Sementara itu, Kepala Lapas Terbuka Kelas IIB Ciangir, Soestanto Poedji Djatmiko, mengatakan hasil pembinaan yang dilakukan tidak hanya membentuk keterampilan warga binaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan.

Saat ini, produksi telur ayam petelur di Lapas Ciangir mencapai sekitar 860 kilogram per hari. Hasil produksi tersebut dipasarkan ke Jakarta dan wilayah sekitarnya, termasuk memasok kebutuhan sejumlah hotel dengan harga mengikuti mekanisme pasar.

Baca juga : Menteri Imipas Tinjau Bedah Rumah Karya Warga Binaan Warungkiara

Menurut Soestanto, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dinas-dinas terkait yang mendukung pengembangan sektor pertanian dan peternakan di Lapas Ciangir.

"Lapas Ciangir merupakan lapas terbuka yang berbeda dengan lapas pada umumnya. Kami membangun pembinaan dengan pendekatan yang humanis. Warga binaan kami anggap sebagai keluarga, sehingga petugas juga dituntut responsif dalam membimbing dan mendampingi mereka," terangnya.

Kisah Yusuf dan Mukriji menjadi gambaran transformasi konsep pemasyarakatan yang kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada masa hukuman, melainkan mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan, kepercayaan diri, dan peluang ekonomi ketika kembali ke masyarakat.

Di balik hamparan sawah, kandang ternak, dan ribuan ayam petelur yang setiap hari menghasilkan ratusan kilogram telur, Lapas Terbuka Ciangir membuktikan bahwa pembinaan yang tepat bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menumbuhkan harapan serta membuka kesempatan kedua bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif setelah bebas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.