Dark/Light Mode

Batal Ngebom Iran,Trump Takut?

Minggu, 23 Juni 2019 06:19 WIB
Donald Trump (Foto: Istimewa)
Donald Trump (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden AS Donald Trump batal ngebom Iran. Padahal, dia sebelumnya koar-koar mau ratakan Negeri Para Mullah itu gara-gara berani tembak drone milik AS. Trump dipuji lawan yang selama ini mengkritiknya, Nancy Pelosi. Ketua DPR dari Demokrat.

"Saya tidak mencari perang. Dan jika ada, itu akan lenyap seperti yang belum pernah Anda lihat sebelumnya. Tapi saya tidak ingin melakukan itu," ngeles Trump dilansir NBC News, Jumat (21/6) malam.

Sebelumnya, sebuah rudal Iran menghancurkan pesawat tanpa awak alias drone Global Hawk AS pada Kamis (20/06). Teheran menyatakan pesawat itu ditembak jatuh di atas wilayahnya. Washington mengatakan itu terjadi di atas wilayah udara internasional di atas Selat Hormuz. Selat yang belakangan ini memanas.

Menurut Trump,  jika pesawat lepas landas, maka sudah tidak ada kemungkinan untuk membatalkannya. Jika pengeboman tetap dilanjutkan ada 150 orang yang bakal jadi korban. 

Baca juga : Habis Nyoblos, Liburan Tiba

"Saya berpikir sebentar. Mereka menembak jatuh pesawat tak berawak. Dan di sini kita duduk bersama, 150 orang mati yang mungkin akan terjadi dalam waktu setengah jam setelah saya persilakan serangan. Dan saya tidak menyukainya. Saya tidak berpikir, saya tidak berpikir itu proporsional," ungkap Trump.

Diakun Twitternya, Trump juga berkicau tidak mau terburu-buru menyerang Iran. Dia lebih senang menerapkan sanksi ekonomi ke Iran. Sanksi ekonomi yang dikenakan selama ini sudah membuat Iran menderita.  

"Sepuluh menit sebelum serangan, saya menghentikannya, tidak sebanding dengan menembak jatuh pesawat tanpa awak. Saya tidak terburu-buru, militer kita dibangun kembali, baru, dan siap untuk pergi, sejauh ini yang terbaik di dunia," kicau Trump. 

Padahal, saat itu pejabat Senior Administrasi Trump menyebut, penasihat keamanan nasional Gedung Putih John Bolton, Sekretaris Negara Mike Pompeo, dan Direktur CIA Gina Haspel mendukung serangan balasan. "Ada suara bulat penuh di antara penasihat presiden dan DOD (Departemen Pertahanan) untuk Iran. Presiden membuat keputusan akhir," kata pejabat ini. 

Baca juga : Batalkan Sanksi, Trump : Korut Sudah Menderita

Keputusan Trump dipuji politisi senior Demokrat. "Serangan dengan jumlah kerusakan kolateral itu akan sangat provokatif, dan saya senang presiden tidak mengambil itu," kata Ketua DPR Nancy Pelosi.  

Sedangkan Michael Makovsky, eks pejabat Pentagon yang mengepalai Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika, sebuah lembaga kajian yang mendukung hubungan keamanan AS-Israel, menilai, tindakan Trump merusak kredibilitas AS. "Trump telah memberi kesan dia kehilangan keberanian," kata Makovsky.

Trump juga dinilai ragu dan takut ketika membuat keputusan ini saat rapat soal pembatalan serangan ini di Situation Room. Sejumlah anggota parlemen di ruangan ini menilai Trump ragu, padahal ia panglima tertinggi AS. 

"Trump mendengar berbagai perspektif dan argumen yang dilontarkan oleh para anggota parlemen yang berkumpul," kata Ketua Hubungan Luar Negeri Senat James Risch dikutip dari CNN.

Baca juga : Pertemuan Kim Dan Trump Tanpa Hasil

Sementara itu, Komandan Garda Revolusi Iran mengatakan, penembakan drone AS itu mengirim "pesan yang jelas" kepada negara adidaya ini. "Kami tak memiliki niat untuk berperang dengan negara mana pun, tetapi kami sepenuhnya siap untuk perang," kata Jenderal Hossein Salami. 

Insiden drone ini semakin memperburuk situasi di tengah kekhawatiran perang terbuka antara Iran dan AS bersama sekutu-sekutunya. Imbasnya, harga minyak berangsur naik lebih dari satu persen di atas 65 per dolar AS barel pada Jumat merespon kemungkinan gangguan pada ekspor minyak mentah dari wilayah Teluk ini.

Tak lama setelah dronenya jatuh, pesawat-pesawat militer AS sudah siap dalam waktu setengah jam menuju wilayah Iran. Penasihat militer senior siaga dan siap mengeksekusi rencana meluncurkan serangan terhadap tiga situs di Iran. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.